Situasi Domestik Tak Sama, Otoritas Moneter di Negara Maju Ambil Jalan Berbeda

Jumat, 17 Desember 2021 | 15:58 WIB
Situasi Domestik Tak Sama, Otoritas Moneter di Negara Maju Ambil Jalan Berbeda
[ILUSTRASI. Pejalan kaki yang menggunakan masker melintas di depan Bank of England di London, Inggris, 11 Maret 2020. REUTERS/Henry Nicholls/File Photo]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID -  LONDON. Inggris pada Kamis (16/12) menjadi negara makmur pertama yang menaikkan suku bunga sejak awal pandemi. Sementara otoritas moneter di Amerika Serikat (AS), Federal Reserve AS mengirimkan sinyal untuk beralih ke kebijakan ketat di tahun depan 2022. Lalu, Bank Sentral Eropa memperlihatkan tanda akan mengekang stimulus.

Perbedaan jalur yang diambil bank sentral di negara-negara maju menggarisbawahi ketidakpastian tentang bagaimana varian Omicron yang menyebar cepat akan menghantam ekonomi global. Perbedaan kebijakan juga mencerminkan perbedaan pandangan otoritas moneter tentang pergerakan harga di masing-masing negara. Di AS dan Inggris, inflasi melaju dengan kencang. Namun inflasi bergerak lebih perlahan di Eropa dan Jepang.

Jika risiko harga yang tidak terkendali menjadi pertimbangan utama bagi The Fed dan Bank of England (BOE), maka Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde melihat masalah yang berbeda di yurisdiksinya. Dalam konferensi pers, ia menyatakan pandemi sekali lagi akan menekan belanja di zona Euro, hingga mengancam pertumbuhan.

Baca Juga: Cemaskan Inflasi, BOE Menjadi Bank Sentral Pertama di Negara Maju yang Mengerek Bunga

"Untuk mengatasi gelombang pandemi saat ini, beberapa negara telah memberlakukan langkah-langkah pencegahan yang lebih ketat. Ini dapat menunda pemulihan. Pandemi membebani kepercayaan konsumen dan bisnis," kata Lagarde.

Dalam situasi terkini, "Kita perlu mempertahankan fleksibilitas dan opsionalitas dengan menarik dukungan langkah demi langkah, tetapi tidak berkomitmen untuk sepenuhnya keluar dari program dukungan pandemi," tutur dia.

The Fed, sebaliknya, berkomitmen pada hari Rabu untuk mengakhiri pembelian obligasi pandemi pada bulan Maret dan menetapkan jadwal kenaikan suku bunga yang lebih cepat dari rencana semula.

Baca Juga: The Fed Beri Kepastian Kenaikan Suku Bunga, Bursa Asia Menguat

Ketua Fed Jerome Powell mengatakan, tahun depan AS akan menuju pertumbuhan yang kuat dan lapangan kerja penuh, prospek yang masih jauh dari jangkauan sebagian besar negara di Eropa. Powell juga menyatakan bahwa Fed perlu memperlakukan inflasi sebagai risiko yang lebih mendesak.

Pembuat kebijakan di BOE menaikkan suku bunga acuan Bank Rate pada hari Kamis menjadi 0,25% dari 0,1%. Kenaikan itu berlawanan dengan ekspektasi para ekonom. BoE mengatakan inflasi akan mencapai 6% di bulan April, tiga kali lipat daripada kisaran target yang ditetapkan BoE.

"Komite terus menilai bahwa ada risiko dua sisi di sekitar prospek inflasi dalam jangka menengah, tetapi beberapa pengetatan kebijakan moneter sederhana selama periode perkiraan kemungkinan diperlukan untuk memenuhi target inflasi 2% secara berkelanjutan," kata bank sentral Inggris.

Infeksi virus corona harian Inggris berada pada level tertinggi sejak hari-hari awal pandemi, memaksa Perdana Menteri Boris Johnson minggu ini untuk memberlakukan pembatasan baru.

Indeks Manajer Pembelian (PMI) Inggris untuk Desember yang dipublikasikan Kamis, menunjukkan Omicron telah memukul sektor perhotelan dan pariwisata di negeri itu. Data ekonomi yang diterbitkan sehari sebelumnya menunjukkan inflasi harga konsumen mencapai level tertinggi dalam satu dekade.

ECB, yang telah melampaui target inflasi untuk sebagian besar dekade terakhir, mempertahankan suku bunga, dan mengumumkan akhir dari skema pembelian aset darurat pandemi Maret mendatang.

Baca Juga: Ada Harapan Vaksin Covid-19 Bisa Menetralkan Omicron, Euro, Pound & Dollar AS Stabil

Tetapi bank sentral zona euro juga menjanjikan dukungan berlimpah yang diperlukan melalui Program Pembelian Aset yang sudah berlangsung lama. Itu menegaskan pandangannya yang lebih santai tentang ancaman inflasi. ECB juga mengirimkan isyarat akan bergerak perlahan-lahan dari kebijakan ultra longgar yang sudah berjalan selama bertahun-tahun.

Mayoritas pengambil keputusan memang memberi dukungannya terhadap kebijakan itu. Namun dalam pertemuan ECB smepat ada ketegangan, karena beberapa pembuat kebijakan memperingatkan bank itu untuk tidak meremehkan risiko inflasi.

Di Asia, Bank of Japan (BOJ) mempertahankan kebijakan moneter ultra-longgar pada pertemuannya pada hari Jumat. Namun BOJ menarik kembali program darurat yang terkait dengan pandemi.

Dengan inflasi tingkat konsumen yang sebagian besar tidak ada, Jepang secara luas diperkirakan akan mengurangi bantuan ekonomi pada kecepatan yang jauh lebih lambat daripada banyak negara lain.

The Fed pada Rabu meningkatkan kecepatan pemangkasan nilai obligasi yang dibelinya. Perkiraan dari pembuat kebijakan mengisyaratkan sebanyak otoritas moneter itu akan melakukan kenaikan suku bunga hingga tiga kali sepanjang tahun depan.

"Ekonomi tidak lagi membutuhkan peningkatan jumlah dukungan kebijakan," kata Powell pada konferensi pers. "Dalam pandangan saya, kami membuat kemajuan pesat menuju lapangan kerja maksimum."

Powell dan The Fed tampaknya telah menetapkan agenda kerja yang penuh gejolak di tahun 2022. "Pernyataannya di kongres lebih banyak membahas tentang pengetatan yang lebih cepat daripada kekhawatiran tentang kesehatan ekonomi global," kata Vincent Reinhart, kepala ekonom untuk Dreyfus & Mellon.

Baca Juga: Jepang tetap gelontorkan stimulus saat negara lain mempererat kebijakan

Bank sentral Norwegia, yang telah menaikkan bunga di bulan September, menyusul rebound ekonomi, berniat melanjutkan kenaikan. Bank itu juga menyatakan jumlah negara yang mengikuti langkahnya akan bertambah.

Sebelumnya pada hari Kamis, Swiss National Bank mempertahankan sikap ultra-longgarnya dengan suku bunga kebijakan terkunci di -0,75%. Inflasi Swiss - meskipun meningkat - masih terlihat jauh lebih rendah daripada di tempat lain hanya 1% tahun depan, melambat menjadi 0,6% pada tahun 2023.

"SNB mempertahankan kebijakan moneter ekspansifnya," katanya dalam sebuah pernyataan. "Dengan demikian memastikan stabilitas harga dan mendukung ekonomi Swiss dalam pemulihannya dari dampak pandemi virus corona."

Bagikan

Berita Terbaru

Inflasi per Desember 2025 Mencapai 2,92%, Naik dari 1,57% Tahun Lalu
| Senin, 05 Januari 2026 | 13:22 WIB

Inflasi per Desember 2025 Mencapai 2,92%, Naik dari 1,57% Tahun Lalu

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan atau year on year (YoY) pada Desember 2025 sebesar 2,92%.

ESG Mandiri Investasi (MMI): Menimbang Reksadana ESG yang Tak Melulu Soal Cuan
| Senin, 05 Januari 2026 | 09:22 WIB

ESG Mandiri Investasi (MMI): Menimbang Reksadana ESG yang Tak Melulu Soal Cuan

Mandiri Manajemen Investasi (Mandiri Investasi) menyodorkan produk reksadana ESG. Bagaimana return, risiko, dan prospeknya?

Restrukturisasi Sebatas Demi Bertahan Hidup, Ini Tantangan Danantara di WSKT & KAEF
| Senin, 05 Januari 2026 | 08:52 WIB

Restrukturisasi Sebatas Demi Bertahan Hidup, Ini Tantangan Danantara di WSKT & KAEF

Kasus yang menimpa WSKT dan KAEF menunjukkan garansi nama pemerintah terbukti tidak selalu mampu melindungi kepentingan pemegang saham ritel.

Saham Big Caps Jadi Buruan dan Buangan Investor Asing
| Senin, 05 Januari 2026 | 08:43 WIB

Saham Big Caps Jadi Buruan dan Buangan Investor Asing

Pada 2026, asing diproyeksi akan kembali berburu saham bank big caps​.  Di sepanjang 2025, investor asing mencatatkan net sell Rp 17,34 triliun.​

Dana Asing Dukung Stabilitas Rupiah 2026
| Senin, 05 Januari 2026 | 08:40 WIB

Dana Asing Dukung Stabilitas Rupiah 2026

Arus modal asing pada 2026 diperkirakan akan lebih banyak mengalir ke pasar saham Indonesia         

Data Transaksi Kripto Masuk Radar Ditjen Pajak
| Senin, 05 Januari 2026 | 08:23 WIB

Data Transaksi Kripto Masuk Radar Ditjen Pajak

Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 108 Tahun 2025 mengatur pelaporan transaksi kripto di atas US$ 50.000

Kontradiksi Grup Salim: Saat BUMI Melesat 210%, Raksasa Konsumer Justru Terjerembap
| Senin, 05 Januari 2026 | 08:18 WIB

Kontradiksi Grup Salim: Saat BUMI Melesat 210%, Raksasa Konsumer Justru Terjerembap

Prospek saham Grup Salim 2026 memasuki fase matang. Intip analisis performa BUMI yang melesat 210% hingga rekomendasi trading buy ICBP..

Saham TLKM Jadi Unggulan Sektor Telko di 2026, Diborong JP Morgan, FMR dan Invesco
| Senin, 05 Januari 2026 | 07:59 WIB

Saham TLKM Jadi Unggulan Sektor Telko di 2026, Diborong JP Morgan, FMR dan Invesco

Fundamental dinilai kuat, simak peluang saham TLKM mencapai target harga Rp 4.000 per saham di tahun 2026.​

Direktur Utama KB Bank: Corporate Banking Jadi Mesin Pertumbuhan Utama
| Senin, 05 Januari 2026 | 07:33 WIB

Direktur Utama KB Bank: Corporate Banking Jadi Mesin Pertumbuhan Utama

Kunardy Darma Lie, Direktur Utama KB Bank, mengandalkan disiplin risiko dan kecepatan eksekusi sebagai kunci transformasi. 

Menakar Kekuatan Saham Saratoga (SRTG) Mengejar Target 1.780 Usai Fase Konsolidasi
| Senin, 05 Januari 2026 | 07:33 WIB

Menakar Kekuatan Saham Saratoga (SRTG) Mengejar Target 1.780 Usai Fase Konsolidasi

Analis proyeksikan target harga hingga 1.780 didorong sinyal technical rebound dan prospek fundamental 2026.

INDEKS BERITA

Terpopuler