Setelah Beijing Menekan Perusahaan Digital, Sektor Ini Jadi Pilihan Investor di China

Kamis, 12 Agustus 2021 | 10:36 WIB
Setelah Beijing Menekan Perusahaan Digital, Sektor Ini Jadi Pilihan Investor di China
[ILUSTRASI. Turbin untuk pembangkit listrik di Guazhou, Provinsi Gansu, China, 15 September 2013. REUTERS/Carlos Barria/File Photo]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - HONG KONG. Tindakan keras regulator di China terhadap perusahaan digital mengubah peta investasi di negeri tersebut. Investor kini beralih ke semikonduktor, energi terbarukan, dan perusahaan yang berfokus ke konsumen dengan keyakinan bahwa mereka menawarkan perlindungan dari kebijakan pemerintah yang merugikan portofolio mereka.

Selama beberapa bulan terakhir, Beijing mengambil langkah keras terhadap perusahaan digital di berbagai sektor, mulai teknologi keuangan hingga bimbingan belajar.  Dan, pengelola uang memandang aksi itu sebagai bagian dari kebijakan Partai Komunis China yang ingin mengutamakan kemakmuran bersama, dan mengorbankan keuntungan pihak swasta.

Di saat raksasa online yang dibidik regulator, seperti Tencent dan Alibaba, kehilangan nilai pasar hingga miliaran dolar, harga saham perusahaan yang bergerak di jalur yang sesuai dengan reformasi pemerintah, mengalami penguatan.

Sejak Juni, misalnya, indeks saham energi bersih dan perusahaan semikonduktor China naik lebih dari 30% dibandingkan dengan penurunan 5% di pasar yang lebih luas dan penurunan 15% pada saham teknologi Hong Kong.

Baca Juga: Lagi digandrungi, beberapa negara gencar berinvestasi di bisnis e-sport

“Pembelian dilakukan semua jenis investor,” kata ahli strategi investasi senior Credit Suisse Suresh Tantia.

“Reksa dana investor asing, mereka masih perlu mengalokasikan uangnya di China karena mandat mereka sehingga mereka sekarang menempatkan dana di sektor yang sejalan dengan dukungan pemerintah," katanya.

Investor menelisik kabar di berbagai media pemerintah, pidato hingga buku Presiden Xi Jinping untuk mencari pedoman investasi yang baru. Dan, mereka menyimpulkan pengurangan emisi gas rumah kaca, sebagai sektor yang disukai penguasa di Beijing.

China kini mengusung tujuan untuk mencapai puncak emisi karbon pada tahun 2030 dan netralitas karbon pada tahun 2060. Agenda Beijing lainnya adalah mendorong permintaan domestik dan produksi dalam negeri.

Baca Juga: Media China kritik game online, Kekayaan CEO Tencent menyusut hingga Rp 200 triliun

“Ada (kendaraan listrik), energi terbarukan, semikonduktor dari sudut pandang swasembada. Kami melihat sektor-sektor ini dan melihat bahwa mereka dapat terus menerima dukungan," kata Alex Wolf, kepala strategi investasi di JP Morgan Private Bank.

“Satu lagi adalah upgrade manufaktur," katanya. "China sangat tertarik, dan mereka telah mengatakannya dalam rencana lima tahun, untuk mempertahankan manufaktur sebagai bagian tertentu dari ekonomi.”

Seperti manajer portofolio di Citi Private Bank dan BNP Paribas Wealth Management, Wolf lebih menyukai listing di daratan utama karena tidak terlalu terpapar pengawasan regulasi dan karena komposisi pasarnya jauh dari target seperti perusahaan teknologi atau internet.

“Ahli strategi ekuitas kami percaya bahwa dari waktu ke waktu, alam semesta MSCI China secara bertahap akan memiliki alokasi sektor yang lebih seimbang dengan bobot yang lebih rendah untuk internet dan bobot yang lebih tinggi untuk sektor-sektor seperti industri dan TI,” demikian kutipan dari catatan kepala ekonom Asia Morgan Stanley Chetan Ahya, pekan lalu.

Selanjutnya: BI Kembali Bakal Perluas Kerjasama LCS Dengan Tiga Negara Potensial

 

Bagikan

Berita Terbaru

Volatilitas Bitcoin Turun Terhadap Emas, Mampu Jadi Aset Lindung Nilai?
| Rabu, 11 Februari 2026 | 14:00 WIB

Volatilitas Bitcoin Turun Terhadap Emas, Mampu Jadi Aset Lindung Nilai?

JPMorgan menyatakan bahwa bitcoin kini terlihat lebih menarik dibanding emas, jika dilihat dari sisi volatilitas yang disesuaikan dengan risiko.

Diam-Diam Kinerja Saham NISP Lebih Moncer dari Emiten Bank Lainnya
| Rabu, 11 Februari 2026 | 13:25 WIB

Diam-Diam Kinerja Saham NISP Lebih Moncer dari Emiten Bank Lainnya

Kekuatan inti PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) adalah laba yang tumbuh di sepanjang 2025, loan deposit ratio (LDR) di level 70,4% dan CAR 24,5%.

Prospek Cemerlang Emiten Aguan (PANI) Pasca Capaian Marketing Sales yang Sukses
| Rabu, 11 Februari 2026 | 13:00 WIB

Prospek Cemerlang Emiten Aguan (PANI) Pasca Capaian Marketing Sales yang Sukses

BRI Danareksa Sekuritas menilai bahwa preferensi pasar terhadap PIK2 relatif berkelanjutan karena segmen yang disasar didominasi kelas atas.

Transformasi Bisnis Non Batubara Bikin Saham IndIka Energy (INDY) Semakin Membara
| Rabu, 11 Februari 2026 | 11:00 WIB

Transformasi Bisnis Non Batubara Bikin Saham IndIka Energy (INDY) Semakin Membara

Tak hanya kendaraan listrik, Indika Energy (INDY) juga tengah melakukan proyek konstruksi tambang emas Awak Mas di Sulawesi Selatan.

Potensi Penguatan Penjualan Jelang Lebaran
| Rabu, 11 Februari 2026 | 09:17 WIB

Potensi Penguatan Penjualan Jelang Lebaran

 Indeks Penjualan Riil (IPR) Januari 2026 diperkirakan sebesar 228,3, lebih rendah dari Desember 2025 

Bidik Pertumbuhan Ekonomi 5,6% di Kuartal I-2026
| Rabu, 11 Februari 2026 | 09:01 WIB

Bidik Pertumbuhan Ekonomi 5,6% di Kuartal I-2026

Pertumbuhan ekonomi tiga bulan pertama tahun ini akan didorong percepatan belanja dan stimulus pemerintah

Saham Kalbe Farma (KLBF) Terkoreksi di Tengah Aksi Beli Asing dan Program Buyback
| Rabu, 11 Februari 2026 | 09:00 WIB

Saham Kalbe Farma (KLBF) Terkoreksi di Tengah Aksi Beli Asing dan Program Buyback

Lima sekuritas kompak merekomendasikan beli saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) pada awal Februari 2026 di tengah penurunan harga yang masih terjadi.

Sederet Batu Sandungan Mengerek Tax Ratio 12%
| Rabu, 11 Februari 2026 | 08:50 WIB

Sederet Batu Sandungan Mengerek Tax Ratio 12%

Untuk mencapai rasio pajak 2026, pemerintah harus tambah Rp 139 triliun dari realisasi 2025         

Merdeka Gold Resources (EMAS) Sinergikan Dua Anak Usaha di Tambang Emas Pani
| Rabu, 11 Februari 2026 | 08:24 WIB

Merdeka Gold Resources (EMAS) Sinergikan Dua Anak Usaha di Tambang Emas Pani

Dua entitas usaha PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), menjalin kerjasama pengolahan dan pemurnian atas hasil tambang senilai Rp 9,84 triliun.  ​

TBIG Mulai Tawarkan Surat Utang Senilai Rp 1,27 Triliun
| Rabu, 11 Februari 2026 | 08:20 WIB

TBIG Mulai Tawarkan Surat Utang Senilai Rp 1,27 Triliun

Penawaran tersebut terdiri dari Obligasi Berkelanjutan VII TBIG Tahap III Tahun 2026 dan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I TBIG Tahap III Tahun 2026.

INDEKS BERITA

Terpopuler