Sempat Rebound Dekati US$ 64.000, Ancaman Koreksi Bitcoin Masih Mengintai
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bitcoin (BTC) mengalami dinamika tajam dalam beberapa jam terakhir. Sempat memperlihatkan tanda-tanda pemulihan dan bangkit dari level US$ 61.000 menuju US$ 64.000, posisinya kini terkoreksi kembali berada di level US$ 62.350 atau sekitar Rp 1,13 miliar.
Pijakan rebound yang sempat terjadi ternyata belum mampu berlangsung lama di tengah berlangsung sentimen risk-off akibat ketegangan geopolitik dan jelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS).
Perjalanan berliku bitcoin dalam waktu yang singkat alias dalam jangka pendek ini ternyata masih sangat dipengaruhi oleh kombinasi faktor fundamental, arus dana institusi serta sentimen makro global.
Namun Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur melihat bahwa di masa rebound, penguatan bitcoin ditopang oleh pulihnya permintaan di pasar spot, khususnya permintaan yang datang dari investor jangka panjang (long term holders) dan investor institusional melalui ETF bitcoin spot di Amerika Serikat.
Baca Juga: Pasar Kripto Bergejolak: Strategi DCA Kunci Hadapi Penurunan Harga Bitcoin
"Setelah sekitar dua pekan mengalami distribusi, investor yang telah memegang bitcoin lebih dari 155 hari kembali melakukan akumulasi,"jelas Fyqih kepada KONTAN, belum lama ini.
Berdasarkan data Glassnode, kelompok long-term holders menambah sekitar 5.900 BTC pada 11–12 Juli, menandakan mulai munculnya kembali kepercayaan terhadap valuasi bitcoin di level saat ini.
Di saat yang sama, ETF bitcoin spot AS juga mencatatkan arus dana masuk (net inflow) sekitar US$ 197 juta hingga pekan yang berakhir 10 Juli 2026. Angka tersebut sekaligus mengakhiri delapan pekan berturut-turut arus keluar dana (outflow).
Pandangan senada juga disampaikan Financial Expert Ajaib Panji Yudha. Ia menilai rebound tersebut merupakan hasil kombinasi antara faktor bottom-up berupa kembalinya likuiditas institusi dan faktor top-down berupa ekspektasi pasar terhadap data ekonomi AS.
Masuknya kembali dana institusi melalui ETF menjadi bantalan likuiditas yang mampu menahan tekanan jual di area US$ 61.000, sehingga mendorong bitcoin kembali menguji level US$ 64.000.
"Pelaku pasar mulai melakukan pricing in terhadap kemungkinan inflasi AS mulai melandai dibandingkan bulan sebelumnya. Harapan tersebut mendorong munculnya relief rally pada aset-aset berisiko, termasuk bitcoin," ujar Panji Yudha.
