Siap-Siap Menghadapi Uni Eropa yang Protektif dan Lebih Hijau

Selasa, 28 Mei 2019 | 19:00 WIB
Siap-Siap Menghadapi Uni Eropa yang Protektif dan Lebih Hijau
[]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - BRUSSELS. Arah kebijakan yang diambil Uni Eropa sangat mungkin berubah dalam waktu dekat. Prediksi itu mengacu ke hasil pemilihan anggota parlemen Uni Eropa yang berlangsung akhir pekan kemarin.

Partai konservatif dan sosialis yang selama ini menguasai parlemen Uni Eropa, masing-masing kehilangan selusin kursi dalam pemilihan kemarin.  Itu berarti, partai-partai yang berada di bawah kedua mazhab tersebut tak lagi bisa membentuk koalisi mayoritas. Partai konservatif dan sosialis kini harus mendapat dukungan dari partai-partai liberal dan hijau.

Dalam pemilihan kemarin, partai liberal mengantongi tambahan 40 kursi.  Liberal  pun kini menjadi partai dengan jumlah kursi terbanyak ketiga di parlemen yang beranggotakan 751 orang itu. Sedangkan partai hijau kini menguasai 69 kursi, dari sebelumnya 21 kursi.

Hasil pemilihan anggota legislatif itu bisa menjadi indikasi apa yang diinginkan warga Benua Biru saat ini. “Anda akan melihat bahwa warga Eropa ingin mendapat perlindungan. Mereka juga berharap perubahan iklim menjadi pertimbangan dalam perumusan setiap kebijakan,” tutur  Jean-Baptiste Lemoyne, menteri muda luar negeri Prancis, seperti dikutip Reuters..

Uni Eropa juga sangat mungkin akan mengambil kebijakan yang lebih tegas dalam urusan perdagangan dengan China. Mengingat, Partai Hijau mengingingkan Uni Eropa bersikap lebih keras dalam berunding dengan China.

Saat ini, cuma Prancis yang kerap menyoal kebijakan dagang dengan China. Negeri itu menginginkan Beijing untuk mengizinkan perusahaan asing mengikuti tender pekerjaan publik di Negeri Tembok Raksasa.

Perjanjian dagang termasuk agenda yang ramai diperdebatkan di parlemen Eropa selama lima tahun terakhir. Isyu pakta perdagangan yang diperdebatkan mulai keamanan produk hingga efek terhadap perubahan iklim.

Parlemen Eropa sejak tahun 2009 mengantongi kewenangan untuk memberi stempel persetujuan atas perjanjian dagang. Sebelum memberi persetujuan atas sebuah usulan pakta perdagangan, Eropa mempertimbangkan beragam hal, termasuk dukungan terhadap pembangunan yang berkelanjutan serta keberadaan sistim penyelesaian perselisihan.

Bahkan, partai tertentu, seperti partai hijau menggunakan sedemikian banyak isyu hingga mereka menentang kesepakatan dagang Eropa dengan negara-negara yang biasa dikelompokan sebagai negara maju, seperti Kanada, Jepang dan Singapura.

Mereka beralasan, kesepakatan dagang mendahulukan kepentingan para pebisnis dibandingkan kepentingan warga negara dan pekerja. Partai Hijau juga mengkritik kesepakatan dagang yang dinilai lebih fokus ke deregulasi, terutama di sektor keuangan, hingga cenderung mengabaikan standar keamanan untuk lingkungan dan konsumen.

Saat ini, Uni Eropa sedang membahas kesepakatan dagang dengan lima negara Amerika Latin yang masuk dalam blok Mercosur (Argentina, Brazil, Venezuela, Paraguay dan Uruguay). Negara lain yang sedang merundingkan pakta dagang dengan Uni Eropa adalah Australia, New Zealand dan Indonesia.

Bagikan

Berita Terbaru

Arus Dana Asing di Saham Masih Maju-Mundur, Investor Tunggu Kepastian Kebijakan
| Senin, 22 Juni 2026 | 09:05 WIB

Arus Dana Asing di Saham Masih Maju-Mundur, Investor Tunggu Kepastian Kebijakan

Keberlanjutan arus masuk dana asing ditentukan oleh kemampuan pemerintah membangun kembali kepercayaan investor.

BI Menyempitkan Area Spekulasi Dolar
| Senin, 22 Juni 2026 | 09:04 WIB

BI Menyempitkan Area Spekulasi Dolar

BI menurunkan threshold transaksi valas tanpa underlying menjadi US$10.000 yang berlaku efektif mulai 1 Juli 2026

Celah Moral Hazard Surat Utang Khusus Danantara
| Senin, 22 Juni 2026 | 08:49 WIB

Celah Moral Hazard Surat Utang Khusus Danantara

Aturan perlindungan hukum secara khusus yang diatur dalam UU P2SK menuai kecemasan                  

Saham MAPI Resilien Terjang Gejolak Pasar, Ditopang Akumulasi Institusi Asing
| Senin, 22 Juni 2026 | 07:46 WIB

Saham MAPI Resilien Terjang Gejolak Pasar, Ditopang Akumulasi Institusi Asing

Karakteristik konsumen dari kalangan kelas menengah atas membuat struktur permintaan terhadap produk-produk yang dijajakan MAPI lebih kokoh.

Masuk Bisnis Nikel, FITT Jual Aset Hotel
| Senin, 22 Juni 2026 | 07:40 WIB

Masuk Bisnis Nikel, FITT Jual Aset Hotel

PT Hotel Fitra International Tbk (FITT) bakal divestasi aset hotelnya di Majalengka, Jawa Barat, dan beralih ke industri jasa pertambangan nikel.​

Emiten Jasa Migas Masih Ngegas Saat Harga Minyak Mentah Lemas
| Senin, 22 Juni 2026 | 07:37 WIB

Emiten Jasa Migas Masih Ngegas Saat Harga Minyak Mentah Lemas

Tren penurunan harga minyak belakangan ini belum menjadi sinyal berakhirnya siklus positif bagi sektor migas maupun turunannya. ​

Emiten Lesu Darah Akibat Tinggi Suku Bunga dan Pelemahan Rupiah
| Senin, 22 Juni 2026 | 07:29 WIB

Emiten Lesu Darah Akibat Tinggi Suku Bunga dan Pelemahan Rupiah

Era suku bunga tinggi dan semakin loyonya rupiah terhadap dolar AS, bisa menjadi tantangan bagi emiten dalam membayar utang dalam bentuk valas.

Berharap Penjualan Mobil LCGC Melaju
| Senin, 22 Juni 2026 | 07:26 WIB

Berharap Penjualan Mobil LCGC Melaju

Konsumen mempertimbangkan dari sisi harga, besaran uang muka atau Down Payment (DP), cicilan bulanan, biaya operasional bulanan.

Mark Dynamics Indonesia (MARK) Kebanjiran Pesanan dari Pasar Ekspor
| Senin, 22 Juni 2026 | 07:13 WIB

Mark Dynamics Indonesia (MARK) Kebanjiran Pesanan dari Pasar Ekspor

MARK menjadi salah satu pemasok utama cetakan sarung tangan bagi produsen sarung tangan di Malaysia, Vietnam, Thailand, dan China.

Harga Emas dan Nikel Turun, Prospek Saham Antam (ANTM) Masih Positif?
| Senin, 22 Juni 2026 | 06:53 WIB

Harga Emas dan Nikel Turun, Prospek Saham Antam (ANTM) Masih Positif?

Emas menjadi mesin utama pendapatan Antam (ANTM), sementara nikel berperan sebagai mesin pertumbuhan laba.

INDEKS BERITA

Terpopuler