Sulit Pasang Target
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menjelang akhir tahun, biasanya korporat mulai berancang-ancang menyiapkan rencana bisnis atau business plan untuk tahun 2027. Kondisi ekonomi saat ini dan prospeknya ke depan sudah pasti menjadi rujukan para pebisnis dalam menentukan rencana bisnis ke depan.
Sayangnya, kondisi ekonomi kita belakangan kurang bersahabat. Dari pasar keuangan, tekanan berat tengah mendera. Bursa saham ambrol, kurs rupiah jatuh terpental ke level Rp 18.100-an, mendekati level terendah sepanjang masa. Pasar surat berharga negara (SBN) juga ikut tertekan, tercermin dari imbal hasil (yield) yang naik.
Dana asing banyak yang cabut. Dari pasar saham saja, sejak awal tahun net sell asing mencapai Rp 97,78 triliun per 29 Oktober 2026. Sentimen reklasifikasi MSCI yang membuka peluang penurunan status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market memang telah mendatangkan pukulan cukup telak ke pasar keuangan.
Tapi, kekhawatiran mengenai kondisi fiskal dan makroekonomi Indonesia juga membayangi. Apalagi setelah nilai tukar rupiah jatuh dan harga minyak dunia melambung tinggi.
Di atas kertas, data pertumbuhan ekonomi Indonesia memang masih mencapai 5,29% di kuartal II 2026 lalu. Namun, angka pertumbuhan ekonomi itu acap dianggap tak sesuai kenyataan yang dihadapi masyarakat.
Buktinya banyak yang mengeluhkan daya beli turun, harga barang naik, fenomena makan tabungan, jumlah kelas menengah makin menyusut, pemutusan hubungan kerja (PHK) meningkat, lapangan kerja terbatas.
Bahkan, belakangan muncul fenomena downgrade economy atau downgrade lifestyle di kalangan kelas menengah. Mereka menurunkan standar hidup mereka atau mengurangi konsumsi karena desakan ekonomi.
Survei Ahli Ekonomi Semester II 2026 yang dirilis Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), akhir pekan lalu, juga menangkap sinyal melemahnya kondisi ekonomi Indonesia ini.
Sebanyak 52% ahli ekonomi yang disurvei LPEM UI menyebut, kondisi ekonomi Indonesia saat ini lebih buruk dibandingkan tiga bulan sebelumnya. Sementara itu, bagi pebisnis, kondisi ekonomi ini tentu menyulitkan mereka menetapkan target bisnis
