Stabil Tapi Rapuh

Senin, 05 Januari 2026 | 06:10 WIB
Stabil Tapi Rapuh
[ILUSTRASI. TAJUK - R Cipta Wahyana (KONTAN/Indra Surya)]
Cipta Wahyana | Senior Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sepanjang 2025, ekonomi Indonesia menunjukkan daya tahannya. Pertumbuhan bertahan di kisaran 5%, inflasi relatif terjaga, dan gejolak global tak sampai mengguncang stabilitas makro. Dalam lanskap ekonomi dunia yang rapuh, capaian ini memberi ruang bernapas bagi perekonomian nasional. Namun stabilitas, bukan tujuan, ia hanya prasyarat.

Di balik angka makro yang relatif solid, indikator mikro memberi sinyal yang lebih beragam. Konsumsi rumah tangga, penopang separuh lebih PDB, tumbuh melambat dan kian bergantung pada stimulus, diskon, serta sokongan kredit. Inflasi di permukaan terkendali, tetapi tekanan biaya hidup terasa karena pangan dan perumahan menyerap alokasi terbesar belanja rumah tangga bawah. Kualitas penciptaan lapangan kerja belum banyak berubah. Upah riil cenderung stagnan dan lapangan kerja baru masih didominasi sektor berproduktivitas rendah. Informalisasi pekerjaan kian meluas. 

APBN 2026, tampaknya, lebih diarahkan menjaga daya beli, menahan gejolak, dan meredam risiko perlambatan. Sebagai alat counter-cyclical, pendekatan ini memang diperlukan. Tanpa peran stabilisasi yang kuat, tekanan ekonomi justru berpotensi lebih dalam dan meluas. Masalahnya, alokasi belanja besar seperti MBG, belum ditopang kesiapan implementasi dan desain yang presisi. Teori bilang, investasi pada kualitas sumber daya manusia seperti MBG menjanjikan dampak jangka panjang. Tetapi dalam praktik, manfaatnya sangat ditentukan oleh tata kelola, ketepatan sasaran, dan konsistensi pelaksanaan. Ketika semua hal itu belum solid, belanja besar itu berisiko berhenti sebagai penyangga jangka pendek, bukan pengungkit produktivitas.

Struktur APBN 2026 masih menunjukkan dominasi belanja rutin, subsidi, dan bantuan sosial. Alokasi ini, mungkin, efektif menjaga stabilitas, tetapi terbatas dampaknya terhadap transformasi ekonomi. Belanja pendidikan dan infrastruktur tetap besar secara nominal, namun belum sepenuhnya terkonsentrasi pada penguatan keterampilan tenaga kerja, pendalaman industri, dan penciptaan nilai tambah. Ini tercermin pada stagnasi produktivitas dan manufaktur. Alokasi untuk riset, inovasi, serta penguatan UMKM agar naik kelas masih relatif terbatas. Akibatnya, APBN lebih berfungsi sebagai peredam guncangan ketimbang pengungkit kapasitas.

Ada catatan penting memasuki 2026. Stabilitas yang telah dicapai perlu dimanfaatkan untuk memperkuat fondasi jangka panjang. Selain menjaga ekonomi tetap bergerak, APBN mesti menyiapkan mesin pertumbuhan berikutnya. Tanpa optimalisasi ke arah itu, ekonomi akan tetap stabil namun berisiko kehilangan momentum untuk tumbuh lebih berkualitas dan berkelanjutan.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Kenaikan Minyak Persempit Ruang Fiskal
| Sabtu, 25 Juli 2026 | 07:33 WIB

Kenaikan Minyak Persempit Ruang Fiskal

Kenaikan harga minyak lebih berdampak pada fleksibilitas pemerintah dalam menambah alokasi belanja baru bagi kementerian/lembaga (K/L).

Pemerintah Ultimatum Peserta Tax Amnesty
| Sabtu, 25 Juli 2026 | 07:31 WIB

Pemerintah Ultimatum Peserta Tax Amnesty

Akhir 2026 menjadi tenggat terakhir pemenuhan komitmen peserta pengampunan pajak.                          

Jangan Mangkrak
| Sabtu, 25 Juli 2026 | 07:10 WIB

Jangan Mangkrak

Program pemerintah bisa menjadi jangkar awal KDKMP dan secara perlahan dievaluasi, yang layak diperkuat dan yang tidak dilebur.

AS Tambah Bea Masuk Produk dari Indonesia
| Sabtu, 25 Juli 2026 | 07:08 WIB

AS Tambah Bea Masuk Produk dari Indonesia

Amerika Serikat menetapkan tarif tambahan 10% untuk produk dari Indonesia, pengush memit pemerinth melaaakukan lobi

Anggaran Bayangan Korupsi Kepala Daerah
| Sabtu, 25 Juli 2026 | 07:00 WIB

Anggaran Bayangan Korupsi Kepala Daerah

Anggaran daerah saat ini oleh sebagian kepala daerah kerap diperlakukan sebagai portofolio bisnis pribadi.​

Rupiah Cermati Geopolitik & Pelemahan Ekonomi
| Sabtu, 25 Juli 2026 | 06:30 WIB

Rupiah Cermati Geopolitik & Pelemahan Ekonomi

Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot terkoreksi 0,15% secara harian ke Rp 17.963 per dolar AS pada Jumat (24/7).

Valas Asia Tertekan Lonjakan Harga Minyak
| Sabtu, 25 Juli 2026 | 06:15 WIB

Valas Asia Tertekan Lonjakan Harga Minyak

Eskalasi konflik AS-Iran yang mengerek harga minyak menjadi penekan utama kebutuhan impor energi negara-negara Asia.

Adu Otot Bunga Deposito Diprediksi Mengendur
| Sabtu, 25 Juli 2026 | 05:45 WIB

Adu Otot Bunga Deposito Diprediksi Mengendur

Persaingan bunga deposito di antara bank digital diprediksi masih akan tetap tinggi hingga akhir  tahun 2026.

Mustika Ratu (MRAT) Andalkan Inovasi Jaga Pertumbuhan
| Sabtu, 25 Juli 2026 | 05:20 WIB

Mustika Ratu (MRAT) Andalkan Inovasi Jaga Pertumbuhan

Saat ini, produk-produk Mustika Ratu telah dipasarkan  di lebih dari 40 negara, dan juga pasar internasional lainnya.

Hasil Investasi Masih Tergerus Volatilitas
| Sabtu, 25 Juli 2026 | 04:50 WIB

Hasil Investasi Masih Tergerus Volatilitas

Industri reasuransi hanya mengumpulkan hasil investasi Rp 317,8 miliar hingga Mei 2026, alias turun 35,9% secara tahunan.

INDEKS BERITA

Terpopuler