Transaksi Jumbo DSSA di Pasar Nego, Sahamnya Punya Ruang Menguat

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 22:10 WIB
Transaksi Jumbo DSSA di Pasar Nego, Sahamnya Punya Ruang Menguat
[ILUSTRASI. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) (Dok/DSSA)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten terafiliasi Sinar Mas Group, PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA) beberapa hari belakangan mencatat transaksi jumbo di pasar modal. Nilainya sendiri mencapai sekitar Rp 1,3 triliun, hingga Rp 1,5 triliun, termasuk transaksi sekitar Rp 1,4 triliun yang terekam pada perdagangan Rabu (27/8) lalu. Sementara pada hari Kamis (27/8) nilai yang foreign net buy terjadi sekitar Rp 31 miliar.

Memandang hal ini, Head of Research Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, transaksi pasar negosiasi yang berulang dengan nilai sangat besar menjadi hal signifikan, terutama karena DSSA baru keluar dari indeks utama.

Kondisi DSSA yang baru terdepak tersebut itulah yang menimbulkan pertanyaan, apakah transaksi jumbo ini merupakan pembelian institusional atau bagian dari restrukturisasi kepemilikan  yang berkaitan dengan upaya pemenuhan ketentuan minimum free float.

"Transaksi pasar nego biasanya block trade dengan harga yang sudah dinegosiasikan sebelumnya, bukan open market price discovery. Jadi, net buy asing ini mungkin tidak mencerminkan broad market sentiment,” ujar Wafi kepada KONTAN, Kamis (27/8).

Wafi menilai bahwa imbas yang hadir dari sisi likuiditas adalah kemungkinan tidak berkembangnya day-today likuiditas perdagangan karena terjadi di luar mekanisme continuous trading. Di sisi lain, Pengamat Pasar Modal Hendra Wardhana memandang bahwa memang transaksi tersebut menarik karena terjadi berulang dan beriringan dengan tingginya minat investor asing.

Baca Juga: DSSA Masih Diburu dan Bertahan di Atas Rp 1.000, Minat Investor Asing Belum Luntur

Namun, transaksi jumbo di pasar negosiasi tidak bisa langsung diartikan sebagai tekanan beli yang akan mendorong harga di pasar reguler.

"Transaksi tersebut lebih mencerminkan perpindahan saham dalam jumlah besar, sehingga dampaknya terhadap harga sangat bergantung pada bagaimana saham tersebut kemudian diperdagangkan di pasar reguler," jelas Hendra saat dihubungi oleh KONTAN.

Di satu sisi, lanjutnya, apabila saham yang berpindah masuk ke publik, kondisi ini berpotensi meningkatkan likuiditas DSSA karena jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan menjadi lebih besar.

Selain itu, tambahan saham tersebut juga dapat menciptakan supply overhang yang berpotensi menahan kenaikan harga apabila tidak diimbangi permintaan yang kuat.

Sementara dari sisi arus dana, minat asing terhadap DSSA memang cukup kuat, tetapi investor perlu membedakan antara net buy di pasar negosiasi dan pasar reguler.

Hendra menyatakan, transaksi jumbo sebelumnya membuat angka net buy asing DSSA terlihat sangat besar, sementara aliran dana asing di pasar reguler relatif lebih kecil. Sebagai contoh, hari ini asing masih mencatat net buy sekitar Rp 31 miliar, yang menjadi sinyal positif, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa telah terjadi akumulasi asing besar-besaran secara berkelanjutan.

Justru konsistensi net buy asing di pasar reguler dalam beberapa hari ke depan akan menjadi indikator yang lebih penting.

Hendra berpendapat jika asing terus membeli di pasar reguler bersamaan dengan kenaikan harga dan volume yang sehat, maka transaksi jumbo sebelumnya dapat menjadi katalis positif. Sebaliknya, jika harga mulai sulit naik dan asing berbalik net sell, risiko distribusi perlu diwaspadai.

Asal tahu saja, pada penutupan perdagangan hari ini, Kamis  (27/8) DSSA kembali berada di zona hijau alias menguat 6,54% ke level Ro 1.140. Seminggu dan sebulan belakangan juga DSSA telah menguat masing-masing 11,76% dan 31,03%, sedangkan sepanjang tahu berjalan year to date (YtD), DSSA terkoreksi sedalam 71,78%.

Wafi juga menambahkan, melihat besarnya transaksi yang berlang tersebut mencerminkan adanya proses restrukturisasi kepemilikan yang masih berlangsung dibandingkan dengan fase akumulasi pada saham secara umum, yang biasanya diikuti oleh peningkatan momentum dari investor ritel.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan

Berita Terbaru

TOTL Sebar Dividen Interim Tahun 2026 Sebesar Rp 136,4 Miliar
| Sabtu, 07 November 2026 | 08:17 WIB

TOTL Sebar Dividen Interim Tahun 2026 Sebesar Rp 136,4 Miliar

Dasar pembagian dividen data keuangan per 30 September 2026. Di periode ini, TOTL mengantongi pendapatan usaha Rp 3,51 triliun, naik 26,10% YoY. ​

Penjualan Melejit Tiga Digit, AMMN Membalikkan Kerugian Menjadi Laba
| Sabtu, 07 November 2026 | 08:13 WIB

Penjualan Melejit Tiga Digit, AMMN Membalikkan Kerugian Menjadi Laba

Di periode Januari-September 2026, AMMN mencetak laba bersih sebesar US$ 880 juta, berbalik dari rugi US$175 juta di per September 2025.​

Kinerja Emiten Kawasan Industri Masih Bertaji
| Sabtu, 07 November 2026 | 08:08 WIB

Kinerja Emiten Kawasan Industri Masih Bertaji

Pertumbuhan kinerja emiten kawasan industri di sepanjang sembilan bulan tahun 2026 ditopang penjualan lahan ke sektor data center.

PT Timah (TINS) Mendulang Laba Bersih Lebih Banyak
| Sabtu, 07 November 2026 | 06:46 WIB

PT Timah (TINS) Mendulang Laba Bersih Lebih Banyak

Laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih TINS mencapai Rp 4,12 triliun, meroket 584% secara tahunan.

Pilihan SBN Ritel Terbaru untuk Dana Dingin di Akhir Tahun
| Sabtu, 07 November 2026 | 06:30 WIB

Pilihan SBN Ritel Terbaru untuk Dana Dingin di Akhir Tahun

ST017 menawarkan kupon 6,95% untuk tenor dua tahun dan kupon 7,05% untuk tenor empat tahun di akhir tahun ini. 

Pergerakan Rupiah Sepekan Ini Tertopang Data PDB
| Sabtu, 07 November 2026 | 06:15 WIB

Pergerakan Rupiah Sepekan Ini Tertopang Data PDB

Rupiah di pasar spot tutup di level Rp 18.089 per dolar AS pada Jumat (6/11), turun tipis 0,04% secara harian, namun menguat 0,32% dalam sepekan

Jebakan Free Float
| Sabtu, 07 November 2026 | 06:10 WIB

Jebakan Free Float

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), per Oktober 2026 ada 328 emiten belum memenuhi ketentuan minimum free float 15%.

Obligasi ESG Tembus Rp 89,46 T, BEI Luncurkan Indeks Baru
| Sabtu, 07 November 2026 | 06:00 WIB

Obligasi ESG Tembus Rp 89,46 T, BEI Luncurkan Indeks Baru

 Ini adalah indeks  acuan bagi investor dalam memantau kinerja obligasi dan sukuk berwawasan lingkungan, sosial, dan ESG di pasar modal domestik. 

Sengatan MSCI Mengaburkan Fundamental Ekonomi
| Sabtu, 07 November 2026 | 05:30 WIB

Sengatan MSCI Mengaburkan Fundamental Ekonomi

Harga saham sering disebut indikator pendahulu ekonomi, ini mencerminkan perkiraan investor terhadap laba, suku bunga, inflasi, dan pertumbuhan.

Libur Nataru Jadi Ladang Premi Asuransi
| Sabtu, 07 November 2026 | 05:30 WIB

Libur Nataru Jadi Ladang Premi Asuransi

Momentum libur Natal dan tahun baru membuka peluang bagi industri asuransi perjalanan.                

INDEKS BERITA

Terpopuler