Saham Pemilik Facebook Rontok, Indeks Sektor Teknologi Tertekan

Jumat, 04 Februari 2022 | 07:35 WIB
Saham Pemilik Facebook Rontok, Indeks Sektor Teknologi Tertekan
[ILUSTRASI. Ilustrasi logo Meta dan logo Facebook, 2 November 2021. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - NEW YORK/BENGALUR. Saham pemilik Facebook, Meta Platforms Inc, mencatat penurunan nilai pasar terbesarnya dalam satu hai setelah harganya anjlok 26% pada perdagangan Kami (4/2). Meta melemah setelah perusahaan itu mengumumkan proyeksi kinerja yang suram, mengeluhkan kebijakan privasi dalam sistim operasi perangkat Apple serta persaingan yang makin ketat.

Penurunan harga besar-besaran dalam sehari itu menghapus nilai kapitalisasi pasar Meta lebih dari US$ 200 miliar. Itu angka penurunan terbesar dalam sehari yang dialami perusahaan itu, sejak mencatatkan sahamnya di Wall Streert pada 2012. Dengan menggunakan data Refinitiv, Reuters menyebut kerugian tersebut juga merupakan yang terbesar yang pernah diderita emiten di bursa Amerika Serikat (AS).

Kerontokan harga menggerus nilai kekayaan bersih sang pendiri sekaligus CEO Mark Zuckerberg hingga US$ 29 miliar. Pelemahan Meta juga berdampak ke saham-saham sektor teknologi lain, hingga menekan indeks Nasdaq.

Baca Juga: Wall Street Tumbang, Kapitalisasi Facebook Anjlok US$ 200 Miliar

“Zuckerberg mungkin ingin membujuk dunia memasuki alternate reality. Namun hasil kuartal keempat yang mengecewakan dengan cepat memecahkan gelembung metaverse-nya," kata Laura Hoy, analis ekuitas di Hargreaves Lansdown.

Perusahaan-perusahaan besar yang berfokus pada teknologi AS berada di bawah tekanan yang meningkat pada tahun 2022 karena investor mengharapkan pengetatan kebijakan di Federal Reserve AS untuk mengikis penilaian industri yang kaya setelah negeri itu menjalani bunga rendah selama bertahun-tahun.

Nasdaq, yang didominasi oleh teknologi dan saham pertumbuhan lainnya, turun lebih dari 9% pada Januari, penurunan bulanan terburuk sejak jatuhnya pasar yang disebabkan oleh virus corona pada Maret 2020.

“Penurunan prospek pendapatan oleh Meta dan perusahaan lain mengejutkan pasar,” kata Kenneth Broux, ahli strategi di Societe Generale di London. "Aksi jual teknologi meluas ke pasar ekuitas yang lebih luas pagi ini dan dengan The Fed bersiap untuk menaikkan suku bunga, kita bisa melihat lebih banyak volatilitas ke depan," katanya.

 Baca Juga: Didukung Bisnis Android, Pendapatan Quacomm Melampaui Proyeksi Analis

Setelah pasar ditutup, platform media sosial Pinterest dan Snap memposting laporan triwulanan yang kuat yang membuat saham mereka masing-masing melonjak 17% dan 52%, melampaui kerugian yang mereka alami dalam perdagangan di hari sebelumnya. Laporan mereka juga mengirim Twitter naik 8%, dan membantu Meta naik 1%.

Meta adalah saham yang dipegang secara luas oleh berbagai kelompok investor, termasuk hedge fund, menurut data terakhir, meninggalkan sejumlah dana yang berpotensi terekspos oleh penghapusan sahamnya. Investor institusional lainnya juga merupakan pemilik berat. Saham itu juga populer bagi investor ritel, yang terlihat antusias membeli di saat harga merosot.

Beberapa manajer portofolio juga melihat alasan untuk membeli. David Jeffress, manajer portofolio di Laffer Tengler Investments, mengatakan pada hari Kamis bahwa perusahaan ingin menambah kepemilikannya di Meta karena penurunan saham. Jeffress menunjuk pada jumlah yang kuat atau meningkat yang dilaporkan Meta untuk keterlibatan pengguna, iklan, dan pendapatan per pengguna.

"Hasilnya, diambil secara keseluruhan, baik-baik saja. Itu adalah panduan yang membuat orang takut," kata Jeffress. Dia menyebut penurunan perdagangan sebagai "reaksi berlebihan." 

Penurunan saham itu juga merupakan keuntungan bagi investor yang bertaruh pada melemahnya saham perusahaan. Para short seller di saham Meta bersiap-siap  meningkatkan potensi keuntungan 2022 mereka menjadi lebih dari US$ 2 miliar dengan penurunan hari Kamis, menurut S3 Partners.

Valuasi yang menggelembung cepat dalam beberapa tahun terakhir mengakibatkan saham-saham big tech, seperti Apple dan Microsoft menjadi lebih rentan terhadap aksi jual investor. Saham-saham itu pun kerap mengakibatkan kerugian senilai puluhan miliar dolar dalam satu hari perdagangan. Apple merugi hampir US$ 180 miliar pada 3 September 2020, sementara Microsoft kehilangan US$ 177 miliar pada 16 Maret di tahun yang sama.

Meta melaporkan penurunan pengguna aktif harian dari kuartal sebelumnya untuk pertama kalinya karena persaingan yang makin ketat dengan aplikasi media sosial lain, seperti TikTok, platform berbagi video milik ByteDance China.

Baca Juga: Harga Emas Stabil di Sekitar US$ 1.800 Dalam Sepekan

Kekecewaan atas pendapatan Meta dan kejatuhan saham berikutnya membangkitkan ingatan akan gelembung teknologi yang meledak pada tahun 2000. Investor tampaknya menjadi sangat selektif setelah memecahkan rekor sektor ini dalam beberapa bulan terakhir.

Menurut firma riset Vanda, pembelian dari investor ritel pada akhir 2020 dan awal 2021 difokuskan pada teknologi mahal, EV, dan apa yang disebut saham "meme". Dalam seminggu terakhir, pembelian teknologi berkapitalisasi besar telah meroket sementara aset spekulatif hanya melihat sedikit permintaan.

Saham media sosial lainnya juga terpukul pada hari Kamis, termasuk Twitter, Pinterest dan Spotify. Spotify telah dilanda serangkaian kesalahan informasi vaksinasi COVID-19 dan juga merilis hasil yang mengecewakan.

Bagikan

Berita Terbaru

Gelombang Go Private dan Delisting Menguat, Imbas Aturan Free Float 15%?
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:08 WIB

Gelombang Go Private dan Delisting Menguat, Imbas Aturan Free Float 15%?

Prestise sebagai perusahaan tercatat masih bernilai, apalagi kalau ke depan masih butuh akses pasar modal untuk ekspansi.

Asing Masih Lepas ASII, Pemulihan Otomotif Belum Cukup
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 12:00 WIB

Asing Masih Lepas ASII, Pemulihan Otomotif Belum Cukup

Ketidakpastian hasil review MSCI serta transparansi tata kelola pasar modal menjadi faktor yang ikut mendorong arus net sell asingdari big caps.

Profitabilitas Emiten Cenderung Melandai dalam Dua Tahun Pemerintahan Prabowo
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 09:30 WIB

Profitabilitas Emiten Cenderung Melandai dalam Dua Tahun Pemerintahan Prabowo

Investor tampaknya lebih banyak mem-pricing risiko persepsi, ketidakpastian kebijakan pemerintah, dan persoalan kelembagaan.

Negara Kaji Pengecualian Pajak Bagi EGR
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:37 WIB

Negara Kaji Pengecualian Pajak Bagi EGR

Pembahasan mengenai perlakuan PPN dan PPh atas transaksi EGR telah dilakukan bersama Kementerian Keuangan

Mazda Hingga CoreWeave Disebut Antre Masuk Indonesia, Cermati BEST, DMAS, atau KIJA?
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:34 WIB

Mazda Hingga CoreWeave Disebut Antre Masuk Indonesia, Cermati BEST, DMAS, atau KIJA?

Peningkatan investasi asing tidak serta-merta bertranslasi ke kenaikan harga saham emiten kawasan industri.

Optimisme Terkikis, Konsumsi Makin Tipis
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:28 WIB

Optimisme Terkikis, Konsumsi Makin Tipis

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menurun selama tiga bulan berturut-turut                            

Ujian Independensi BI di Bawah Nahkoda Baru
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:11 WIB

Ujian Independensi BI di Bawah Nahkoda Baru

Destru Damayanti menjadi calon tunggal Gubernur Bank Indonesia menggantikan Perry Warjiyo           

 Digencet Depresiasi Rupiah Prospek Emiten Farmasi Masih bisa Cerah, KLBF atau SIDO?
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:03 WIB

Digencet Depresiasi Rupiah Prospek Emiten Farmasi Masih bisa Cerah, KLBF atau SIDO?

Sektor farmasi memiliki karakter defensif karena kebutuhan terhadap obat dan produk kesehatan bertahan di berbagai kondisi ekonomi.

Bursa Efek Indonesia Mengejar Pendalaman Pasar
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:42 WIB

Bursa Efek Indonesia Mengejar Pendalaman Pasar

Ekspansi pengembangan produk yang dilakukan Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap harus mampu menjawab kebutuhan investor

Penjualan Masih Kuat, Laba Bersih ULTJ Semester Pertama Melonjak 73,7%
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:38 WIB

Penjualan Masih Kuat, Laba Bersih ULTJ Semester Pertama Melonjak 73,7%

Penjualan  PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) mencapai Rp 5,49 triliun, naik 34,6% year-on-year (yoy)

INDEKS BERITA

Terpopuler