Skor Sementara, Gudang Garam (GGRM) Tertinggal dari Sampoerna (HMSP)

Jumat, 11 Januari 2019 | 07:00 WIB
Skor Sementara, Gudang Garam (GGRM) Tertinggal dari Sampoerna (HMSP)
[]
Reporter: Tedy Gumilar | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) sama-sama berstatus sebagai pemain besar di industri rokok tanah air. Di bursa saham, kedua emiten ini juga berstatus sebagai penggerak indeks. Namun, pertumbuhan harga sahamnya sejauh ini berada di jalur yang berbeda.

Tanpa memperhitungkan faktor free float, bobot HMSP terhadap IDX30 mencapai 11,12% dan GGRM 3,56%. Nah, mulai 1 Februari 2019, bobot HMSP dan GGRM dengan mempertimbangkan faktor free float masing-masing menjadi 2,36% dan 1,75%. Sama-sama terkoreksi namun penurunan bobot HMSP jauh lebih besar dari GGRM.

Yang menarik, kinerja harga saham HMSP sejauh ini malah lebih baik ketimbang GGRM. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan, secara year-to-date (ytd) hingga 10 Januari 2018, saham HMSP sudah naik 3,8%.

CIMB Securities Indonesia menjadi pembeli saham HMSP paling besar pada rentang waktu tersebut. Nilai pembeliannya mencapai Rp 82,8 miliar yang melibatkan 214.783 lot saham. Di saat yang bersamaan, Mandiri Sekuritas menjual 322.119 lot saham HMSP senilai Rp 125 miliar.

Sementara saham GGRM dalam periode tersebut malah minus 1,5%. Mandiri Sekuritas menjadi penjual saham GGRM yang paling banyak. Sekuritas pelat merah berkode CC itu menjual 7.342 lot senilai Rp 60,5 miliar. Sementara Credit Suisse Sekuritas Indonesia tercatat sebagai pembeli terbanyak dengan volume 9.119 lot senilai Rp 75,7 miliar.

William Hartanto, analis Panin Sekuritas menyebut, baik HMSP maupun GGRM sejatinya tengah berada dalam pola uptrend. Jika dilihat pergerakan harganya tren naik HMSP dimulai sejak 13 November 2018. Sementara GGRM sudah menanjak sejak penghujung Juni 2018.

Cuma, keduanya kini tengah mengalami koreksi sehat. Perbedaannya, koreksi harga GGRM sudah terjadi sejak awal 2019. Bahkan, pertandanya sudah terlihat sejak 27 Desember 2018 saat GGRM kembali gagal menembus resistance 84.500.

Sementara koreksi terhadap HMSP baru dimulai sejak 7 Januari 2019. Tatkala saham tersebut dibuka open gap up namun ditutup di bawah harga penutupan hari sebelumnya. "Keduanya masih koreksi sehat karena masih di atas indikator MA60 yang menjadi support terkuat dari uptrend," kata William.

Lebih menarik

Meski terkoreksi paling dalam, secara valuasi GGRM dipandang jauh lebih menarik ketimbang HMSP. Perhitungan Michael Wilson Setjoadi, price to earning ratio (PER) GGRM di harga Rp 82.000 ada di level 14,3 kali. Sementara di harga Rp 3.830 per saham, PER Sampoerna mencapai 28,5 kali. "Dari sisi valuasi GGRM jelas lebih menarik," tukas analis RHB Sekuritas Indonesia itu.

Secara fundamental, GGRM juga dinilai lebih baik ketimbang HMSP. Misalnya, data per kuartal II-2018 menunjukkan, dalam dua tahun terakhir penjualan rokok jenis SKM (sigaret kretek mesin) full flavour secara industri naik sekitar 18,5 miliar batang.

Nah, menurut Michael, GGRM merupakan pemain terbesar di segmen tersebut. Secara umum, kontribusi rokok SKM mencapai 90,34% dari total penjualan per September 2018 yang sebesar Rp 69,889 triliun.

Di sisi lain, jenis SKM light yang pasarnya dikuasai Sampoerna, penjualannya secara industri malah turun. Data terbaru, hingga kuartal II-2018, penurunannya sekitar 9 miliar batang dalam dua tahun terakhir. "Market share Sampoerna di SKM light 33,2% per kuartal III-2018," ujar Michael.

Akhmad Nurcahyadi, analis Samuel Sekuritas Indonesia memproyeksikan pendapatan SMGR pada 2018 bakal tumbuh 4,29% menjadi Rp 86,878 triliun. Pada tahun ini pertumbuhannya diestimasi 6,66% menjadi Rp 92,667 triliun.

Berdasar riset Samuel per 21 Desember 2018, laba bersih 2018 dan 2019 masing-masing diperkirakan tumbuh 5,08% menjadi Rp 8,148 triliun dan 17,11% menjadi Rp 9,542 triliun.

Di lain pihak, Joni Wintarja, analis NH Korindo Sekuritas memproyeksikan pendapatan 2018 tumbuh 7,57% menjadi Rp 106,596 triliun. Lalu, pada 2019 diperkirakan bisa tumbuh 7,11% menjadi Rp 114,176 triliun. Sementara laba bersih 2018 dan 2019 diestimasi tumbuh 2,64% menjadi Rp 13,005 triliun dan 6,32% menjadi Rp 13,827 triliun.

Joni dan Michael merekomendasikan hold saham HMSP masing-masing dengan target harga Rp 4.225 per saham dan Rp 3.800 per saham. Untuk saham GGRM Michael dan Akhmad merekomendasikan buy dengan target harga masing-masing Rp 100.000 per saham dan Rp 100.600 per saham.

Dalam tempo yang lebih pendek, William menilai Gudang Garam dan Sampoerna masih punya tenaga untuk menanjak. Hingga satu bulan ke depan, HMSP secara teknikal berpotensi mencapai level 4.000-4.200. Sementara GGRM ditargetkan bisa mencapai 87.000.

Sektoral mendukung

Proyeksi kenaikan harga keduanya juga ditopang oleh prospek industri rokok yang tengah mendapat angin segar. Ini seiring keputusan pemerintah yang tidak menaikkan tarif cukai rokok tahun depan.

Keputusan tersebut disambut lega pelaku industri lantaran kontribusi cukai terhadap harga pokok penjualan rokok sangat dominan. Maklum saja, dalam struktur biaya perusahaan, tarif cukai memakan sekitar 70% dari total COGS (cost of goods sold).

Dus, tahun ini perusahaan rokok relatif lebih leluasa, termasuk untuk mengotak-atik harga demi mengatrol margin. Meskipun tingkat kenaikan harganya mungkin tidak setinggi tahun lalu.

GGRM misalnya, tahun lalu menaikkan harga harga jual rata-rata produknya 6,4%. Tahun ini, Janni Asman, analis Maybank Kim Eng Securities dalam riset pada 13 Desember 2018 memperkirakan GGRM hanya akan menaikkan harga jual rata-rata produknya 0,7%.

Selain faktor tarif cukai, industri rokok diperkirakan bakal tertolong oleh kenaikan konsumsi masyarakat. Ini didorong oleh penyelenggaraan pemilihan umum (pemilu) dan kenaikan gaji karyawan, termasuk aparatur sipil negara.

Belum lagi ada kenaikan anggaran bantuan sosial yang digelontorkan pemerintah tahun depan. Misalnya untuk anggaran program keluarga harapan (PKH) anggarannya naik menjadi Rp 32,65 triliun dibanding posisi tahun lalu yang Rp 19,3 triliun.

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

Bunga Masih Tinggi, Ambil KPR Sekarang atau Nanti?
| Rabu, 22 Juli 2026 | 13:18 WIB

Bunga Masih Tinggi, Ambil KPR Sekarang atau Nanti?

Saat tren bunga tinggi, apakah saat yang tepat untuk mengambil KPR? Simak saran dari perencana keuangan.

Jerat Inflasi Biaya Pendidikan, Antara Daya Beli & Hak Konstitusi
| Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00 WIB

Jerat Inflasi Biaya Pendidikan, Antara Daya Beli & Hak Konstitusi

Saat ini revisi UU Sisdiknas belum mengatur mengenai putusan MK yang mewajibkan pemerintah menggratiskan biaya pendidikan dasar.

Mengintip Risiko Dari Euforia Rebound TPIA yang Diiringi Aksi Beli Investor Asing
| Rabu, 22 Juli 2026 | 09:08 WIB

Mengintip Risiko Dari Euforia Rebound TPIA yang Diiringi Aksi Beli Investor Asing

Di tengah optimisme terhadap proyek CA-EDC, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada strategi pendanaan yang dipilih TPIA.

Saham DSSA Melejit 15,34% Sehari, Mendingan Pilih Jual atau Masih bisa Ikutan Beli?
| Rabu, 22 Juli 2026 | 08:32 WIB

Saham DSSA Melejit 15,34% Sehari, Mendingan Pilih Jual atau Masih bisa Ikutan Beli?

Kenaikan harga saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) juga dipicu sentimen pasar dan aksi bargain hunting.

Reli Serentak, Nasib Berbeda: Membedah Katalis di Balik Lonjakan Saham Grup Bakrie
| Rabu, 22 Juli 2026 | 08:30 WIB

Reli Serentak, Nasib Berbeda: Membedah Katalis di Balik Lonjakan Saham Grup Bakrie

Analis menilai penguatan serentak kelima saham Grup Bakrie tak lepas dari sentimen risk-on yang sedang menyelimuti pasar secara keseluruhan.

Perluas Akses Masyarakat Membeli Logam Mulia, ANTM Menggandeng Bank Muamalat
| Rabu, 22 Juli 2026 | 08:27 WIB

Perluas Akses Masyarakat Membeli Logam Mulia, ANTM Menggandeng Bank Muamalat

Kerja sama ini memperluas distribusi, memperkuat rantai pasok emas  dan meningkatkan akses terhadap emas melalui pembiayaan syariah. 

Ada Pengendali Baru dan Transformasi Bisnis, Saham PKPK Masih Akan Melanjutkan Rally?
| Rabu, 22 Juli 2026 | 08:08 WIB

Ada Pengendali Baru dan Transformasi Bisnis, Saham PKPK Masih Akan Melanjutkan Rally?

Rally saham  PT Paragon Karya Perkasa Tbk (PKPK) yang telah berlangsung selama berbulan-bulan membuka peluang terjadinya profit taking.

Setelah Reli Panjang, Waspada Potensi Profit Taking, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Rabu, 22 Juli 2026 | 07:58 WIB

Setelah Reli Panjang, Waspada Potensi Profit Taking, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Setelah reli yang cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir, investor juga perlu mewaspadai potensi profit taking jangka pendek.

Kopi Kenangan Memacu Ekspansi Gerai di Semester II
| Rabu, 22 Juli 2026 | 07:19 WIB

Kopi Kenangan Memacu Ekspansi Gerai di Semester II

Perusahaan tetap berfokus merealisasikan target ekspansi yang telah ditetapkan sejak awal tahun, yakni menambah 300–400 gerai baru sepanjang 2026.

Menanti BI Rate, IHSG Rabu (22/7) Masih Punya Ruang Menguat
| Rabu, 22 Juli 2026 | 07:14 WIB

Menanti BI Rate, IHSG Rabu (22/7) Masih Punya Ruang Menguat

IHSG Rabu (22/7) masih berpeluang menguat, dengan level support 6.240-6.250 dan resistance di 6.390-6.400.​

INDEKS BERITA

Terpopuler