Stabil Tapi Rapuh
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sepanjang 2025, ekonomi Indonesia menunjukkan daya tahannya. Pertumbuhan bertahan di kisaran 5%, inflasi relatif terjaga, dan gejolak global tak sampai mengguncang stabilitas makro. Dalam lanskap ekonomi dunia yang rapuh, capaian ini memberi ruang bernapas bagi perekonomian nasional. Namun stabilitas, bukan tujuan, ia hanya prasyarat.
Di balik angka makro yang relatif solid, indikator mikro memberi sinyal yang lebih beragam. Konsumsi rumah tangga, penopang separuh lebih PDB, tumbuh melambat dan kian bergantung pada stimulus, diskon, serta sokongan kredit. Inflasi di permukaan terkendali, tetapi tekanan biaya hidup terasa karena pangan dan perumahan menyerap alokasi terbesar belanja rumah tangga bawah. Kualitas penciptaan lapangan kerja belum banyak berubah. Upah riil cenderung stagnan dan lapangan kerja baru masih didominasi sektor berproduktivitas rendah. Informalisasi pekerjaan kian meluas.
APBN 2026, tampaknya, lebih diarahkan menjaga daya beli, menahan gejolak, dan meredam risiko perlambatan. Sebagai alat counter-cyclical, pendekatan ini memang diperlukan. Tanpa peran stabilisasi yang kuat, tekanan ekonomi justru berpotensi lebih dalam dan meluas. Masalahnya, alokasi belanja besar seperti MBG, belum ditopang kesiapan implementasi dan desain yang presisi. Teori bilang, investasi pada kualitas sumber daya manusia seperti MBG menjanjikan dampak jangka panjang. Tetapi dalam praktik, manfaatnya sangat ditentukan oleh tata kelola, ketepatan sasaran, dan konsistensi pelaksanaan. Ketika semua hal itu belum solid, belanja besar itu berisiko berhenti sebagai penyangga jangka pendek, bukan pengungkit produktivitas.
Struktur APBN 2026 masih menunjukkan dominasi belanja rutin, subsidi, dan bantuan sosial. Alokasi ini, mungkin, efektif menjaga stabilitas, tetapi terbatas dampaknya terhadap transformasi ekonomi. Belanja pendidikan dan infrastruktur tetap besar secara nominal, namun belum sepenuhnya terkonsentrasi pada penguatan keterampilan tenaga kerja, pendalaman industri, dan penciptaan nilai tambah. Ini tercermin pada stagnasi produktivitas dan manufaktur. Alokasi untuk riset, inovasi, serta penguatan UMKM agar naik kelas masih relatif terbatas. Akibatnya, APBN lebih berfungsi sebagai peredam guncangan ketimbang pengungkit kapasitas.
Ada catatan penting memasuki 2026. Stabilitas yang telah dicapai perlu dimanfaatkan untuk memperkuat fondasi jangka panjang. Selain menjaga ekonomi tetap bergerak, APBN mesti menyiapkan mesin pertumbuhan berikutnya. Tanpa optimalisasi ke arah itu, ekonomi akan tetap stabil namun berisiko kehilangan momentum untuk tumbuh lebih berkualitas dan berkelanjutan.
