Seperti Ini Latar Belakang Penundaan Pencatatan Saham Perdana Ant Group

Rabu, 04 November 2020 | 14:32 WIB
Seperti Ini Latar Belakang Penundaan Pencatatan Saham Perdana Ant Group
[ILUSTRASI. Jack Ma, pendiri Ant Group. dalam konferensi pers di Chiba, Jepang, 18 Juni 2015. REUTERS/Yuya Shino/File Picture]
Reporter: Thomas Hadiwinata | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - HONG KONG. “Pemerintah China memperlihatkan siapa yang menjadi bos. Jack Ma boleh saja menjadi orang terkaya di dunia. Tetapi gelar itu tidak berarti ia punya kuasa.”

 Demikian opini Francis Lun, CEO dari GEO Securities, yang dikutip Reuters seputar penundaan pencatatan saham perdana Ant Group, yang didirikan Ma, miliuner pendiri Alibaba. “Kesepakatan terbesar abad ini sekarang menjadi kejutan terbesar di abad ini,” ujar eksekutif yang berbasis di Hong Kong itu.

Keputusan pengelola Star, bursa bergaya Nasdaq di Shanghai, Selasa (3/11), memang mencengangkan. Dengan alasan Ant Group menghadapi “major issues” yang berpangkal pada rencana perubahan aturan financial technology, pengelola bursa menunda pencatatan saham Ant yang semula dijadwalkan pada Kamis (5/11).

Baca Juga: Otoritas Bursa Shanghai tunda listing Ant Group, perusahaan Jack Ma, ada apa?

Menyesuaikan dengan kondisi yang dihadapinya di bursa Star, Ant juga menangguhkan pencatatan di bursa Hong Kong. Proses initial public offering (IPO) yang telah mencetak rekor pengumpulan dana terbesar di dunia, hingga US$ 37 miliar, menjadi tidak jelas.

Keputusan STAR untuk menunda pencatatan Ant merupakan lanjutan dari pertemuan antara para pimpinan Ant dan regulator di China, Senin (2/11). Mengutip FT.com, Ant diwakili oleh Ma, Eric Jing dan Simon Hu, yang masing-masing merupakan chairman dan chief executive dari Ant Group. Sedang perwakilan Beijing terdiri dari bank sentral serta regulator industri perbankan, sekuritas dan valuta asing di Tiongkok.

Dalam keterangan tertulisnya, bursa Shanghai menyebut maksud pertemuan itu sebagai wawancara pengawasan. Seperti apa jalannya wawancara pengawasan itu belum terungkap. Namun usai pertemuan, Ant menyatakan akan mengimplementasikan hasil pertemuan itu.

Baca Juga: Kalahkan Saudi Aramco, Ant Financial Group pecahkan rekor IPO terbesar di dunia

Selama ini Ma menginginkan Ant diperlakukan sebagai perusahaan teknologi, daripada sebagai lembaga keuangan yang sangat diatur. Kenyataan bahwa ia harus menghadap regulator perbankan dan industri keuangan di Tiongkok ppada Senin kemarin, menunjukkan ia tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.  Ini yang dinyatakan Lun dalam kutipan yang dimuat di awal tulisan.

Pada Senin itu juga, bank sentral dan pengawas perbankan di China menerbitkan aturan baru yang membatasi nilai pinjaman yang bisa disalurkan fintech ke tiap debiturnya. Nilai maksimal itu adalah yang terendah di antara 300.000 yuan, atau sepertiga dari penghasilan debitur per tahun. Aturan itu juga mengharuskan fintech untuk ikut mendanai, paling sedikit 30% dari pinjaman yang disalurkannya bersama bank.

Seorang bankir di Hong Kong yang dekat dengan industri fintech di China, menyatakan ke Reuters, pemain fintech di China menilai aturan baru itu seakan-akan dibuat khusus untuk Ant. Jika ketentuan yang lebih ketat diberlakukan, Ant mungkin harus membagi-bagi bisnisnya, seperti pemrosesan transaksi pembayaran, penyaluran pinjaman mikro dan manajemen kekayaan ke perusahaan-perusahaan yang berbeda.

Sumber di Ant Group yang dikutip Reuters, menyebut perusahaan itu menjadi sasaran tembak pemerintah China karena Ma kerap mengkritik sistim keuangan konvensional berikut regulasinya di berbagai acara publik. Ma pernah menyebut komite Basel yang mengatur perbankan global sebagai klub orang tua.

Di sisi lain, regulator perbankan di Tiongkok tidak nyampak dengan semakin banyaknya bank yang menggunakan platform teknologi pihak ketiga, seperti yang disediakan Ant. Regulator perbankan mencemaskan duit bank yang diputar melalui fintech, akan meningkatkan risiko default sekaligus menurunkan kualitas aset bank.

Reuters melaporkan bulan lalu bahwa regulator telah memeriksa bank yang menggunakan platform teknologi Ant secara berlebihan dalam menyalurkan pinjaman consumer, sebagai bagian dari upaya untuk mengekang risiko di sektor keuangan negara.

Baca Juga: Pemerintah China peringatkan Jack Ma terkait ekspansi Ant Group yang terlalu cepat

Pada saat roadshow saham perdana Ant Group, banyak calon investor yang menyoroti rencana Beijing mengetatkan aturan untuk platform teknologi yang menyalurkan pinjaman, seperti bisnis utama Ant.

Kegiatan bisnis dan penghasil pendapatan terbesarnya, saat ini adalah permintaan dari Mesin pencetak uang terbesar Ant saat ini adalah menjaring permintaan pinjaman dari konsumen ritel dan usaha kecil, dan meneruskannya ke sekitar 100 bank. Bisnis itu memungkinkan Ant untuk menanggung risiko yang minimal ke neracanya, namun mengantongi underwriting fee dari pemberi pinjaman.

Baca Juga: PBOC: Belanja dengan uang yuan digital China mencapai US$ 300 juta

Saldo pinjaman konsumen yang disalurkan melalui platform milik Ant mencapai 1,7 triliun yuan, atau setara US$ 254 miliar per akhir Juni. Nilai itu setara 21% dari semua pinjaman konsumen jangka pendek yang disalurkan oleh perbankan di China. Dari nilai pinjaman sebesar itu, hanya 2% yang menggunakan pendanaan yang berada di neraca Ant, demikian keterangan prospektus IPO.

Untuk menghidupkan kembali pencatatannya, Ant tidak punya jalan selain mengungkapkan lebih banyak informasi ke bursa Shanghai, termasuk penjelasan tentang hubungannya dengan regulator.

Berdasarkan tambahan informasi yang diterimanya, pengelola bursa bisa saja mensyaratkan Ant melakukan tindak lanjut terlebih dulu. “Termasuk menyelesaikan semua masalahnya dengan regulator, yang pasti akan memakan waktu lebih lama,“ tutur sumber yang mengetahui masalah tersebut ke Reuters.

Selanjutnya: Peluang Ekspor ke Pasar AS Tetap Terjaga, Tiga Emiten Ini Berpotensi Mengerek Kinerja

 

Bagikan

Berita Terbaru

Kemenkeu Belum Bahas Tambahan Subsidi BBM
| Jumat, 13 Maret 2026 | 05:15 WIB

Kemenkeu Belum Bahas Tambahan Subsidi BBM

Kementerian ESDM menyebutkan pihaknya butuh bujet tambahan untuk menopang belanja energi yang tersulut kenaikan  harga minyak global.

Strategi Emiten Jasa Migas: Kunci Menghadapi Volatilitas Harga dan Meraih Untung
| Jumat, 13 Maret 2026 | 05:02 WIB

Strategi Emiten Jasa Migas: Kunci Menghadapi Volatilitas Harga dan Meraih Untung

Tingginya harga minyak mendongkrak profitabilitas produsen migas. Mereka lebih aktif melakukan kegiatan pengeboran dan pengembangan lapangan. 

APBN 'Gali Lubang Tutup Lubang' Ungkap Misteri Pelemahan Rupiah
| Jumat, 13 Maret 2026 | 04:30 WIB

APBN 'Gali Lubang Tutup Lubang' Ungkap Misteri Pelemahan Rupiah

Rupiah terus melemah, bahkan diproyeksi tembus Rp 16.950. Kondisi APBN yang 'gali lubang tutup lubang' jadi pemicu utama. 

Risiko Fintech Naik, Lender Mesti Teliti
| Jumat, 13 Maret 2026 | 04:15 WIB

Risiko Fintech Naik, Lender Mesti Teliti

Rata-rata imbal hasil yang didapatkan lender dalam menempatkan dana di platform pinjaman daring berkisar di angka 14% hingga 18% per tahun

Kebijakan The Fed Dorong Harga Emas, Ini Proyeksi Terbaru 2026
| Jumat, 13 Maret 2026 | 04:15 WIB

Kebijakan The Fed Dorong Harga Emas, Ini Proyeksi Terbaru 2026

Proyeksi harga emas global dan Antam 2026 terus direvisi naik. Sentimen geopolitik dan The Fed jadi pendorong utama.

Insentif PPN DTP Diperpanjang, Bagaimana Dampaknya ke Harga Saham BSDE?
| Jumat, 13 Maret 2026 | 04:00 WIB

Insentif PPN DTP Diperpanjang, Bagaimana Dampaknya ke Harga Saham BSDE?

Perpanjangan PPN DTP hingga 2027 jadi katalis utama BSDE. Proyeksi pendapatan dan laba bersih perusahaan diprediksi naik.

Bunga Gadai Tetap Stabil Meski Permintaan Melonjak
| Jumat, 13 Maret 2026 | 03:45 WIB

Bunga Gadai Tetap Stabil Meski Permintaan Melonjak

Di tengah permintaan yang meningkat, sejumlah perusahaan gadai mengaku masih menjaga tingkat bunga kepada nasabah.

Rekomendasi Saham Hari Ini (13/3) Setelah IHSG Tertekan Sepekan
| Jumat, 13 Maret 2026 | 03:30 WIB

Rekomendasi Saham Hari Ini (13/3) Setelah IHSG Tertekan Sepekan

IHSG mengakumulasi pelemahan 4,52% dalam sepekan terakhir. Sedangkan sejak awal tahun, IHSG turun 14,86%.

Cermin Dibelah
| Jumat, 13 Maret 2026 | 03:16 WIB

Cermin Dibelah

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa masih super pede dan belum sepenuhnya memahami alasan Fitch merevisi outlook Indonesia menjadi negatif.

Dividen Bank Tetap Tebal Meski Laba Tertekan
| Jumat, 13 Maret 2026 | 03:00 WIB

Dividen Bank Tetap Tebal Meski Laba Tertekan

​Demi beri cuan ke investor, mayoritas bank besar menetapkan rasio dividen di atas 50%.                  

INDEKS BERITA

Terpopuler