Saham Perkapalan Mengangkat Sauh, Cuma Gorengan atau Fundamental yang Mulai Berlayar?

Minggu, 21 Desember 2025 | 10:10 WIB
Saham Perkapalan Mengangkat Sauh, Cuma Gorengan atau Fundamental yang Mulai Berlayar?
[ILUSTRASI. Kapal kontainer PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) bersandar di pelabuhan. DOK/SMDR]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Arus dana investor tampak deras mengalir ke dermaga saham-saham perkapalan belakangan ini. Kendati pada penutupan perdagangan Jumat (19/12/2025) mayoritas terkoreksi akibat aksi ambil untung (profit taking), tren jangka panjang tahun ini menunjukkan sektor pelayaran sedang menggeliat.

Tengok saja data penutupan akhir pekan lalu. Saham PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI) terkoreksi 6,36% ke Rp 206 dan PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) turun 9,42% ke Rp 346. Hanya PT Logindo Samudramakmur Tbk (LEAD) yang masih bertenaga, melonjak 18,35% ke level Rp 129 per saham.

Namun, jika ditarik garis sejak awal tahun atau year to date (YtD), rapor ketiganya hijau royo-royo. HUMI menjadi juara dengan lonjakan fantastis 312,00% YtD. Diikuti LEAD yang naik 29,00% dan SMDR yang menguat 25,36%.

Apakah ini sekadar euforia sesaat? Head of Research PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi menampik anggapan tersebut.

Menurutnya, reli harga saham perkapalan didorong oleh kombinasi valuasi yang masih tertinggal (laggard) dan kenaikan tarif sewa kapal (charter rate).

Wafi menganalisis, investor mulai mencari alternatif di luar sektor yang sudah jenuh beli (overbought). Di saat yang sama, aktivitas perdagangan global membaik, sementara suplai kapal baru terbatas. Hukum ekonomi berlaku: harga sewa kapal pun terkerek naik.

"Saya melihat pergerakan harga saham emiten kapal ini bukan spekulasi, tetapi ada antisipasi perbaikan laba ke depannya," ujar Wafi kepada KONTAN, Jumat (19/12).

Baca Juga: Efek Program MBG ke Ekonomi Terbatas

Ia menegaskan, neraca keuangan emiten pelayaran saat ini jauh lebih sehat dibandingkan 5-10 tahun lalu, ditopang permintaan nyata dari sektor energi dan logistik.

"Memang ada unsur rotasi sektoral, tetapi fundamental earning yang solid akan membuat tren pergerakan ini lebih awet dibandingkan sekadar temporary bounce," tambah Wafi.

Senada, Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand mencermati adanya katalis ganda dari global dan domestik. Dari sisi global, indikator tarif angkutan laut atau Baltic Dry Index (BDI) melonjak sekitar 33,8% secara tahunan (year on year/YoY) pada November 2025.

Selain itu, konflik yang tak kunjung usai di Laut Merah memaksa kapal memutar jalur lebih jauh. Hal ini memperpanjang jarak tempuh pelayaran (ton-miles) sekitar 6%, yang secara otomatis menjaga tarif pengiriman tetap tinggi.

Di dalam negeri, realisasi investasi hilirisasi yang mencapai Rp 1.434,3 triliun hingga triwulan III-2025 menjadi jaminan muatan kargo.

"Kondisi ini menarik minat investor yang memburu aset berbasis riil dengan arus kas yang relatif dapat diprediksi," jelas Abida.

Baca Juga: Pasar Kripto Lesu Bikin Trader Banting Setir, Cash is King dan Saham Jadi Pelarian

Kinerja dan Strategi Bisnis Berbeda

Bukti perbaikan fundamental terpampang nyata dalam laporan keuangan. HUMI mencatatkan pertumbuhan pendapatan 5,27% menjadi US$ 96,48 juta pada kuartal III-2025.

Motor utamanya adalah lonjakan pendapatan sewa oil tanker yang terbang 161,56% menjadi US$ 30,55 juta. Segmen LNG tanker juga solid dengan kenaikan 21,78% menjadi US$ 28,11 juta.

Abida menilai HUMI memiliki prospek paling agresif berkat strategi ekspansinya.

"Target akuisisi 10 kapal pada 2025, didukung lonjakan pendapatan jasa sewa kapal LNG sebesar 21,78% dan tanker minyak hingga 188,04%, menempatkan HUMI pada jalur pertumbuhan yang solid untuk memanfaatkan peluang transisi energi," urai Abida.

Sementara itu, SMDR mencatatkan pertumbuhan pendapatan 8% yoy menjadi US$ 571,6 juta per September 2025, dengan EBITDA naik 12% menjadi US$ 147,8 juta.

Direktur Utama SMDR, Bani Mulia menyatakan realisasi ini melampaui proyeksi internal. Volume angkutan dan tarif ternyata tetap kuat, mematahkan prediksi penurunan sebelumnya.

"Dari kinerja per September yang lebih baik dari rencana awal, tentu kami sangat optimistis. Untuk sisa kuartal IV-2025, kami meyakini kinerja tahunan bisa lebih baik dan lebih tinggi dari tahun sebelumnya," papar Bani.

Baca Juga: Strategi Mengail Cuan Saham Menjelang Tutup Tahun

Sedikit berbeda, kinerja pendapatan LEAD masih terkoreksi menjadi US$ 29,50 juta hingga kuartal III-2025. Namun, manajemen bergerak cepat melakukan efisiensi.

Pada akhir November 2025, LEAD menjual dua kapal, Logindo Progress dan Logindo Stature, dengan total nilai US$ 8,35 juta. Dana segar ini digunakan untuk memangkas utang.

"Aksi korporasi ini akan memberikan dampak positif terhadap kas perseroan. Dana hasil penjualan kapal akan digunakan untuk pembayaran sebagian pinjaman sehingga diharapkan dapat menurunkan beban keuangan dan memperbaiki profil neraca LEAD ke depan," tulis manajemen LEAD dalam keterbukaan informasi.

Sebagai catatan, per kuartal III-2025, total aset LEAD tercatat US$ 106,44 juta dengan total liabilitas di kisaran US$ 60,88 juta.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Said Iqbal Masuk Istana! Outsourcing Mau Dihapus? Ini Agenda Besarnya untuk Buruh
| Selasa, 09 Juni 2026 | 00:23 WIB

Said Iqbal Masuk Istana! Outsourcing Mau Dihapus? Ini Agenda Besarnya untuk Buruh

Ini bukan berarti tidak pro terhadap pengusaha. Dunia usaha juga harus diberi ruang untuk berkembang dan mendapatkan keuntungan.

ESG Autopedia (ASLC): Mengandalkan Kepercayaan untuk Jaga Pangsa Pasar
| Senin, 08 Juni 2026 | 09:52 WIB

ESG Autopedia (ASLC): Mengandalkan Kepercayaan untuk Jaga Pangsa Pasar

Bisnis mobil bekas dihadapkan kondisi ekonomi menantang. PT Autopedia Sukses Lestari Tbk percaya, trust bisa menjaga ket

Implementasi Pajak Kekayaan dan Ilusi Keadilan
| Senin, 08 Juni 2026 | 08:00 WIB

Implementasi Pajak Kekayaan dan Ilusi Keadilan

Meskipun terdengar heroik, pajak kekayaan berisiko memaksa penjualan aset tak likuid. Dampaknya patut diwaspadai.

Menagih Obat Pemulih Kepercayaan terhadap Pemerintah di Tengah Badai 'Sell Indonesia'
| Senin, 08 Juni 2026 | 07:57 WIB

Menagih Obat Pemulih Kepercayaan terhadap Pemerintah di Tengah Badai 'Sell Indonesia'

Kepercayaan harus terus dijaga lantaran saat hal tersebut mulai terkikis, rupiah bukan satu-satunya aset yang akan membayar harganya.

 Jaga Profitabilitas, Unilever Indonesia (UNVR) Akan Terapkan Penyesuaian Harga
| Senin, 08 Juni 2026 | 07:41 WIB

Jaga Profitabilitas, Unilever Indonesia (UNVR) Akan Terapkan Penyesuaian Harga

Tahun ini UNVR membidik pertumbuhan kinerja lebih tinggi. Untuk itu, UNVR akan berupaya menjaga volume penjualan dan tingkat penetrasi produk. ​

Rupiah Semakin Lemah, Emiten Otomotif Lesu Darah
| Senin, 08 Juni 2026 | 07:33 WIB

Rupiah Semakin Lemah, Emiten Otomotif Lesu Darah

Semakin loyonya otot rupiah terhadap dolar AS berpotensi memukul kinerja emiten di sektor otomotif. 

Dapat Restu RUPS, Inti Bangun Sejahtera (IBST) Siap Go Private
| Senin, 08 Juni 2026 | 07:27 WIB

Dapat Restu RUPS, Inti Bangun Sejahtera (IBST) Siap Go Private

Sejalan rencana go private dan delisting, pemegang saham pengendali IBST, yakni PT iForte Solusi Infotek akan melakukan penawaran tender sukarela.

Kinerja Kuartal I-2026 Tumbuh Positif, Laba TOWR Masih Bisa Menjulang
| Senin, 08 Juni 2026 | 07:23 WIB

Kinerja Kuartal I-2026 Tumbuh Positif, Laba TOWR Masih Bisa Menjulang

Sucor Sekuritas memperkirakan, pertumbuhan laba PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) ke depan masih berada pada kisaran satu digit rendah. 

Awal Pekan, Sentimen Domestik Bikin Pasar Suram, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Senin, 08 Juni 2026 | 07:22 WIB

Awal Pekan, Sentimen Domestik Bikin Pasar Suram, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Faktor-faktor domestik seperti UU P2SK dan defisit APBN terus memicu sentimen negatif bursa saham dan rupiah.

Kopdes Merah Putih Tak Menghambat Prospek Bisnis Emiten Ritel
| Senin, 08 Juni 2026 | 07:17 WIB

Kopdes Merah Putih Tak Menghambat Prospek Bisnis Emiten Ritel

Bisnis emiten ritel tidak terhambat ekspansi Koperasi Desa Merah Putih. Prospek emiten ritel diprediksi masih tangguh pada semester dua tahun ini.

INDEKS BERITA