Setelah Kenaikan Rating dari S&P, Pelaku Pasar Menanti Penilaian Fitch dan Moody's

Rabu, 19 Juni 2019 | 07:22 WIB
Setelah Kenaikan Rating dari S&P, Pelaku Pasar Menanti Penilaian Fitch dan Moody's
[]
Reporter: Intan Nirmala Sari | Editor: A.Herry Prasetyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keputusan lembaga pemeringkat Standard & Poor's (S&P) menaikkan peringkat utang Indonesia memberikan angin segar bagi pasar modal. Namun, efeknya cuma terasa jelas di pasar surat utang atau obligasi.

Ini terlihat dari aliran dana asing yang masuk ke pasar obligasi. Di dua bulan terakhir, kepemilikan asing atas surat utang negara (SUN) dan surat berharga syariah negara (SBSN) cuma Rp 2,12 triliun. Tapi, sejak pengumuman S&P akhir Mei lalu, kepemilikan asing di instrumen tersebut mencapai Rp 5,59 triliun.

Di pasar saham, investor asing masih waspada. Alih-alih mencetak beli bersih alias net buy, investor asing masih cenderung melakukan jual bersih (net sell) dengan nilai mencapai Rp 8,03 triliun dua bulan terakhir. Transaksi asing di pasar saham ini tidak memperhitungkan transaksi tutup sendiri atawa crossing saham yang terjadi.

Kepala Riset Fixed Income Mandiri Sekuritas Handy Yunianto mengatakan, investor asing cenderung bertahan di pasar obligasi. "Karena jika dibanding dengan negara emerging market lainnya, yield Indonesia masih atraktif," ujar dia, Senin (17/6).

Ketua Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII) Edward P. Lubis menilai, yield jadi pemicu masuknya dana asing ke instrumen surat utang. "Kami tidak melihat ada outflow asing, bahkan dengan rating upgrade kelihatannya masih akan ada tambahan aliran dana masuk ke depannya," imbuh dia.

Instrumen surat utang boleh jadi favorit investor asing. Namun, sejauh ini, aliran dana asing yang masuk ke instrumen ini dinilai masih kurang signifikan.

Menurut Edward, ini terjadi lantaran investor asing sudah mencicil masuk ke pasar keuangan sejak beberapa waktu yang lalu. Selain itu, mereka juga masih wait and see terkait kondisi perang dagang dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. "Inflow-nya konservatif melihat fundamental Indonesia saat ini. Harapannya bisa tumbuh lebih baik dari tahun lalu," jelas Edward.

Direktur Panin Asset Management Rudiyanto mengakui hasil pemeringkat S&P cukup bagus. Namun pelaku pasar juga menunggu hasil penilaian Fitch dan Moody's.

Alhasil, aliran masuk dana asing belum akan terlalu signifikan. Aliran bakal lebih lancar jika ada pemangkasan suku bunga The Fed.

"Pendorong utama untuk pertumbuhan tahun ini adalah penurunan tingkat suku bunga The Fed. Memang pelaku pasar mengharapkan bunga segera turun, tapi dalam kondisi normal seharusnya akhir tahun sudah cukup," jelas Rudiyanto.

Dia menambahkan, kalau pun The Fed batal memangkas suku bunganya tahun ini, minimal pasar menantikan kejelasan dari rencana pelonggaran moneter. Ia menilai, untuk terus mendorong dana asing masuk, pemerintah perlu mencari cara menekan defisit transaksi berjalan (CAD) pada kisaran 2,5% hingga 3%.

"Kalau melebihi -3% dikhawatirkan akan memberikan dampak negatif dan menjadi risiko," tandas Rudi.

Bagikan

Berita Terbaru

Harga Minyak Lesu, Saham Migas Masih Simpan Peluang di 2026
| Senin, 12 Januari 2026 | 13:00 WIB

Harga Minyak Lesu, Saham Migas Masih Simpan Peluang di 2026

Sektor migas dinilai lebih cocok sebagai peluang trading hingga investasi selektif, bukan lagi sektor spekulatif berbasis lonjakan harga komoditas

Menakar Peluang Cuan Saham Migas di 2026 di Tengah Normalisasi Harga Minyak Dunia
| Senin, 12 Januari 2026 | 10:15 WIB

Menakar Peluang Cuan Saham Migas di 2026 di Tengah Normalisasi Harga Minyak Dunia

Harga minyak dunia 2026 diprediksi US$ 56 per barel, begini rekomendasi saham RATU, ELSA, MEDC, ENRG, hingga PGAS.

UMP 2026 Naik 5,7%, Dorong Konsumsi & Saham Konsumer
| Senin, 12 Januari 2026 | 09:23 WIB

UMP 2026 Naik 5,7%, Dorong Konsumsi & Saham Konsumer

Kenaikan UMP 2026 rata-rata 5,7% & anggaran perlindungan sosial Rp 508,2 triliun dukung konsumsi. Rekomendasi overweight konsumer: ICBP top pick.

Menilik Target Harga Saham JPFA dan CPIN di Tengah Ekspansi Kuota Protein Nasional
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:57 WIB

Menilik Target Harga Saham JPFA dan CPIN di Tengah Ekspansi Kuota Protein Nasional

Akselerasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan momen seasonal jadi amunisi pertumbuhan industri poultry.

Target FLPP Meleset, Ini Kata Pengembang
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:30 WIB

Target FLPP Meleset, Ini Kata Pengembang

Kendala pembangunan rumah subsidi saat ini mencakup keterbatasan lahan, lonjakan harga material, hingga margin pengembang yang semakin tertekan.

Menakar Realisasi Akuisisi BULL oleh Grup Sinarmas, Antara Spekulasi & Tekanan Bunga
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:29 WIB

Menakar Realisasi Akuisisi BULL oleh Grup Sinarmas, Antara Spekulasi & Tekanan Bunga

Ada risiko koreksi yang cukup dalam apabila proses transaksi akuisisi BULL pada akhirnya hanya sebatas rumor belaka.

Diamond Citra Propertindo (DADA) Menangkap Potensi Bisnis Hunian Tapak
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:20 WIB

Diamond Citra Propertindo (DADA) Menangkap Potensi Bisnis Hunian Tapak

Selama ini, perusahaan tersebut dikenal cukup kuat di segmen properti bertingkat atawa high rise dan strata title.

ARA 18 Hari Beruntun Bikin Saham RLCO Melesat 2.286% Sejak IPO, Masih Layak Beli?
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:11 WIB

ARA 18 Hari Beruntun Bikin Saham RLCO Melesat 2.286% Sejak IPO, Masih Layak Beli?

RLCO sebelumnya mendapatkan negative covenant dari Bank BRI dan Bank Mandiri karena rasio utang belum memenuhi rasio keuangan yang dipersyaratkan.

Industri Kaca Bidik Pertumbuhan Positif di Tahun 2026
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:10 WIB

Industri Kaca Bidik Pertumbuhan Positif di Tahun 2026

Pasar dalam negeri masih menjadi tumpuan bagi industri gelas kaca. APGI pun berharap, tingkat konsumsi dan daya beli bisa membaik.

Harga Tembaga Kian Menyala di Tahun Kuda Api
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:04 WIB

Harga Tembaga Kian Menyala di Tahun Kuda Api

Harga tembaga seakan tak lelah berlari sejak 2025 lalu. Mungkinkah relinya bisa mereda setelah menyentuh rekor?

INDEKS BERITA

Terpopuler