Reksadana Saham Terseret Pasar Loyo

Kamis, 06 Februari 2020 | 09:00 WIB
Reksadana Saham Terseret Pasar Loyo
[ILUSTRASI. Reksadana saham. KONTAN/Baihaki/07/03/2017]
Reporter: Sumber: Tabloid Kontan | Editor: Dupla Kartini

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Investor reksadana saham harus bersabar untuk meraih cuan. Pada Januari tahun ini, performa semua produk reksadana berbasis saham di dalam negeri, kompak layu. Dus, rata-rata imbal hasil reksadana saham yang tercermin pada Infovesta 90 Equity Fund Index minus 7,12%.

Kinerjanya menjadi yang terburuk di antara jenis reksadana lainnya. Imbal hasil memble seirama dengan pasar saham yang jeblok. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang Januari rontok 5,71%.

Agus B. Yanuar, Presiden Direktur PT Samuel Aset Manajemen menyebut, penurunan kinerja dipengaruhi aksi penjualan saham-saham yang menjadi aset dasar dari reksadana yang dilikuidasi.

Di samping itu, likuiditas pasar memang rendah, karena investor menunggu perkembangan pasar di tengah berbagai sentimen negatif. Pengaruh negatif virus korona terhadap laju ekonomi mulai terasa. "Investor menanti kabar berapa lama epidemi virus korona bisa ditanggulangi dan seperti apa dampak kuantitatifnya terhadap ekonomi," tutur Agus.

Selain efek korona, pasar saham juga tertekan aksi profit taking. Menurut Rudiyanto, Direktur PT Panin Asset Management, indeks yang sempat mencapai 6.300, mendorong investor merealisasikan cuan.

Ungguli indeks

Kendati loyo, sejumlah produk reksadana saham membukukan penurunan kinerja lebih mungil ketimbang IHSG yang minus 5,71%. Salah satunya, Sucorinvest Maxi Fund dengan return minus 2,04%. Jika ditilik performa historis, produk besutan PT Sucor Asset Management ini masih apik. Dalam setahun terakhir menghasilkan return 2,47% meski pasar lesu.

Produk lain, HPAM Saham Dinamis mencatatkan imbal hasil minus 3,29% per Januari lalu. Tapi, dalam tiga tahun terakhir, masih menorehkan return positif sebesar 15,83%.

Lain lagi, Millenium Equity Prima Plus. Kinerja Januari lalu boleh jadi paling unggul, yakni hanya minus 1,98%. Tapi, Infovesta Utama mencatat, setahun terakhir, kinerjanya sudah terpangkas hingga 81%.

Betul, kinerja historis, bukan jaminan reksadana akan berkinerja serupa ke depan. Namun, bisa jadi pertimbangan. Yang jelas, investor perlu mencermati racikan portofolio agar bisa menimbang potensi cuan dan risiko.

Menurut Direktur Utama Sucor Asset Management Jemmy Paul Wawointana, portofolio Sucorinvest Maxi Fund mayoritas berupa saham mid and small cap. Makanya, kinerjanya tidak sama dengan penurunan IHSG dan indeks LQ45.

Menilik fund fact sheet Desember 2019, alokasi efek terbesarnya berupa ADHI, ANTM, BISI, HOKI dan MYOH. Sucor AM menerapkan strategi investasi pada saham kapitalisasi kecil-menengah yang punya pertumbuhan bisnis baik. Saham lapis kedua dan ketiga memang berpotensi menghasilkan return gemuk. Tapi, risiko penurunan juga besar. Maka, pemilihan sahamnya harus jitu.

Sedangkan, Henan Putihrai Asset Management (HPAM) menerapkan pola racikan senada di mayoritas reksadana sahamnya. Head of Business Development Division HPAM, Reza Fahmi bilang, portofolio utama didominasi saham TPIA BRPT AKRA BBCA dan BBRI untuk alpha stock.

Hanya saja, porsi beta stock bisa berbeda. Yang jelas dalam pemilihan saham, HPAM menimbang valuasi dan tingkat volatilitas terhadap indeks. Fundamental pasti dipertimbangkan. "Apakah sektor industrinya dilihat dari outlook ekonomi dan politik domestik hingga global dalam jangka pendek, menengah dan panjang, akan bisa memberikan imbal hasil positif," papar Reza.

Belanja saham murah

Sejumlah manajer investasi mengakui mulai mengakumulasi saham belakangan ini. Wajar, dengan menadah saham bervaluasi murah diharapkan kinerja produk reksadana ke depan bisa maksimal. "Iya, kami mulai mencari saham yang valuasinya murah," tutur Jemmy.

Menurut Reza, HPAM menggunakan value investing, bukan trading. Maka, ketika sebuah saham dinilai cukup murah, akan dikoleksi. Apalagi, secara historis, strategi ini tepat dilakukan untuk jangka panjang dan terbukti berhasil.

HPAM membidik saham-saham di sektor industri dasar, pertambangan, jasa dan perdagangan, keuangan dan infrastruktur. Sebab, kata Reza, sektor itulah yang diyakini berprospek bagus pada 2020.

Meski rajin mengevaluasi portofolio terutama saat pasar fluktuatif, toh, HPAM tidak otomatis mengubah isi racikan. Perubahan racikan tergantung view isi portofolio. Selama fundamental dan prospek emiten masih bagus, tidak diganti.

Saat ini, pergerakan pasar masih dibayangi sentimen negatif epidemi korona dan kecemasan terhadap perekonomian global. Meski begitu, Reza melihat peluang reksadana saham rebound, sebab secara historis, ketika isu virus mereda, indeks berpotensi bullish, mengingat fase satu kesepakatan dagang dan Brexit. Yang jelas, dengan mengandalkan sektor-sektor tersebut, dia melihat peluang reksadana saham menghasilkan return 6%-14%.

Rudiyanto menilai, secara umum semua sektor sudah murah. Kata dia, selain sektor keuangan, properti, dan konsumsi, Panin AM juga meminati beberapa saham di sektor pertambangan yang undervalued. Akumulasi dilakukan pada saham big cap hingga small-mid cap. Sebab, Panin punya produk yang dikelola secara aktif sehingga mengkombinasi small, mid and small caps

Tahun ini, kata Rudiyanto, ada peluang pasar pulih. Pertimbangannya, IHSG sudah stagnan selama beberapa tahun terakhir, sementara laba bersih perusahaan terus naik. Jadi, valuasi semakin murah. Dengan berkurangnya tekanan negatif dari perang dagang, serta era suku bunga rendah, diharapkan IHSG bisa berkinerja positif. "Maka, return reksadana saham diharapkan bisa di atas 10% pada 2020," proyeksi dia.

Agus menimpali, koreksi pasar karena epidemi virus secara historis berlangsung sebulan. Jika sejarah berulang, diharapkan akhir Februari pasar mulai membaik. Apalagi, dari analisis fundamental, pertumbuhan laba bersih per saham emiten diharapkan sekitar 8%-10%.

Dus, Agus mengira indeks tahun ini bisa tumbuh ke level 6.800-7.000, sehingga imbal hasil reksadana saham berpeluang di rentang 8%-12%.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan

Berita Terbaru

Negara Bisa Pakai Aset Debitur Nunggak
| Senin, 27 April 2026 | 14:48 WIB

Negara Bisa Pakai Aset Debitur Nunggak

Pemerintah resmi mengubah pendekatan dalam pengelolaan piutang negara melalui terbitnya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 23 Tahun 2026

Pajak Si Super Kaya Bisa Tambal Defisit APBN
| Senin, 27 April 2026 | 14:25 WIB

Pajak Si Super Kaya Bisa Tambal Defisit APBN

Berdasarkan laporan Celios, nilai kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia melampai APBN              

Efek Perang Permintaan PLTS Melonjak, Ekspor Panel Surya Cina Capai Rekor Tertinggi
| Senin, 27 April 2026 | 10:00 WIB

Efek Perang Permintaan PLTS Melonjak, Ekspor Panel Surya Cina Capai Rekor Tertinggi

Skala program ini membuka peluang industri nyata, yakni manufaktur panel surya domestik, penciptaan lapangan kerja, dan transfer teknologi hijau.

Sideways Sepanjang April 2026, Ke Mana Arah Harga Emas?
| Senin, 27 April 2026 | 09:00 WIB

Sideways Sepanjang April 2026, Ke Mana Arah Harga Emas?

Pembukaan Selat Hormuz jadi kunci penting, jika harga minyak stabil di bawah US$ 80 per barel, maka harga emas bisa terangkat lagi.

Badai Krismon Tahun 1998 Pasti Kembali?
| Senin, 27 April 2026 | 08:42 WIB

Badai Krismon Tahun 1998 Pasti Kembali?

Badai krisis bisa kembali! Pelajaran dari 1998 sangat penting. Pemerintah harus bertindak cepat. Cari tahu langkah krusialnya.

Saham Japfa Comfeed Indonesia (JPFA) Masih Menarik Berkat MBG
| Senin, 27 April 2026 | 08:00 WIB

Saham Japfa Comfeed Indonesia (JPFA) Masih Menarik Berkat MBG

Implementasi program MBG masih menopang kinerja JPFA, program ini menambah konsumsi ayam nasional secara signifikan di 2026.

Menyisir Tekanan Jual di Balik Mitos Sell in May
| Senin, 27 April 2026 | 07:41 WIB

Menyisir Tekanan Jual di Balik Mitos Sell in May

Bursa saham Indonesia tertatih-tatih berjalan. Apakah fenomena Sell in May berpeluang memperparah IHSG?

Prospek  Tahun 2026, Saat Harga Emas Stabil, HRTA Tetap Optimistis
| Senin, 27 April 2026 | 07:22 WIB

Prospek Tahun 2026, Saat Harga Emas Stabil, HRTA Tetap Optimistis

PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) mencetak laba fantastis 2025. Prediksi pertumbuhan 2026 tidak lagi tiga digit, simak proyeksi terbarunya!

IHSG Anjlok, Net Sell Hampir Rp 3 T, Rupiah Ambruk, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Senin, 27 April 2026 | 06:57 WIB

IHSG Anjlok, Net Sell Hampir Rp 3 T, Rupiah Ambruk, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Badai menerjang IHSG, investor asing lepas saham besar-besaran. Jangan sampai salah langkah, pahami risikonya sebelum Anda bertindak.

Daya Beli Loyo, Kredit Konsumer Semakin Lesu
| Senin, 27 April 2026 | 06:55 WIB

Daya Beli Loyo, Kredit Konsumer Semakin Lesu

​Kredit konsumer perbankan melambat seiring daya beli masyarakat melemah, mendorong bank semakin ketat menyalurkan pembiayaan.

INDEKS BERITA

Terpopuler