Reshuffle Lagi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Memasuki Bulan Oktober ini, di Hari Kesaktian Pancasila kita dikejutkan oleh gebrakan Pemerintahan Presiden Prabowo. Kalau pertengahan September lalu hanya Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa yang diganti, kali ini ada 18 pejabat dilantik menduduki jabatan di Kementerian dan Lembaga. Mereka dilantik baik untuk mengganti pejabat lama, maupun menduduki posisi dari lembaga baru.
Sampai saat ini pemerintah sudah membongkar pasang kabinet sekitar 7 kali, dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun. Tergolong bongkar pasang yang sangat sering. Beberapa pejabat bahkan hanya punya waktu beberapa bulan untuk duduk di jabatannya.
Bongkar pasang kali ini, menurut beberapa pengamat bisa disebut sebagai "de-Jokowisasi". Dari beberapa pejabat yang dicopot, seperti Listyo Sigit, Pratikno, dan Agus Gumiwang, dianggap sebagai manuver pemerintah membersihkan kabinet dari bayang-bayang Jokowi.
Pertanyaan besarnya, apakah kabinet baru ini bisa berjalan jauh lebih baik dari kabinet yang sebelumnya? Publik belakangan ini memang berharap ada reshuffle Kabinet Merah Putih, terbaca dari berbagai hasil survei. Tapi mereka sepertinya masih belum menanggapi reshuffle kali ini dengan euphoria.
Dari percakapan di berbagai media sosial, publik melihat perombakan ini masih jauh dari sistem meritokrasi. Bahkan ada juga netizen yang melihatnya sebagai upaya "tambal-sulam" dan bagi kursi semata.
Secara keseluruhan, masyarakat tidak menanggapi reshuffle ini dengan terlalu baik. Perombakan kabinet kali ini terkesan sirkulasi di para elite dan menjaga koalisi partai politik pendukung.
Respons di pasar modal pun cukup jelas. Walau dalam beberapa hari ini IHSG ini memang dalam kondisi tertekan, tapi IHSG sempat turun ke bawah 6.000. Batas psikologis indeks pasar saham yang pernah tertembus di Juni lalu gara-gara kebijakan ekspor satu pintu dan Rupiah yang tertekan.
Reshuffle kali ini mungkin tidak akan sekuat sentimen di Juni lalu untuk investor di pasar saham. Tapi perombakan yang memicu skeptis publik yang cukup masif, bisa saja memperburuk kondisi pasar saham dan terbangnya investor asing dalam waktu dekat.
Kita hanya berharap sistem demokrasi bisa kembali berjalan, kritik keras bukan dijawab dengan pemblokiran akun, tapi tanggapan yang lebih membangun. Jangan sampai jurang lebar ekspektasi dan realitas terlalu lebar untuk dijembatani lagi.
