Sinergi Rapuh

Senin, 02 Februari 2026 | 06:10 WIB
Sinergi Rapuh
[ILUSTRASI. TAJUK - Djumyati Partawidjaja (KONTAN/Indra Surya)]
Djumyati Partawidjaja | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sistem ekonomi Indonesia diam-diam tengah diguncang "gempa tektonik" yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak reformasi 1998. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, muncul narasi "perang" terhadap status quo ekonomi yang dianggap terlalu lamban dan konservatif. 

Perubahan yang pertama terjadi di Kementerian Keuangan. Selama hampir dua dekade, Kementerian Keuangan menjadi simbol ortodoksi ekonomi yang sangat menekankan pada pengendalian defisit dan rasio utang. Tapi sejak Purbaya Yudhi Sadewa menjadi Menteri Keuangan, orientasinya berubah. Sekarang mereka mengutamakan pertumbuhan dan penggunaan APBN sebagai "alat perjuangan". 

Bank Indonesia yang selama ini menjadi benteng terakhir independensi ekonomi, sehingga bisa menjaga nilai tukar dan inflasi tanpa intervensi politik, mulai bergoyang. Masuknya Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI mengubah peta dengan drastis. Thomas bukan sekadar mantan wakil menteri keuangan yang membawa perspektif fiskal dalam rapat dewan gubernur, tapi ia juga keponakan Presiden Prabowo. Akibatnya, banyak yang menganalisis penunjukan ini sebagai upaya untuk memastikan kebijakan moneter tidak menghambat kebijakan fiskal yang ekspansif.

Muncul wacana pentingnya sinergi fiskal-moneter yang lebih erat. Padahal di dunia akademis dan profesional, fenomena ini membawa risiko fiscal dominance. Artinya,  bank sentral kehilangan kemampuan untuk mengendalikan inflasi, karena terpaksa mendukung kebutuhan pendanaan pemerintah. Pengalaman internasional menunjukkan pelemahan independensi bank sentral hampir selalu diikuti oleh ketidakstabilan mata uang dan pelarian modal asing dalam jangka panjang.

Terakhir, mundurnya 4 pejabat OJK dan BEI setelah drama hancurnya IHSG di akhir Januari lalu. Secara politis, kekosongan ini dipandang sebagai kesempatan bagi Presiden Prabowo untuk menempatkan "orang-orang kepercayaannya". Untuk BEI, rencana demutualisasi dan menjadikan Danantara sebagai pemegang saham, membuat bursa otomatis ada dalam kontrol pemerintah. 

Keinginan Presiden Prabowo untuk mempercepat pembangunan melalui integrasi kebijakan moneter, fiskal dan industri keuangan terdengar patriotik. Namun, sejarah ekonomi mengingatkan bahwa kemajuan yang diraih dengan menghancurkan independensi lembaga adalah kemajuan yang semu dan rapuh.

Selanjutnya: Nasib Rupiah Awal Pekan: Ini Prediksi & Faktor Penentu Fluktuasi

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Asing Buang Rp 9,5 Triliun Saham Bank Jumbo, Efek Domino Ancaman MSCI Untuk IHSG
| Senin, 02 Februari 2026 | 07:48 WIB

Asing Buang Rp 9,5 Triliun Saham Bank Jumbo, Efek Domino Ancaman MSCI Untuk IHSG

Dalam situasi penuh ketidakpastian, peran investor domestik menjadi sangat krusial sebagai penyangga pasar.

Soal Calon Nakhoda BEI, Purbaya Bungkam, Muncul Nama Jeffrey, Tiko dan Pahala
| Senin, 02 Februari 2026 | 07:28 WIB

Soal Calon Nakhoda BEI, Purbaya Bungkam, Muncul Nama Jeffrey, Tiko dan Pahala

Meskipun Dirut, tapi masih mengurus teknis operasional. Ke depan, pimpinan baru BEI harus mampu memenuhi permintaan MSCI.             

ESG Pakuwon (PWON): Merangkul Pekerja Lokal Saat Gencar Ekspansi
| Senin, 02 Februari 2026 | 07:24 WIB

ESG Pakuwon (PWON): Merangkul Pekerja Lokal Saat Gencar Ekspansi

Ekspansi yang dilakukan PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) tetap kencang di tahun ini. Simak juga rekomendasi sahamnya di sini

Perintah Danantara, PGAS Garap Bisnis Midstream dan Downstream
| Senin, 02 Februari 2026 | 07:22 WIB

Perintah Danantara, PGAS Garap Bisnis Midstream dan Downstream

Danantara menginginkan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) fokus pada bisnis midstream (antara) dan downstream atau sektor hilir gas bumi.​

Berharap Gejolak IHSG Mereda
| Senin, 02 Februari 2026 | 07:16 WIB

Berharap Gejolak IHSG Mereda

Tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi reda meskipun risiko eksternal terbuka di bulan Februari ini.

Efek MSCI, Duit Asing  Kabur Hampir Rp 14 Triliun, Simak Rekomendasi Hari Ini
| Senin, 02 Februari 2026 | 07:12 WIB

Efek MSCI, Duit Asing Kabur Hampir Rp 14 Triliun, Simak Rekomendasi Hari Ini

Dalam sepekan kemarin, dana asing sudah mencatatkan aksi jual alias net sell sekitar Rp 13,92 triliun.

Saatnya Bersihkan Bursa dari Saham-Saham Gorengan
| Senin, 02 Februari 2026 | 07:04 WIB

Saatnya Bersihkan Bursa dari Saham-Saham Gorengan

Hari ini, BEI, OJK, dan KSEI akan melakukan pertemuan dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Saham Sawit 2026: Laba Terancam, tapi Peluang Tetap Ada? Ini Kata Analis
| Senin, 02 Februari 2026 | 07:00 WIB

Saham Sawit 2026: Laba Terancam, tapi Peluang Tetap Ada? Ini Kata Analis

Kebijakan B50 batal, harga CPO berpotensi moderat. Ada risiko baru menekan fundamental AALI, BWPT, LSIP. Jangan sampai rugi

 Mengukur Prospek Saham Perbankan di Februari
| Senin, 02 Februari 2026 | 06:55 WIB

Mengukur Prospek Saham Perbankan di Februari

Setelah diterpa sentimen MSCI dan mundurnya bos BEI, saham bank besar menutup bulan Januari 2026 dengan penguatan terbatas

Tiga Raksasa Wall Street Sibuk Average Down Bikin Saham AMMN Melesat Sendirian
| Senin, 02 Februari 2026 | 06:55 WIB

Tiga Raksasa Wall Street Sibuk Average Down Bikin Saham AMMN Melesat Sendirian

Keberanian asing melakukan average down saham AMMN disinyalir karena prospek fundamental jangka panjang. 

INDEKS BERITA

Terpopuler