Suryamas Dutamakmur (SMDM) Kian Berkibar Usai Pandemi Berakhir

Sabtu, 11 Juni 2022 | 04:10 WIB
Suryamas Dutamakmur (SMDM) Kian Berkibar Usai Pandemi Berakhir
[]
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mobilitas orang yang mulai pulih diharapkan bisa menjadi sentimen positif bagi kinerja PT Suryamas Dutamakmur Tbk (SMDM). Emiten ini juga optimistis bisa mengejar pertumbuhan penjualan dengan menggarap proyek yang sedang berjalan. 

Emiten yang bergerak di sektor properti ini sedang fokus mengembangkan tiga kawasan. Ketiga proyek utama yang menjadi andalan emiten berkode saham SMDM ini meliputi Rancamaya Golf Estate, Royal Tajur dan Harvest City. "Kami tetap fokus melanjutkan proyek-proyek yang sudah berjalan," ujar Ferry Suhardjo, Direktur & Sekretaris Perusahaaan Suryamas Dutamakmur, ke KONTAN.

Dari ketiga kawasan tersebut, SMDM menggarap proyek Kingsville cluster Amadeus Tahap 3, Ruko Kingshop tahap 2 di Rancamaya Golf Estate, Sakura Indica di Harvest City, serta low rise apartemen Royal Height tower B di Royal Tajur. Guna menopang kinerja bisnis dan keberlanjutan usahanya, SMDM memiliki cadangan lahan (landbank) yang cukup luas. 

Baca Juga: Suryamas Dutamakmur (SMDM) Mengejar Pertumbuhan Kinerja Lewat Proyek Existing

Ferry membeberkan, landbank SMDM tersebar di berbagai proyek perusahaan ini. Rinciannya, di proyek Rancamaya Golf Estate seluas 240 hektare (ha), di Royal Tajur seluas 31 ha, serta di Harvest City dengan luas 660 ha.

Landbank tersebut akan dikembangkan bertahap dengan pembukaan klaster baru yang fokus ke pengembangan perumahan (landed). Untuk proyek Harvest City, SMDM akan memperbanyak area komersial seperti kafe, restoran, supermarket bahan bangunan, dan jenis lainnya.

Penanganan Covid-19

Pada tahun ini, SMDM menganggarkan belanja modal alias capital expenditure (capex) hingga Rp 100 miliar. Capex tersebut akan dialokasikan untuk pembelian lahan mentah dan pematangan lahan di sekitar proyek yang sedang berjalan. Dana tersebut juga akan digunakan SMDM untuk memperbaiki beberapa kamar dan fasilitas di R-Hotel Rancamaya.

Dari bermacam portofolio yang dimiliki, lini usaha real estate lewat tiga proyek utama tersebut berkontribusi paling tinggi bagi pendapatan SMDM, hingga 72%. Sisanya, disokong pendapatan dari R-Hotel dengan porsi 12%, golf & country Club 11% dan estate management sekitar 4%.

Baca Juga: Direktur Suryamas Dutamakmur Ferry Suhardjo: Memutar Investasi di Properti

Ferry mengungkapkan, pengendalian pandemi Covid-19 bertransisi menjadi endemi merupakan katalis positif bagi SMDM. Sebab, penanganan Covid-19 berkorelasi dengan terjaganya pemulihan ekonomi dan kembali ramainya mobilitas masyarakat.

"Kondisi ini sangat berpengaruh kepada pendapatan perusahaan, terutama untuk R-Hotel Golf & Country Club," ujar Ferry, Jumat (10/6). Dia sangat berharap, semakin banyak event yang bisa diselenggarakan, dengan tetap menjaga protokol kesehatan. 

Sejatinya perbaikan kinerja sudah nampak pada kinerja SMDM di awal tahun ini. Dalam periode tiga bulan awal 2022, SMDM mampu membukukan penjualan senilai Rp 156,25 miliar. Angka ini tumbuh 14,53% dibandingkan realisasi kuartal I-2021 sebesar Rp 136,42 miliar.

Dari sisi bottom line, laba bersih SMDM ikut terangkat. SMDM meraih total laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp 41,88 miliar. Angka ini naik 26,10% dibandingkan realisasi kuartal I-2021 yang sebesar Rp 33,21 miliar.

Baca Juga: Aturan Pajak Daerah di UU HKPD Bisa Mengerek Harga Properti 

SMDM optimistis bisa menjaga pertumbuhan kinerja hingga akhir tahun 2022. Hingga tahun ini, SMDM mengaku masih akan akan mengandalkan lini bisnis real estate.

Bisnis real estate diharapkan bisa memberikan kontribusi sekitar Rp 487 miliar atau 77% dari pendapatan di tahun ini. Ferry berharap hasil dari proyek Rancamaya Golf Estate bisa menyumbang pendapatan sebesar Rp 169 miliar, Harvest City senilai Rp 250 miliar, dan sisanya akan ditopang dari proyek Royal Tajur.

Kemudian, R-Hotel dan Golf & Country  Club diharapkan bisa memberikan kontribusi masing-masing sebesar Rp 63 miliar. Sisanya, sebesar Rp 22 miliar ditargetkan akan berasal dari lini bisnis estate management.

Baca Juga: Pemerintah kerek batas atas tarif PBB-P2, ini tanggapan Metropolitan Kentjana (MKPI)

Sementara dari pendapatan pra penjualan (marketing sales), SMDM berharap bisa membukukan Rp 635 miliar di tahun ini. Angka ini meningkat sekitar 13% dibandingkan realisasi tahun 2021. "Sampai dengan Maret 2022, sudah tercapai 20% dari total target Rp 635 miliar," imbuh Ferry.

Untuk menggenjot marketing sales di sisa tahun ini, SMDM akan terus menggelar promo dan gimmick marketing. Misalnya subsidi uang muka, free BPHTB, hingga beragam hadiah langsung. 

Selain itu, di tengah transisi pandemi menjadi endemi, SMDM akan gencar melakukan kerjasama berupa event meeting dan outbond. Ferry berharap mobilitas orang yang meningkat bisa membuat kontribusi R Hotel bisa naik dan jumlah member golf juga jadi lebih banyak.    

Jumlah Saham Beredar Mini

Saham sektor emiten properti sepanjang tahun ini bergerak melemah. Namun pergerakan saham PT Suryamas Dutamakmur Tbk (SMDM) cenderung bergerak positif. Secara year to date (ytd), saham SMDM masih naik 5,1% di Rp 206 per saham pada Jumat (10/6). 

Kenaikan harga saham tersebut sejalan dengan kinerja emiten yang memiliki brand properti Rancamaya ini. Di kuartal I-2022, laba bersih SMDM naik 26% menjadi Rp 41,88 miliar. Tapi sejatinya berdasarkan data RTI hingga 31 Mei 2022, kepemilikan saham SMDM yang beredar di masyarakat kurang dari 5%, yakni hanya 3,38% setara dengan 161,28 juta saham. 

Kini mayoritas saham SMDM lebih banyak dimiliki oleh Top Global Ltd sebanyak 89% setara dengan 4,25 miliar. Sedangkan 7,62% digenggam JPMCB NA RE yang dikelola oleh Lotus Global Investment Ltd.   

Baca Juga: Bisnis Properti Moncer, Suryamas Dutamakmur (SMDM) Bidik Laba Bersih Rp 110 Miliar

Bagikan

Berita Terbaru

Purbaya Harus Tahu, Yield SBN Tinggi Akibat Risiko Investasi & Disiplin Fiskal Kendor
| Senin, 30 Maret 2026 | 11:19 WIB

Purbaya Harus Tahu, Yield SBN Tinggi Akibat Risiko Investasi & Disiplin Fiskal Kendor

Tingginya yield SBN menandakan harga obligasi sedang turun dan persepsi risiko dalam negeri  meningkat.

Menimbang Investasi dan Risiko Geopolitik
| Senin, 30 Maret 2026 | 10:48 WIB

Menimbang Investasi dan Risiko Geopolitik

Melihat kecenderungan ini, sudah saatnya politik dan geopolitik menjadi salah satu pertimbangan bisnis keberlanjutan. 

Sinyal Bahaya Mengintai! Efek Jeda Suku Bunga BI 4,75% Berpotensi Menjerat Laba Bank
| Senin, 30 Maret 2026 | 09:15 WIB

Sinyal Bahaya Mengintai! Efek Jeda Suku Bunga BI 4,75% Berpotensi Menjerat Laba Bank

Masyarakat cenderung makin berhati-hati dalam mengambil komitmen pembiayaan jangka panjang, seperti KPR dan KKB.

Perluas Segmen OEM dan Baterai EV, Cek Rekomendasi dan Target Harga Saham DRMA
| Senin, 30 Maret 2026 | 08:30 WIB

Perluas Segmen OEM dan Baterai EV, Cek Rekomendasi dan Target Harga Saham DRMA

Mandiri Sekuritas memproyeksikan laba bersih 2026 DRMA bakal terbang sekitar 23,46% menjadi di kisaran Rp 805 miliar.

Menengok Potensi Sektor Saham di Kuartal Kedua
| Senin, 30 Maret 2026 | 08:03 WIB

Menengok Potensi Sektor Saham di Kuartal Kedua

Memasuki kuartal II-2026, pundak investor dalam negeri menanggung sentimen negatif. Sentimen apa saja yang harus diawasi market?

Saham BRMS Mulai Bangkit, Disengat Aksi Borong Blackrock, Vanguard Hingga Manulife
| Senin, 30 Maret 2026 | 08:00 WIB

Saham BRMS Mulai Bangkit, Disengat Aksi Borong Blackrock, Vanguard Hingga Manulife

Laba bersih PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) pada 2026 diperkirakan mampu melonjak ke angka US$ 94 juta.

Tekanan Jual, Rupiah Loyo dan Sentimen Global, Berikut Proyeksi IHSG Hari Ini
| Senin, 30 Maret 2026 | 07:43 WIB

Tekanan Jual, Rupiah Loyo dan Sentimen Global, Berikut Proyeksi IHSG Hari Ini

Kenaikan harga minyak mentah dan gas alam menjadi sentimen negatif, di tengah kekhawatiran  supply serta dampak kenaikan harga energi ke inflasi

Harga Batubara Membara! Asing Guyur Ratusan Miliar ke Saham AADI, BUMI, ITMG dan PTBA
| Senin, 30 Maret 2026 | 07:30 WIB

Harga Batubara Membara! Asing Guyur Ratusan Miliar ke Saham AADI, BUMI, ITMG dan PTBA

Harga batubara menguat tajam di atas US$ 140 per ton pada Jumat pekan lalu, mendekati level tertingginya sejak Oktober 2024.

Awal Pekan: Persepsi Risiko Jelek, Rupiah Jeblok, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Senin, 30 Maret 2026 | 07:22 WIB

Awal Pekan: Persepsi Risiko Jelek, Rupiah Jeblok, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Dari faktor domestik, persepsi terhadap risiko fiskal, kenaikan CDS dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah menjadi pemberat bursa saham.

Gadai Ramai, Kredit Tetap Landai
| Senin, 30 Maret 2026 | 07:12 WIB

Gadai Ramai, Kredit Tetap Landai

Permintaan gadai naik untuk memenuhi kebutuhan saat Ramadan dan Lebaran.                                 

INDEKS BERITA