Rajin Diversifikasi, United Tractors (UNTR) Menuai Laba Tinggi

Kamis, 25 April 2019 | 11:07 WIB
Rajin Diversifikasi, United Tractors (UNTR) Menuai Laba Tinggi
[]
Reporter: Narita Indrastiti | Editor: Narita Indrastiti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Volatilitas harga batubara membuat beberapa emiten yang bergerak di sektor ini melakukan diversifikasi bisnis. PT United Tractors Tbk (UNTR) pun semakin rajin memperluas portofolio bisnisnya ke sektor non-thermal. 

Setelah tahun lalu sukses mengakuisisi PT Agincourt Resources, pemilik tambang emas Martabe di Sumatera Utara, UNTR kembali menyiapkan agenda akuisisi. Meski belum menjelaskan secara spesifik, manajemen UNTR mengaku membuka opsi untuk kembali mengakuisisi tambang emas. Tak menutup kemungkinan pula perusahaan melirik tambang batubara kokas (coking coal) dan batubara thermal berkalori tinggi. 

Tahun ini pun, UNTR menyiapkan belanja modal cukup besar, mencapai US$ 800 juta atau sekitar Rp 11,28 triliun. Namun, angka ini belum termasuk anggaran untuk akuisisi.

Sara K. Loebis, Sekretaris Perusahaan UNTR mengatakan, sekitar 80% capital expenditure (capex) itu digunakan untuk pembelian dan pembaharuan alat berat di sektor kontraktor penambangan. Sisanya untuk perawatan fasilitas di lini  bisnis distribusi alat berat dan tambang. "Rencana akuisisi belum spesifik, jadi belum ada bajet khusus untuk ini," ujar Sara kepada KONTAN, Rabu (24/4). 

Meski demikian, ia mengakui bahwa akuisisi merupakan langkah pengembangan bisnis perusahaan. Robertus Yanuar Hardy, Kepala Riset Reliance Sekuritas Indonesia mengatakan, rencana akuisisi ini bakal membuat prospek UNTR positif. "Diversifikasi ke tambang emas atau mineral sangat positif untuk perusahaan," ujar dia. 

Apalagi, tahun ini, UNTR memprediksi penjualan alat berat bakal turun karena harga batubara masih melemah. UNTR hanya menargetkan penjualan alat berat sebanyak 4.100 unit pada tahun ini, lebih rendah dari realisasi tahun 2018 sebanyak 4.879 unit. 

Target UNTR di tahun ini memang konservatif. Sebagai perbandingan, sepanjang tahun 2018 lalu, UNTR berhasil membukukan laba bersih tertinggi sepanjang sejarah. Ini membuat UNTR mempertahankan posisi sebagai pemimpin pasar distribusi alat berat dan kontraktor penambangan. Laba bersih UNTR meningkat 50% dari Rp 7,4 triliun pada tahun 2017 menjadi Rp11,1 triliun. Sementara itu, pendapatan bersih mendaki dari Rp 64,6 triliun pada tahun 2017 menjadi Rp 84,6 triliun. 

Inav Haria Chandra, Analis OCBC Sekuritas mengatakan, laba bersih ini lebih tinggi dari ekspektasi. Ini karena seluruh lini bisnis perusahaan mencetak kenaikan pendapatan, terutama di segmen alat berat yang penjualannya melebihi target perusahaan. "Penjualan alat berat Komatsu banyak didorong oleh sektor pertambangan, pertanian dan kehutanan," ujarnya dalam riset 20 Maret 2019.

Kinerja kuartal I

Diversifikasi UNTR ke bisnis tambang emas sudah terlihat hasilnya dalam kinerja kuartal I 2019. Tambang emas Martabe menghasilkan penjualan sebanyak 97.000 ons per Maret 2019. Sehingga, pendapatan bersih dari unit usaha tambang emas mencapai Rp 1,9 triliun.

Dalam tiga bulan pertama tahun ini, pendapatan bersih UNTR mencapai Rp 22,6 triliun atau naik 19% dibandingkan Rp19 triliun pada kuartal pertama tahun lalu. Lalu, laba bersih hingga Maret 2019 mencapai Rp 3,1 triliun atau naik 21% year on year (yoy). 

Pertumbuhan laba bersih tersebut didorong oleh kinerja yang lebih baik dari lini bisnis kontraktor penambangan dan adanya kontribusi baru dari bisnis pertambangan emas. Masing-masing unit usaha, yaitu mesin konstruksi, kontraktor penambangan, pertambangan batubara, pertambangan emas dan konstruksi secara berturut-turut berkontribusi sebesar 30%, 42%, 16%, 8% dan 4% terhadap total pendapatan bersih UNTR.

Segmen usaha mesin konstruksi mencatat peningkatan penjualan alat berat Komatsu sebesar 1% menjadi 1.181 unit, dibandingkan dengan 1.171 unit pada triwulan pertama tahun 2018. 

Ryan Daniel, Analis Deutsche Verdhana Sekuritas Indonesia dalam riset 17 April 2019 mengatakan, meski cenderung flat, realisasi penjualan alat berat di kuartal I ini masih sejalan dengan ekspektasi. Ia memperkirakan, UNTR akan membukukan penjualan 4.100 unit alat berat sampai akhir tahun. 

Sepanjang tahun ini, saham UNTR baru naik 1,28%. Sedangkan dalam setahun terakhir, saham UNTR justru turun 15,37%. Namun, para analis menilai, prospek UNTR menarik, sehingga layak dibeli. 

Menurut Inav, meski harga batubara yang lebih rendah memang akan membayangi kinerja UNTR di tahun ini, tapi, perusahaan akan mendapat keuntungan dari diversifikasinya ke tambang emas. Ia pun merekomendasikan beli saham UNTR dengan memasang target harga Rp 32.000 per saham. Harga ini berdasarkan price to earning ratio (PER) 2019 10 kali. Robertus juga merekomendasikan beli dengan target harga Rp 32.000 per saham. 

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

ESG Chandra Asri (TPIA): Meninggalkan Jejak Hijau Gaya Hidup Berkelanjutan
| Senin, 09 Maret 2026 | 11:01 WIB

ESG Chandra Asri (TPIA): Meninggalkan Jejak Hijau Gaya Hidup Berkelanjutan

PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menyiapkan langkah keberlanjutan. Bukan hanya dengan strategi besar korporasi, tetapi juga l

Lonjakan Harga Komoditas dan Kebijakan Angkutan Batubara Bikin Saham RMKE Memesona
| Senin, 09 Maret 2026 | 09:15 WIB

Lonjakan Harga Komoditas dan Kebijakan Angkutan Batubara Bikin Saham RMKE Memesona

Aturan larangan truk angkutan batubara melintasi jalan umum milik provinsi menjadi katalis positif bagi RMKE.

Menakar Potensi Rebound Saham BBCA di Tengah Gencarnya Aksi Jual Investor Asing
| Senin, 09 Maret 2026 | 08:00 WIB

Menakar Potensi Rebound Saham BBCA di Tengah Gencarnya Aksi Jual Investor Asing

Sejumlah investor asing institusi menerapkan strategi averaging down seiring koreksi harga saham BBCA.

Free Float 15% dan Disclosure 1% Menjawab MSCI?
| Senin, 09 Maret 2026 | 07:46 WIB

Free Float 15% dan Disclosure 1% Menjawab MSCI?

Menjadikan batasan free float sebagai target tunggal berisiko membawa investor ke fetisisme angka.​ 

Pendapatan dan Laba Bersih Bumi Serpong Damai (BSDE) Kompak Turun Pada 2025
| Senin, 09 Maret 2026 | 07:37 WIB

Pendapatan dan Laba Bersih Bumi Serpong Damai (BSDE) Kompak Turun Pada 2025

Seiring turunnya pendapatan, laba bersih PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE)  ikut tergerus 41,6% secara tahunan menjadi Rp 2,54 triliun di 2025

Beban Pendapatan Membengkak Laba Bersih PGAS Terpangkas
| Senin, 09 Maret 2026 | 07:32 WIB

Beban Pendapatan Membengkak Laba Bersih PGAS Terpangkas

Laba bersih PGAS anjlok 36,54% (YoY) ke US$ 215,4 juta pada 2025, seiring beban pokok pendapatan bengkak 10% (YoY) jadi US$ 3,3 miliar pada 2025. 

Harga Nikel Anjlok, Saham Emiten Jeblok
| Senin, 09 Maret 2026 | 07:27 WIB

Harga Nikel Anjlok, Saham Emiten Jeblok

Seiring loyonya harga komoditas di pasar global, mayoritas harga saham emiten nikel di Bursa Efek Indonesia (BEI) ikut terkoreksi​.

Harga Minyak Dunia Melonjak, Margin Emiten Consumer Staples Berisiko Tergerus
| Senin, 09 Maret 2026 | 07:25 WIB

Harga Minyak Dunia Melonjak, Margin Emiten Consumer Staples Berisiko Tergerus

Lonjakan harga minyak dunia berdampak secara langsung dan tidak langsung terhadap emiten sektor barang konsumsi.

Implikasi Aturan Pungutan Ekspor Sawit
| Senin, 09 Maret 2026 | 07:21 WIB

Implikasi Aturan Pungutan Ekspor Sawit

Kebijakan ini mencerminkan upaya pemerintah memperkuat sumber pendanaan sektor kelapa sawit sekaligus menjaga keberlanjutan program strategis

Isi Portofolio Tersangkut di Papan Pemantauan Khusus
| Senin, 09 Maret 2026 | 05:59 WIB

Isi Portofolio Tersangkut di Papan Pemantauan Khusus

Dari total 33 saham yang digenggam Asabri merujuk ke data KSEI, 20 saham atau sekitar 2/3 diantaranya menghuni Papan Pemantauan Khusus (PPK).

INDEKS BERITA

Terpopuler