Sempat Rebound Dekati US$ 64.000, Ancaman Koreksi Bitcoin Masih Mengintai

Rabu, 15 Juli 2026 | 10:00 WIB
Sempat Rebound Dekati US$ 64.000, Ancaman Koreksi Bitcoin Masih Mengintai
[ILUSTRASI. CRYPTOCURRENCY (Romain Costaseca/Hans Lucas via Reuters)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bitcoin (BTC) mengalami dinamika tajam dalam beberapa jam terakhir. Sempat memperlihatkan tanda-tanda pemulihan dan bangkit dari level US$ 61.000 menuju US$ 64.000, posisinya kini terkoreksi kembali berada di level US$ 62.350 atau sekitar Rp 1,13 miliar.

Pijakan rebound yang sempat terjadi ternyata belum mampu berlangsung lama di tengah berlangsung sentimen risk-off akibat ketegangan geopolitik dan jelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS).

Perjalanan berliku bitcoin dalam waktu yang singkat alias dalam jangka pendek ini ternyata masih sangat dipengaruhi oleh kombinasi faktor fundamental, arus dana institusi serta sentimen makro global.

Namun Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur melihat bahwa di masa rebound, penguatan bitcoin ditopang oleh pulihnya permintaan di pasar spot, khususnya permintaan yang datang dari investor jangka panjang (long term holders) dan investor institusional melalui ETF bitcoin spot di Amerika Serikat.

Baca Juga: Pasar Kripto Bergejolak: Strategi DCA Kunci Hadapi Penurunan Harga Bitcoin

"Setelah sekitar dua pekan mengalami distribusi, investor yang telah memegang bitcoin lebih dari 155 hari kembali melakukan akumulasi,"jelas Fyqih kepada KONTAN, belum lama ini.

Berdasarkan data Glassnode, kelompok long-term holders menambah sekitar 5.900 BTC pada 11–12 Juli, menandakan mulai munculnya kembali kepercayaan terhadap valuasi bitcoin di level saat ini.

Di saat yang sama, ETF bitcoin spot AS juga mencatatkan arus dana masuk (net inflow) sekitar US$ 197 juta hingga pekan yang berakhir 10 Juli 2026. Angka tersebut sekaligus mengakhiri delapan pekan berturut-turut arus keluar dana (outflow).

Pandangan senada juga disampaikan Financial Expert Ajaib Panji Yudha. Ia menilai rebound tersebut merupakan hasil kombinasi antara faktor bottom-up berupa kembalinya likuiditas institusi dan faktor top-down berupa ekspektasi pasar terhadap data ekonomi AS.

Masuknya kembali dana institusi melalui ETF menjadi bantalan likuiditas yang mampu menahan tekanan jual di area US$ 61.000, sehingga mendorong bitcoin kembali menguji level US$ 64.000.

"Pelaku pasar mulai melakukan pricing in terhadap kemungkinan inflasi AS mulai melandai dibandingkan bulan sebelumnya. Harapan tersebut mendorong munculnya relief rally pada aset-aset berisiko, termasuk bitcoin," ujar Panji Yudha.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Harga Energi Berfluktuasi, RAJA Tetap Mengantongi Laba Tinggi
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:57 WIB

Harga Energi Berfluktuasi, RAJA Tetap Mengantongi Laba Tinggi

Laba bersih PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) tumbuh 100,44% yoy menjadi US$ 22,75 juta pada akhir semester pertama lalu.

Gubernur BI di Zaman yang Tak Pasti
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:13 WIB

Gubernur BI di Zaman yang Tak Pasti

Ukuran keberhasilan gubernur BI bukan popularitas atau ketenangan pasar selama satu-dua hari, melainkan kepercayaan.

Transparansi ETF Emas
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 10:55 WIB

Transparansi ETF Emas

Ingat, tanpa transparansi emas fisik dan jaminan likuiditas, maka ETF emas berisiko merugikan investor. 

Rapor Merah IPO BUMN Membayangi Rencana Danantara Boyong Pelat Merah ke Lantai Bursa
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 10:01 WIB

Rapor Merah IPO BUMN Membayangi Rencana Danantara Boyong Pelat Merah ke Lantai Bursa

Dari 13 BUMN dan anak usaha BUMN non-bank yang IPO sejak 2010, hanya PGEO yang sahamnya mampu bertahan di atas harga perdana.

Penjualan Ritel Juga Diperkirakan Menurun
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 09:16 WIB

Penjualan Ritel Juga Diperkirakan Menurun

Indeks Penjualan Riil (IPR) Juli 2026 diperkirakan berada di level 224,4, turun 0,7% per bulan      

Penerimaan Pajak Baru Setengah Target
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 09:11 WIB

Penerimaan Pajak Baru Setengah Target

Realisasi penerimaan pajak hingga akhir Juli 2026 baru mencapai 51% dari target                     

Kasus Korupsi Ekspor CPO 15 Perusahaan Sawit Masuk Pengadilan, Kerugian Rp 7,3 T
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 09:07 WIB

Kasus Korupsi Ekspor CPO 15 Perusahaan Sawit Masuk Pengadilan, Kerugian Rp 7,3 T

Skandal ini menjadi sorotan tajam setelah hasil audit BPKP mengungkap angka fantastis kerugian negara yang mencapai Rp 7,3 triliun.​

Usai Dapat Kontrak Rp 22 Triliun Saham DEWA Melandai, Investor Tunggu Pembuktian
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 08:38 WIB

Usai Dapat Kontrak Rp 22 Triliun Saham DEWA Melandai, Investor Tunggu Pembuktian

Efek kontrak Sebuku Sejaka Coal (SSC) ke EBITDA PT Darma Henwa Tbk (DEWA) diproyeksikan sekitar 4% pada 2026.

Saham Duo Garuda GIAA dan GMFI Kompak Terbang, Masih Aman Buat Dikejar?
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 08:10 WIB

Saham Duo Garuda GIAA dan GMFI Kompak Terbang, Masih Aman Buat Dikejar?

Kenaikan harga saham Grup Garuda, yakni GIAA dan GMFI dibumbui cerita soal aksi korporasi dan dukungan pemerintah.

Antara MSCI dan Indeks Kepercayaan Konsumen, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 07:44 WIB

Antara MSCI dan Indeks Kepercayaan Konsumen, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Investor juga cenderung wait and see menjelang review MSCI pada 12 Agustus. Ini katalis penting bagi arah IHSG dan aliran dana asing.

INDEKS BERITA

Terpopuler