Seperti Ini Jenis dan Jumlah Cadangan Komoditas yang Dimiliki China

Sabtu, 14 Agustus 2021 | 16:16 WIB
Seperti Ini Jenis dan Jumlah Cadangan Komoditas yang Dimiliki China
[ILUSTRASI. Infografik: Cadangan komoditas yang dimiliki China.]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Sebagai produsen sekaligus importir dan pengguna dari berbagai komoditas utama, China sangat membutuhkan kestabilan pasokan. Gangguan pasokan serta kenaikan harga sangat berdampak, tak cuma ke kinerja sektor manufaktur di negeri itu, tetapi juga ke kesejahteraan penduduk negeri tersebut.

Posisinya yang sangat sensitif terhadap perubahan pasokan, telah memicu China untuk memperketat pengawasan ke lalu lintas komoditas yang keluar-masuk wilayahnya. Beijing juga mengancam perusahaan yang melakukan perdagangan berbau spekulatif.

Strategi lain yang diterapkan China untuk menjinakkan fluktuasi harga komoditas belum lama ini adalah mengeluarkan stok yang dimilikinya. Ini, misalnya, dilakukan China untuk menekan fluktuasi harga tembaga, yang sempat melejit ke posisi tertinggi di tahun ini.

Aksi Pemerintah Tiongkok menjinakkan harga di pasar mengundang keingintahuan dunia. Seberapa besar sih stok komoditas yang tersimpan di gudang milik Pemerintah China? Berikut perkiraan tentang stok sejumlah komoditas, mulai logam, pangan hingga energi, yang dimiliki China, yang dirangkum Reuters. (Lihat infografik Cadangan Komoditas China). 

Baca Juga: Pelemahan rupiah tertahan harga komoditas yang masih menguat

Komoditas logam

Berdasarkan data pembelian China di masa lalu, analis memperkirakan China memiliki cadangan strategis tembaga di kisaran 1,5 juta hingga 2 juta ton. Negeri Tembok Raksasa itu juga memiliki timbunan stok alumunium hingga 900.000 ton dan seng hingga 400.000 ton.

Beijing juga menyimpan kobalt, yang merupakan bahan baku utama untuk baterai, sebanyak 7.000 ton. Komoditas lain yang distok Beijin adalah antimon, indium, germanium dan molybdenum oxide. Namun tidak diketahui besaran cadangan untuk keempat komoditas tersebut.

Komoditas pangan

China memiliki cadangan komoditas pangan yang memadai untuk seluruh penduduknya yang berkisar 1,4 miliar jiwa. Kantor berita pemerintah, Xinhua, April lalu, menyatakan negeri itu memiliki fasilitas penyimpan komoditas biji-bijian, seperti gandum dan pandi dengan kapasitas total 650 juta ton.

Di bulan yang sama, Liang Yan, wakil pimpinan lembaga penyimpan komoditas China, menyatakan stok beras dan gandum di negeri itu cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi selama setahun.

Sinograin, perusahaan logistik pangan milik China, Juli lalu diberitakan akan membangun 120 fasilitas penyimpanan yang baru. Tambahan gudang itu akan memperbesar kapasitas total penyimpanan China menjadi 10,85 miliar ton.

Baca Juga: Neraca perdagangan bulan Juli 2021 diprediksi surplus US$ 2,3 miliar

Selain biji-bijian, komoditas pangan lain yang juga ditimbun China adalah daging babi. Cadangan daging negeri itu, menurut proyeksi analis yang dikutip South China Morning Post mencapai 1 juta ton.

China juga memiliki cadangan jagung untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya. Di tahun 2017, cadangan jagung China diproyeksikan analis mencapai 200 juta ton. Namun cadangan itu diketahui menyusut karena masa kadaluarsa.

Mengutip data National Grain Trade Center, Reuters memperkirakan China telah menjual cadangan jagung sebanyak 56 juta ton di tahun 2020.

Komoditas energi.

Ada banyak versi proyeksi tentang cadangan minyak yang dimiliki China. Lembaga riset energi, Energy Aspects, memprediksi cadangan minyak mentah China sebanyak 220 juta barel. Angka itu cukup untuk memenuhi permintaan selama 15 hari.

Namun jika basis hitungan diperluas hingga stok strategis negara, stok yang ada di gudang komersial dan perusahaan minyak, maka total persediaan minyak mentah yang dimiliki China diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan selama 60 hari.

Baca Juga: Apakah Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2021 Menandakan Resesi Sudah Berakhir?

Pemerintah China sendiri tak pernah secara terbuka mengumumkan cadangan minyak miliknya. Namun pada 2017, Biro Statistik Negara menyatakan bahwa negeri itu telah membangun sembilan fasilitas penyimpan minyak dengan total kapasitas mencapai 237,66 juta barel.

Namun untuk cadangan batubara yang dimilikinya, China bersikap lebih terbuka. Komisi Pembangunan Nasional dan Reformasi, April lalu, mengumumkan, cadangan batubara yang dimiliki negeri itu lebih dari 120 juta ton per tahun.

Lembaga yang bertugas menjadi perencana pembangunan di China itu juga mengungkap target pembentukan cadangan batubara hingga 400 juta ton. Stok sebesar itu terbagi atas cadangan yang dimiliki pembangkit listrik, sebanyak 200 juta ton. Perincian sisanya, 100 juta ton cadangan berada di perusahaan tambang, dan 100 juta lainnya di perusahaan dagang.

Selanjutnya: Pengadilan London Minta Binance Lacak dan Identifikasi Peretas Akun Penggunanya

 

Bagikan

Berita Terbaru

Dian Swastatika Sentosa (DSSA) Akan Stock Split Saham di Rasio 1:25
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 08:33 WIB

Dian Swastatika Sentosa (DSSA) Akan Stock Split Saham di Rasio 1:25

Untuk stock split, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)  akan meminta persetujuan dari para pemegang saham melalui RUPSLB pada 11 Maret 2026.​

Rogoh Kocek Rp 200 Miliar, RMK Energy (RMKE) Siap Buyback Saham
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 08:28 WIB

Rogoh Kocek Rp 200 Miliar, RMK Energy (RMKE) Siap Buyback Saham

PT RMK Energy Tbk (RMKE) mengumumkan rencana untuk pembelian kembali (buyback) saham sebesar Rp 200 miliar. 

Menutup Celah yang Sering Dianggap Sepele dengan Asuransi Perjalanan
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 08:00 WIB

Menutup Celah yang Sering Dianggap Sepele dengan Asuransi Perjalanan

Membeli asuransi perjalanan saat ke luar negeri jadi hal biasa. Tapi, apakah tetap butuh asuransi buat perjalanan di dalam negeri?

Pasar Saham Semakin Suram
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:51 WIB

Pasar Saham Semakin Suram

Tekanan yang dialami pasar saham Indonesia semakin besar setelah para petinggi OJK dan bos bursa mengundurkan diri.

Diversifikasi IFSH: Ini Rencana Bisnis Baru Saat Nikel Global Tertekan
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:30 WIB

Diversifikasi IFSH: Ini Rencana Bisnis Baru Saat Nikel Global Tertekan

Harga nikel global terus anjlok, manajemen IFSH beberkan cara jaga profit. Temukan langkah konkret IFSH untuk amankan laba di 2026

Harga Bitcoin Anjlok: Strategi DCA Bisa Selamatkan Investor Kripto?
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:30 WIB

Harga Bitcoin Anjlok: Strategi DCA Bisa Selamatkan Investor Kripto?

Bitcoin anjlok 7% dalam sepekan, memicu likuidasi besar-besaran. Investor wajib tahu penyebabnya dan langkah mitigasi. 

Masih Rapuh
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:10 WIB

Masih Rapuh

Pengaturan ulang kembali bursa dengan standar dan tata kelola yang lebih jelas menjadi kunci penting.

Pembekuan MSCI, Ujian Transparansi Bursa
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:05 WIB

Pembekuan MSCI, Ujian Transparansi Bursa

Dalam indeks global, free float adalah inti dari konsep bisa dibeli yang menjadi pakem para investor kebanyakan.​

Strategi Investasi Aman Ala Direktur Sucorinvest, Jauh dari Volatilitas.
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 06:15 WIB

Strategi Investasi Aman Ala Direktur Sucorinvest, Jauh dari Volatilitas.

Membeli saham big caps ternyata belum tentu untung. Direktur Sucorinvest Hermansyah bagikan strategi yang buat hidupnya tenang

Rupiah Terdampak Tekanan Keluar Dana Asing dari Bursa Saham
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 06:00 WIB

Rupiah Terdampak Tekanan Keluar Dana Asing dari Bursa Saham

Rupiah melemah pada Jumat (30/1) namun menguat mingguan. Analis memperingatkan sentimen MSCI masih membayangi pergerakan rupiah

INDEKS BERITA

Terpopuler