Membedah Dampak Kehadiran IMIP terhadap Ekonomi Masyarakat Bahodopi dan Morowali

Minggu, 03 Agustus 2025 | 11:12 WIB
Membedah Dampak Kehadiran IMIP terhadap Ekonomi Masyarakat Bahodopi dan Morowali
[Ribuan pekerja memadati jalan raya Trans Sulawesi saat pergantian jam kerja di Kawasan Industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) Kabupaten Morowali, Sulawesi tengah. KONTAN/Cheppy A. Muchlis/21/07/2022]
Reporter: Tedy Gumilar | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - MOROWALI. Kios dan tempat usaha yang didominasi bangunan semi permanen berjajar rapat di hampir sepanjang Jl. Trans Sulawesi yang melintasi beberapa desa di Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah (Sulteng). Sebagian di antaranya tampak kusam oleh debu jalanan. 

Meski demikian, aktivitas ekonominya jauh dari kata pudar. Bahkan, denyut usahanya seolah tak kenal waktu. Ini lantaran sebagian warung kelontongan, penjual bensin eceran, hingga tempat makan buka 24 jam. 

Bukan tanpa alasan, para pedagang tersebut mengikuti ritme aktivitas puluhan ribu pekerja di kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) yang bekerja dalam tiga shift sehari secara bergantian. Alhasil, Bahodopi, terutama yang berada di sekitar Kawasan IMIP, bak kota kecil yang tak pernah tidur.

Sebagai gambaran, per 21 Juni 2025 jumlah tenaga kerja Indonesia di kawasan IMIP mencapai 85.520 orang. Jumlahnya terus bertambah saban tahun. Dalam periode 2020 hingga 21 Juni 2025, tingkat pertumbuhan tahunan majemuk atau Compound Annual Growth Rate (CAGR) pekerja di Kawasan Industri IMIP mencapai 15,54%.

Tenant IMIP yang menyerap tenaga kerja sebanyak itu merupakan investor dari berbagai negara. Emilia Bassar, Direktur Komunikasi PT Indonesia Morowali Industrial Park pada Minggu malam, 20 Juli 2025 menyebut, selain dari China, investor yang menjadi tenant IMIP juga berasal dari Jepang, Australia, Korea Selatan, India, dan Indonesia.  

 

Keberadaan puluhan ribu pekerja ini membuat perputaran uang di Bahodopi menjadi sangat besar untuk ukuran sebuah kecamatan. Perhitungan sederhananya, Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK) Morowali 2025 sebesar Rp3.957.673. Nah, jika dikalikan dengan jumlah karyawan di kawasan IMIP saja, maka peredaran uang di Bahodopi mencapai Rp 338,46 miliar per bulan.

Namun perlu dicatat, nilai upah yang digunakan dalam perhitungan ini sebetulnya terbilang konservatif. Sebab, pengakuan beberapa pekerja di IMIP yang ditemui Kontan, gaji karyawan yang berstatus fresh graduate saja berkisar antara Rp 6 juta hingga Rp 7 juta per bulan. Bahkan, mahasiswa Politeknik Industri Logam Morowali yang menjalani magang di tenant-tenant IMIP mendapat uang saku Rp 5 juta sampai Rp 6 juta per bulan.

Selain itu, jumlah pekerja yang dijadikan dasar perhitungan hanya yang bekerja di dalam kawasan IMIP saja. Tidak termasuk ribuan pekerja kontraktor serta 16.705 orang yang bekerja di berbagai bidang usaha di Bahodopi. Dengan demikian, nilai perputaran uang di Bahodopi mestinya jauh lebih besar lebih dari Rp 338,46 miliar per bulan.

Oh ya, sekitar lima tahun terakhir IMIP memang membuka ruang bagi kontraktor lokal untuk terlibat dalam pembangunan di kawasan industri hilirisasi nikel terintegrasi tersebut. Lokalitas para kontraktor ini dibuktikan dari akte pendirian perusahaan yang menunjukkan bahwa mereka memang berbasis di Morowali.

Peluang kepada pengusaha lokal ini sengaja diberikan agar efek keberadaan IMIP makin besar ke ekonomi setempat. "Saat ini ada sekitar 450 perusahaan lokal Morowali yang menjadi kontraktor IMIP," kata Dedy Kurniawan, Manajer Media Relations IMIP kepada Kontan di Wisma Tsingshan yang berada di dalam Kawasan IMIP, Selasa malam, 22 Juli 2025.

Baca Juga: Kawasan IMIP Rumuskan Kerangka Pembangunan Berkelanjutan Industri Nikel

Berbagai Usaha Berjamuran

Dus, tak heran jika pertumbuhan jumlah usaha di sekitar kawasan IMIP menjadi sangat signifikan. Survei internal yang dilakukan IMIP menunjukkan, pada 2021 hanya ada 4.697 unit usaha yang tersebar di 12 desa di Kecamatan Bahodopi.

Nah, hingga Maret 2025 pertumbuhan jumlah usaha di kecamatan ini dibanding posisi tahun 2021 mencapai 62,72% menjadi sebanyak 7.643 unit usaha. Terbanyak berada di Desa Labota, yakni mencapai 1.698 unit usaha dan Desa Keurea sebanyak 1.574 unit usaha.

Masih merujuk data yang sama, jenis usaha yang paling banyak dibuka di sekitar kawasan IMIP antara lain kios sembako yang juga menjajakan bensin eceran, stan makanan dan minuman, bengkel, hingga agen perbankan. Usaha-usaha yang dibangun masyarakat ini mampu menyerap pekerja dalam jumlah besar, yakni mencapai 16.705 tenaga kerja.

 

Tingginya permintaan atas tempat usaha ikut mendorong Abdul Latif memanfaatkan tanah milik keluarganya. Alih-alih dijual, ia memilih membangun 6 ruko satu lantai berukuran 4X8 meter per unit. Lokasinya di pinggir Jl. Trans Sulawesi, tak jauh dari tempat pencucian kendaraan Baho-Baho di Desa Fatufia, yang juga merupakan usaha keluarga Latif.

"Harga sewanya setahun Rp45 juta dan semuanya sudah terisi," kata Latif saat dihubungi Kontan melalui sambungan telepon, Sabtu (2/8).

Sejak beberapa tahun terakhir Latif mengelola usaha keluarga yang diberi nama Baho-Baho Group Morowali. Selain tempat pencucian kendaraan dan penyewaan properti, mereka punya bisnis rental mobil hingga penyewaan alat berat. Usaha penyewaan alat berat seperti eskavator, imbuh Latif, baru dirintis setahun terakhir. 

Khusus usaha rental mobil, belakangan Latif dan beberapa pengusaha lainnya bergabung dengan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Fatufia. Dari kelima pengusaha rental yang semuanya warga lokal Fatufia, itu total ada lebih dari 20 unit kendaraan roda empat berbagai varian, mulai dari Mitsubishi Pajero, Toyota Rush, hingga Kijang Innova.

Langkah ini dilakukan agar mereka bisa memperluas pangsa pasar dengan menjadi mitra PT IMIP. Sebelumnya, para pengusaha rental itu hanya melayani pengguna masyarakat umum dan perusahaan-perusahaan di sekitar Bahodopi yang membutuhkan kendaraan operasional. "Tapi order dari IMIP masih minim. Seminggu paling hanya dua mobil yang dipakai," ujar Latif 

Baca Juga: Nasib LCGC Saat Mobil Listrik Murah Makin Bergairah

Harga Tanah Melonjak

Jumlah usaha yang terus bertambah saban tahun membuat ketersediaan lahan, terutama di lokasi-lokasi strategis kian berkurang. Pantauan Kontan selama berada di Bahodopi pada 20 Juli hingga 23 Juli 2025, minim lahan kosong di lokasi strategis di pinggir Jalan Trans Sulawesi yang masih bisa dibangun tempat usaha baru.

Kalaupun ada tanah yang dijual, harganya paling murah Rp2 juta per meter persegi (m2). "Pertama kali kami masuk, satu hektare tanah masih bisa ditukar dengan sekarung beras," kenang Dedy.

Pernyataan Dedy merujuk pada sekitar tahun 2007, ketika PT Bintang Delapan Mineral (BDM) memulai aktivitas pertambangan bijih nikel di wilayah itu.

Apa yang disampaikan Dedy sesungguhnya tak berlebihan. Pada Juli 2022 lalu, KONTAN pernah melakukan reportase langsung untuk memotret perkembangan ekonomi masyarakat Bahodopi.

"Dulu tanah di sini tak ada harganya. Tanah cuma bisa dibarter pakai ikan atau beras, kalau mereka butuh makan atau kalau ada pesta," kata Sarpan, salah seorang warga Bahodopi kala itu.

Soal nilai tanah yang hampir tak ada harganya bisa dimaklumi mengingat Bahodopi kala itu memang masih daerah tertinggal nan terpencil. Mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai petani dan nelayan kecil. Sementara kontur lahannya banyak yang masih berupa bukit dan rawa. 

Seiring masuknya BDM, disusul groundbreaking pembangunan pabrik pengolahan nikel PT Sulawesi Mining Investment, perusahaan patungan Tsingshan Group dengan PT BDM pada Juli 2013, wajah Bahodopi mulai berubah. Transformasi wilayah itu kian pesat setelah Kawasan Industri IMIP diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo pada 29 Mei 2015.

Bukit-bukit dikikis hingga rata dengan bantuan alat berat, yang sebagian merupakan alat berat bantuan program Corporate Social Responsibility (CSR) dari IMIP. Tanah dan batu hasil kikisan perbukitan itu lantas dipakai untuk memadatkan dan meratakan rawa-rawa.

Alhasil, harga tanah pun merangkak naik. Sarpan mengenang, tahun 2010, harga tanah di desa-desa sekitar Kawasan IMIP hanya Rp 12.000 per m2. Lalu naik lagi ke kisaran Rp 200.000 per m2. Pada Juli 2022 itu, harganya sudah sampai Rp 1 juta per m2.

Baca Juga: Tidak Jadi Bangun Smelter RKEF di Morowali, INCO Bersama GEM Bangun HPAL Sambalagi

Selain sektor perdagangan dan jasa yang mendominasi di Bahodopi, usaha pertanian juga mulai berkembang di wilayah pertambangan ini. Hal tersebut tak lepas dari peran IMIP, yang sejauh ini telah menggandeng lima kelompok tani binaan. Mereka memasok berbagai jenis sayuran seperti sawi, timun, dan cabai untuk kebutuhan konsumsi karyawan IMIP dan tenant di dalam kawasan.

Salah satunya adalah Kelompok Tani Berkah Mombula yang berada di Desa Le-Le. Kelompok tani tersebut memasok 50 persen hasil produksi sayurannya ke IMIP dan sebagian lagi dilempar ke pasar.

"Dalam sebulan PO (purchase order-red) dari IMIP sekitar 5 ton," kata Sukarno, Pendamping Kelompok Tani Berkah Mombula, Selasa (22/7).

Tak cuma sayuran, IMIP juga menggandeng Bumdes untuk memasok kebutuhan sembako di dalam kawasan mereka. Menurut Dedy, ada 12 Bumdes dari 12 desa di Kecamatan Bahodopi yang dilibatkan sebagai pemasok sembako untuk kebutuhan IMIP.

Baca Juga: Menilik Peluang Emiten Nikel RI di Tengah Aksi Borong yang Dilakoni Pembeli China

Makroekonomi Membaik

Secara makro, efek ekonomi keberadaan IMIP juga tercermin dari data Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulteng. Tengok saja, nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Morowali dari 2022 ke 2023 tumbuh 7,68%. PDRB kabupaten tersebut kembali naik 10% dari Rp158,04 triliun pada 2023 menjadi Rp173,86 triliun pada 2024.

Sementara berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Morowali, industri pengolahan mendominasi pembentuk PDRB Morowali. Pada 2024 mencapai 73,60%, naik dari 72,72% persen di tahun 2023. 

Selanjutnya usaha pertambangan dan penggalian sebesar 16,80%, turun dari 17,79 persen di 2023. Lalu, lapangan usaha konstruksi mencapai 5,23%, turun dibandingkan 2023 yang 5,37%. 

 

Di sisi lain, tingkat konsumsi masyarakat di Morowali juga cukup tinggi. Ini tercermin dari nilai outflow atau jumlah uang yang dibelanjakan, yang jauh lebih besar dibandingkan jumlah uang yang disimpan (inflow). 

Dalam periode 2022-2024 selisihnya selalu di atas Rp 2 triliun. Pada 2024 misalnya, nilai net outflow-nya mencapai Rp 2,31 triliun.

Geliat ekonomi di Bahodopi ikut mendorong perkembangan kualitas hidup warga Morowali secara keseluruhan. Data BI Provinsi Sulteng memperlihatkan, skor Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Morowali meningkat dari 73,39 pada 2022 menjadi 74,36 pada 2024. Alhasil, IPM Morowali menjadi yang tertinggi kedua di antara kabupaten dan kota lain di Sulteng.

Nah, perbaikan skor IPM ini berjalan beriringan dengan penurunan tingkat kemiskinan di kabupaten tersebut. Data BPS, jumlah penduduk Kabupaten Morowali pada 2024 sebanyak 190,45 ribu jiwa. Sementara tingkat kemiskinannya mencapai 11,55%. 

Meski masih di atas dua digit, dalam 10 tahun terakhir (2015-2024) persentasenya terus mengalami penurunan. Tingkat kemiskinan di Morowali hanya naik pada 2021 seiring pandemi Covid-19 yang melanda.

 

 

Baca Juga: Menakar Geopolitik Komoditas Nikel

Penyerapan Pekerja Lokal

Perkembangan data kemiskinan tersebut juga klop dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kabupaten Morowali yang cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024 angkanya menurut BPS Provinsi Sulteng ada di 2,84%.

 

 

Kondisi ini tak bisa dilepaskan dari kebijakan IMIP soal rekrutmen pekerja. Sebagai gambaran saja, dari jumlah tenaga kerja lokal di Kawasan IMIP sebanyak 85.423 orang per 3 Mei 2025, 15.317 pekerja atau 17,93% di antaranya berasal dari Kabupaten Morowali.

"IMIP memang memberikan prioritas penerimaan karyawan untuk warga Morowali. Bahkan lulusan SD pun diterima untuk level kru. Sambil berjalan, kami tingkatkan skill-nya," kata Dedy.

Untuk mendapatkan pasokan tenaga kerja terampil siap pakai, terutama yang berasal dari Morowali, IMIP bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian mendirikan Politeknik Industri Logam Morowali (PILM). Berbagai sarana dan prasarana seperti gedung perkuliahan, laboratorium, bengkel kerja, dan gedung administrasi mulai dibangun sejak 2015, di atas lahan seluas sekitar 30 hektare yang disediakan IMIP di Desa Padabaho, Kecamatan Bahodopi. 

Merujuk situs resminya, penerimaan mahasiswa baru dimulai sejak tahun akademik 2017. Sejauh ini ada tiga program studi di PILM; Teknik Listrik dan Instalasi, Teknik Perawatan Mesin, dan Teknik Kimia Mineral.

Baca Juga: Ekspansi Ke Bisnis Nikel, Indo Tambangraya (ITMG) Borong Saham NICE

Di saat bersamaan, untuk menarik minat masyarakat IMIP menyediakan berbagai program beasiswa. Khusus bagi mahasiswa PILM, disediakan Beasiswa Politeknik berupa bantuan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang diberikan sejak semester 1 hingga selesai kuliah. Berdasarkan data per 20 Juli 2025 yang diperoleh dari IMIP, total ada 244 mahasiswa PILM yang sudah menerima Beasiswa Politeknik. 

Selain itu, IMIP juga memberikan Beasiswa Hilirisasi kepada mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Jumlah penerimanya kini sudah mencapai 1.042 mahasiswa, termasuk mahasiswa PILM.

Khusus bagi mahasiswa yang memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Morowali, Beasiswa Hilirisasi yang diberikan berupa bantuan pembayaran UKT selama 6 semester. Sementara mahasiswa yang berasal dari luar Morowali mendapatkan bantuan UKT selama 4 semester.

Benefit lainnya, mahasiswa PILM mendapatkan kesempatan magang di perusahaan yang menjadi tenant IMIP selama dua semester. "Mahasiswa yang lulus semuanya langsung diterima bekerja di IMIP,” kata Agus Salim Opu, Direktur PILM, saat berbincang dengan awak media di area laboratorium perguruan tinggi vokasi tersebut, Senin, 21 Juli 2025.

Bagikan

Berita Terbaru

XLSmart Merugi di Kuartal Pertama Usai Merger, Begini Gambaran Kinerja ISAT
| Jumat, 29 Agustus 2025 | 14:00 WIB

XLSmart Merugi di Kuartal Pertama Usai Merger, Begini Gambaran Kinerja ISAT

PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), perusahaan gabungan XL Axiata dan Smartfren merugi usai resmi merger pada 17 April 2025.

Harga Terus Tergerus, Saham Alamtri Resources (ADRO) Dinilai Masih Menyimpan Potensi
| Jumat, 29 Agustus 2025 | 13:00 WIB

Harga Terus Tergerus, Saham Alamtri Resources (ADRO) Dinilai Masih Menyimpan Potensi

Rencana PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) memulai bisnis di bidang energi terbarukan menjadi salah satu katalis positif.

IHSG Tumbang 2%, BI Intervensi Rupiah yang Sempat Menembus Rp 16.500
| Jumat, 29 Agustus 2025 | 12:06 WIB

IHSG Tumbang 2%, BI Intervensi Rupiah yang Sempat Menembus Rp 16.500

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 2,27% atau 180,81 poin menjadi 7771,28 pada akhir perdagangan sesi I hari ini, Jumat (29/8).

Perluasan Pasar Bikin Saham Pyridam Farma (PYFA) Melaju Kencang
| Jumat, 29 Agustus 2025 | 12:00 WIB

Perluasan Pasar Bikin Saham Pyridam Farma (PYFA) Melaju Kencang

Akuisisi Probiotec dinilai sebagai momentum penting yang menandai transformasi PYFA menjadi bagian dari rantai pasok global.

Emiten Sawit Haji Isam Melesat ke ARA, Saatnya Hold atau Jual?
| Jumat, 29 Agustus 2025 | 11:00 WIB

Emiten Sawit Haji Isam Melesat ke ARA, Saatnya Hold atau Jual?

Kamis (28/8), saham PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) dan PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) kompak ditutup pada level auto reject atas (ARA).

Kinerja Saham Masih Tertatih, Indofood (INDF) Masih Direkomedasikan
| Jumat, 29 Agustus 2025 | 09:28 WIB

Kinerja Saham Masih Tertatih, Indofood (INDF) Masih Direkomedasikan

Kinerja INDF masih terus ditopang oleh anak usahanya ICBP, dengan proyeksi kontribusi penjualan kepada INDF sebanyak 63% di tahun 2025.

Profit 28,19% Setahun, Cek Harga Emas Antam Hari Ini (29 Agustus 2025)
| Jumat, 29 Agustus 2025 | 08:54 WIB

Profit 28,19% Setahun, Cek Harga Emas Antam Hari Ini (29 Agustus 2025)

Jumat (29 Agustus 2025) harga emas batangan di laman resmi Logam Mulia PT Aneka Tambang naik Rp 20.000 per saham.

Patriot Bond Tak Ganggu Anggaran Negara
| Jumat, 29 Agustus 2025 | 08:40 WIB

Patriot Bond Tak Ganggu Anggaran Negara

Ada risiko ketidakpastian fiskal jika pasar menganggap adanya jaminan secara implisit dari negara terhadap utang Danantara

Jangkar Diangkat, Harga Saham HUMI dan MITI Melaju Kencang Bak di Lautan Tenang
| Jumat, 29 Agustus 2025 | 08:38 WIB

Jangkar Diangkat, Harga Saham HUMI dan MITI Melaju Kencang Bak di Lautan Tenang

Prospek industri dan ekspansi yang digadang HUMI dan MITI ditengarai menjadi katalis yang mendorong harga sahamnya belakangan ini.

Belanja Kembali Tertahan Setelah Usai Libur Lebaran
| Jumat, 29 Agustus 2025 | 08:19 WIB

Belanja Kembali Tertahan Setelah Usai Libur Lebaran

Ekonom perkirakan pertumbuhan konsumsi rumahtangga pada kuartal III-2025 cuma 4,9%, melambat dari periode sebelumnya         

INDEKS BERITA

Terpopuler