Terbitkan Obligasi US$ 200 Juta, Buana Lintas Lautan (BULL) Kantongi Peringkat B1

Senin, 13 Mei 2019 | 19:34 WIB
Terbitkan Obligasi US$ 200 Juta, Buana Lintas Lautan (BULL) Kantongi Peringkat B1
[]
Reporter: Herry Prasetyo | Editor: A.Herry Prasetyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan pelayaran PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) berencana menerbitkan surat utang berdenominasi dollar Amerika Serikat (AS) senilai US$ 200 juta.

Penerbitan surat utang tersebut akan dilakukan oleh BULL Maritime Capital Pte Ltd, anak usaha yang sepenuhnya dimiliki oleh Buana Lintas Lautan.

Surat utang tanpa jaminan itu berjangka waktu lima tahun. Bunga surat utang dipatok di rentang 6,5% hingga 12,5%.

Jika diterbitkan dengan jaminan, surat utang itu akan dijamin oleh Buana Lintas Lautan dan entitas anak penjamin yang akan ditentukan kemudian.

Manajemen Buana Lintas Lautan menyebutkan, penerbitan surat utang ini bermanfaat untuk menambah likuiditas dan melaksanakan rencana perusahaan sejalan dengan strategi bisnis yang telah perusahaan susun.

Penerbitan surat utang juga bermanfaat sebagai diversifikasi sumber pendanaan. Selain itu, Buana Lintas Lautan akan memperoleh pendanaan dengan jangka waktu pengembalian pokok utang yang relatif lebih panjang dan bunga tetap.

Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada 2 Mei lalu telah memberikan restu bagi Buana Lintas Lautan untuk menerbitkan obligasi.

Lembaga pemeringkat Moody's Investors Service untuk pertama kalinya memberikan peringkat B1 untuk Buana Lintas Lautan dengan prospek stabil.

Pada saat bersamaan, Moody's juga mengganjar surat utang senior tanpa jaminan yang akan diterbitkan oleh BULL Maritime tersebut dengan peringkat B1.

Moody's menyebutkan, hasil penerbitan surat utang itu akan Buana Lintas Lautan gunakan untuk membayar semua utang, membeli kapal, mendanai pembayaran bunga, dan membayar biaya transaksi.

Peringkat B1, menurut Moody's, mencerminkan profil bisnis Buana Lintas Lautan yang kuat. Fundamental Buana Lintas Lautan didukung oleh kontrak sewa kapal berdasarkan jangka waktu yang memberikan visibilitas pendapatan yang baik dan dan profitabilitas yang kuat.

"Peringkat tersebut juga didukung oleh hambatan terhadap persaingan yang pada gilirannya akan mendorong regulasi yang menguntungkan, khususnya asas cabotage,  yang mengamanatkan penggunaan kapal berbendera Indonesia untuk transportasi angkutan laut domestik," ujar Maisam Hasnain, analis Moody's.

Meski begitu, peringkat B1 bagi Buana Lintas Lautan juga memperhitungkan skala operasinya yang relatif kecil dibandingkan perusahaan pelayaran berperingkat lainnya.

Faktor lain yang juga menjadi perhitungan adalah rencana belanja modal yang cukup besar yang akan meningkatkan risiko eksekuisi dan ketergantungan yang besar pada satu rekanan tunggal, yakni Pertamina.

Ditopang oleh peningkatan konsumsi minyak dan gas di Indonesia, Buana Lintas Lautan telah tumbuh pesat. Pada 2015 lalu, Buana Lintas Lautan baru memiliki sembilan kapal dengan kapasitas 384.915 deadweight ton (DWT). Per akhir Maret 2019, kapal Buana Lintas Lautan telah bertambah menjadi 19 unit dengan kapasitas 923.074 DWT.

Per Maret 2019, sekitar 91% total kapasitas armada telah terikat kontrak sewa waktu. Mengingat proporsi tinggi dari kontrak tersebut, Moody's berharap, tingkat pemanfaatan kapal Buana Lintas Lautan tetap tinggi dan pendapatan dapat diprediksi selama dua hingga tiga tahun ke depan.

Terlepas dari pertumbuhannya dalam beberapa tahun terakhir, Moody's mengatakan, Buana Lintas Lautan berupaya mempertahankan kebijakan keuangan konservatif, mendanai pertumbuhan dengan campuran utang dan ekuitas yang tepat.

Selain menggunakan dana hasil penerbitan surat utang, Buana Lintas Lautan akan merampungkan penerbitan saham baru senilai Rp 600 miliar pada Juni mendatang. Ini merupakan aksi rights issue ketiga kalinya dalam tiga tahun terakhir.

Moody's memperkirakan, rasio utang Buana Lintas Lautan yang diukur dari rasio utang terhadap EBITDA disesuaikan akan mencapai puncaknya 4 kali pada 2019 setelah penerbitan obligasi.

Namun, rasio utang akan turun menjadi 3 kali hingga 3,2 kali pada 2020 berdasarkan pertumbuhan pendapatan dari kapal baru. Leval rasio utang itu mendukung peringkat B1.

Per 31 Maret 2019, sekitar 90$ armada Buana Lintas Lautan terikat kontrak carter dengan Pertamina dan rekanannya. Meski hal ini menghasilkan risiko rekanan yang cukup besar, Moody's menilai, situasinya menjadi seimbang karena hubungan Buana Lintas Lautan dengan Pertamina telah berlangsung lama.

Meski begitu, lantaran skalanya yang relatif kecil, kinerja Buana Lintas Lautan tetap rentan terhadap perubahan dalam tarif sewa dan biaya operasi tidak terduga. Namun, Moody's menilai, sejauh ini perusahaan telah mengelola risiko tersebut.

Prospek peringkat Buana Lintas Lautan ditetapkan stabil. Ini mencerminkan ekspektasi Moody's bahwa Buana Lintas Lautan akan mempertahankan visibilitas pendapatan dari kontrak carter kapal sembari mempertahankan hubungan yang kuat dengan Pertamina dan mematuhi kebijakan keuangan yang hati-hati.

Bagikan

Berita Terbaru

MSCI dan Perlunya Meninjau Ulang Resep Bursa Saham
| Senin, 19 Oktober 2026 | 10:30 WIB

MSCI dan Perlunya Meninjau Ulang Resep Bursa Saham

Reformasi berhasil bukan karena aturan semakin banyak, tetapi karena pasar Indonesia semakin transparan, likuid, adil, dan dipercaya.       

IHSG Anjlok 40,04% YtD, Terburuk di Dunia, Asing Net Sell Rp 88 Triliun
| Senin, 19 Oktober 2026 | 09:19 WIB

IHSG Anjlok 40,04% YtD, Terburuk di Dunia, Asing Net Sell Rp 88 Triliun

Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi yang terburuk di antara bursa saham global yang diperbandingkan BEI sepanjang 2026.

Tak Lagi Repot-Repot Urus Administrasi di Rumahsakit
| Senin, 19 Oktober 2026 | 09:07 WIB

Tak Lagi Repot-Repot Urus Administrasi di Rumahsakit

Platform kesehatan kini tidak hanya menawarkan layanan janji temu dengan dokter, tapi juga mendampingi pasien di rumahsakit.

Kenaikan Suku Bunga Acuan Semakin Dekat
| Senin, 19 Oktober 2026 | 08:41 WIB

Kenaikan Suku Bunga Acuan Semakin Dekat

Gejolak pasar keuangan meningkatkan risiko perubahan arah kebijakan suku bunga acuan                

Mengawali Pekan, MSCI Masih Menghantui Pasar, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Senin, 19 Oktober 2026 | 08:34 WIB

Mengawali Pekan, MSCI Masih Menghantui Pasar, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Pada Senin (19/10), volatilitas IHSG diprediksi masih cukup tinggi, meskipun peluang technical rebound tetap terbuka.

CNGR Incar 80% Saham GNI, PACK Berpotensi Kecipratan Sentimen Positif
| Senin, 19 Oktober 2026 | 08:29 WIB

CNGR Incar 80% Saham GNI, PACK Berpotensi Kecipratan Sentimen Positif

CNGR Advanced Material adalah pemilik PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) via PT Eco Energi Perkasa.

Dua Tahun Prabowo: Janji Ekonomi Tak Mampu Selamatkan IHSG dari Krisis Kepercayaan
| Senin, 19 Oktober 2026 | 08:05 WIB

Dua Tahun Prabowo: Janji Ekonomi Tak Mampu Selamatkan IHSG dari Krisis Kepercayaan

Koreksi IHSG yang lebih dalam dibandingkan sejumlah pasar lain menunjukkan adanya persoalan domestik yang turut membebani pasar.

Kelangkaan BBM dan Pemadaman Listrik Jadi Alarm Bagi Tata Kelola Energi Nasional
| Senin, 19 Oktober 2026 | 07:44 WIB

Kelangkaan BBM dan Pemadaman Listrik Jadi Alarm Bagi Tata Kelola Energi Nasional

Sejumlah pihak mendesak Presiden untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh agar blackout listrik dan kelangkaan BBM tidak terus berulang​

Menagih Janji Penegakan Hukum Pasar Modal di Tengah Ancaman Turun Kelas MSCI
| Senin, 19 Oktober 2026 | 07:39 WIB

Menagih Janji Penegakan Hukum Pasar Modal di Tengah Ancaman Turun Kelas MSCI

Dukungan terhadap pasar modal tidak cukup melalui pernyataan, tetapi harus terlihat dalam pelaksanaan reformasi dan kepastian regulasi.

ITMG Bentuk Anak Usaha di Bisnis Mineral, Investor Perlu Cermati Realisasi Eksekusi
| Senin, 19 Oktober 2026 | 07:27 WIB

ITMG Bentuk Anak Usaha di Bisnis Mineral, Investor Perlu Cermati Realisasi Eksekusi

Proyek tambang atau pengolahan mineral umumnya butuh waktu bertahun-tahun (eksplorasi, perizinan, konstruksi) sebelum menghasilkan arus kas.

INDEKS BERITA

Terpopuler