Swasembada Pangan

Jumat, 09 Januari 2026 | 06:12 WIB
Swasembada Pangan
[ILUSTRASI. TAJUK - Djumyati Partawidjaja (KONTAN/Indra Surya)]
Djumyati Partawidjaja | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saat banyak pemimpin negara mengecam serangan Presiden Trump menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, tak ada kecaman datang dari pejabat negeri ini. Walau de facto Indonesia pemimpin di Asean dan penyuara kepentingan negara-negara Selatan, pejabat negeri ini memilih berhati-hati menanggapi serangan yang memorak-porandakan hukum internasional itu.

Memang banyak kepentingan Indonesia yang jadi taruhan, jika Indonesia ikut bersuara keras seperti Rusia, China, negara Amerika Latin, dan Malaysia tetangga kita. Maka Presiden Prabowo Subianto memilih cara lain untuk mendeklarasikan "kemenangan besar" Indonesia.    

Rabu (7/1)  selang 4 hari dari penyerangan, di bawah terik matahari Karawang, Presiden Prabowo mengumumkan Indonesia mencapai swasembada pangan dalam 1 tahun, jauh lebih cepat dari target 4 tahun. Namun di pasar tradisional, data berbicara lain. 

Klaim "swasembada pangan" ini cacat secara terminologi. Mengacu pada UU Pangan No. 18/2012, pangan mencakup segala sumber hayati. Namun, pemerintah mereduksinya menjadi "swasembada beras". Kita masih harus impor gula, daging, dan kedelai untuk memenuhi kebutuhan pangan. 

Istilah "nihil impor" beras yang digadang-gadang Mentan Andi Amran pun memiliki catatan kaki tersembunyi. Keran impor untuk beras khusus dan beras industri tetap terbuka lebar. BPS mencatat ratusan ribu ton beras jenis ini masih masuk. Neraca tetap "cantik" di permukaan namun bocor di sisi lain.

Di sisi lain, terjadi paradoks dalam hukum ekonomi dasar supply and demand. Jika kita surplus 3,7 juta ton beras dan gudang Bulog penuh sesak, mengapa harga beras di tingkat konsumen di Januari 2026 justru terus merangkak naik? Surplus ini tampaknya hanya angka di atas kertas BPS yang tidak menetes ke piring rakyat kecil.

Lebih ironis lagi untuk jagung. Pemerintah mengklaim swasembada jagung dan menyetop impor jagung pakan. Namun, di balik layar, impor gandum untuk pakan ternak justru dibuka sebagai substitusi. Ini bukan swasembada, tapi menggeser ketergantungan, sambil membiarkan peternak ayam dan konsumen menanggung inflasi.

Swasembada 2025 adalah sebuah "kebenaran statistik" yang dibangun di atas fondasi definisi bukan hasil transformasi struktural yang kokoh. Bagi pemerintah, ini adalah trofi politik. Namun bagi rakyat swasembada ini tak lebih dari sekadar fatamorgana.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Melihat Ancaman Ekonomi di Balik Angka Inflasi yang Terkendali
| Jumat, 03 April 2026 | 07:00 WIB

Melihat Ancaman Ekonomi di Balik Angka Inflasi yang Terkendali

Josua pardede melihat bahwa ke depannya, risiko inflasi dinilai masih cenderung meningkat terutama dari sektor pangan dan energi.

Kebijakan WFH bagi ASN, Belum Menjadi Game Changer Bagi Emiten Telko dan GOTO
| Jumat, 03 April 2026 | 06:16 WIB

Kebijakan WFH bagi ASN, Belum Menjadi Game Changer Bagi Emiten Telko dan GOTO

WFH secara alami akan menekan mobilitas masyarakat sehingga akan membuat mobilitas tertekan dan melambatkan segmen ride-hailing.

Saham Perkapalan Kompak Terkoreksi Usai Naik Signifikan, Cek Analisis Teknikalnya
| Jumat, 03 April 2026 | 06:00 WIB

Saham Perkapalan Kompak Terkoreksi Usai Naik Signifikan, Cek Analisis Teknikalnya

Dari segi kinerja keuangan, emiten yang mempunyai pendapatan dan laba bersih cukup besar ialah BULL dan SOCI.

Harga Minyak Dunia Melonjak 60%, Ancaman Resesi Global Mengintai
| Jumat, 03 April 2026 | 01:30 WIB

Harga Minyak Dunia Melonjak 60%, Ancaman Resesi Global Mengintai

PM Singapura Lawrence Wong peringatkan dunia hadapi krisis energi dan risiko stagflasi. Dampak konflik Timur Tengah bisa berlangsung lama.

Harga Penawaran IPO WBSA Rp 168 Per Saham, Duitnya Buat Akuisisi Perusahaan Afiliasi
| Kamis, 02 April 2026 | 13:33 WIB

Harga Penawaran IPO WBSA Rp 168 Per Saham, Duitnya Buat Akuisisi Perusahaan Afiliasi

PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) merupakan perusahaan logistik terintegrasi yang baru didirikan pada 2021.

Konflik Timur Tengah bisa Menahan Penerbitan Obligasi Baru, Begini Kata TBIG dan ENRG
| Kamis, 02 April 2026 | 09:30 WIB

Konflik Timur Tengah bisa Menahan Penerbitan Obligasi Baru, Begini Kata TBIG dan ENRG

Di tengah himpitan pasar surat utang, opsi pendanaan dari kredit perbankan menjadi sekoci penyelamat.

Ketidakpastian RKAB, Bukan Halangan Bagi Prospek ITMG ke Depan
| Kamis, 02 April 2026 | 09:00 WIB

Ketidakpastian RKAB, Bukan Halangan Bagi Prospek ITMG ke Depan

Para analis juga memperkirakan bahwa harga jual average selling product (ASP) akan mampu menutupi kenaikan biaya produksi ITMG secara sempurna.

Penjualan Tahun 2025 Naik, Laba Sawit Sumbermas (SSMS) Melejit Dua Digit
| Kamis, 02 April 2026 | 08:37 WIB

Penjualan Tahun 2025 Naik, Laba Sawit Sumbermas (SSMS) Melejit Dua Digit

PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) sukses mengantongi laba bersih Rp 1,16 triliun atau meningkat 41,6% yoy dari Rp 819,53 miliar di 2024.​

Prospek Emiten Sawit 2026 Stabil tapi Volatil: Harga CPO, El Nino & B50 Jadi Katalis
| Kamis, 02 April 2026 | 08:30 WIB

Prospek Emiten Sawit 2026 Stabil tapi Volatil: Harga CPO, El Nino & B50 Jadi Katalis

Produksi global diprediksi kembali mengucur deras seiring dengan pemulihan output panen di Indonesia dan Malaysia.

Merogoh Dana Rp 2 Triliun, United Tractors (UNTR) Gelar Buyback Saham
| Kamis, 02 April 2026 | 08:23 WIB

Merogoh Dana Rp 2 Triliun, United Tractors (UNTR) Gelar Buyback Saham

Jumlah saham yang akan dibeli kembali tersebut tidak akan melebihi 20% dari modal ditempatkan dan disetor PT United Tractors Tbk (UNTR).

INDEKS BERITA

Terpopuler