Tren Emas Bullish, Saham ARCI Masih Terhalang Tekanan Jual

Kamis, 01 Januari 2026 | 14:00 WIB
Tren Emas Bullish, Saham ARCI Masih Terhalang Tekanan Jual
[]
Reporter: Andy Dwijayanto | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan harga emas global kembali menjadi pusat pilihan investor di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, tensi konflik global, serta ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter di sejumlah negara maju. Emas kembali menegaskan perannya sebagai aset lindung nilai utama, sejumlah lembaga internasional bahkan memproyeksikan tren penguatan harga emas masih akan berlanjut dalam beberapa tahun ke depan.

Sentimen positif tersebut terutama ditopang oleh permintaan kuat dari bank sentral global. Dalam beberapa tahun terakhir, bank sentral secara agresif menambah cadangan emas sebagai upaya diversifikasi aset dan perlindungan dari risiko geopolitik. Di sisi lain, investor institusi dan ritel juga kembali melirik emas sebagai instrumen defensif di tengah volatilitas pasar keuangan.

Kondisi ini menjadi angin segar bagi saham-saham emiten emas di pasar modal, termasuk PT Archi Indonesia Tbk (ARCI). Sebagai salah satu produsen emas murni, ARCI berada di posisi yang relatif diuntungkan ketika harga emas bergerak naik secara struktural.

Baca Juga: Archi Indonesia (ARCI) Siap Menyebar Dividen Interim Hampir Setengah Triliun

Kenaikan harga emas akan memberikan dampak langsung terhadap kinerja keuangan. Harga jual yang lebih tinggi berpotensi memperlebar margin keuntungan, memperkuat arus kas operasional, serta meningkatkan kemampuan perusahaan dalam membiayai ekspansi maupun membagikan dividen. ARCI dinilai memiliki struktur biaya yang relatif kompetitif, sehingga sensitifitas positif terhadap kenaikan harga emas cukup tinggi.

Meski demikian, pergerakan harga saham tidak selalu sejalan dengan optimisme fundamental. Dalam jangka pendek, saham ARCI masih menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi. Aksi ambil untung dan dinamika sentimen pasar membuat pergerakan saham belum sepenuhnya mencerminkan prospek emas yang cenderung bullish.

Kondisi ini perlu disikapi dengan strategi yang berbeda antara investor jangka pendek dan investor berorientasi jangka menengah hingga panjang. Sebagian pelaku pasar memilih bersikap wait and see menunggu kepastian arah tren, sementara sebagian lainnya mulai melirik potensi koreksi sebagai peluang akumulasi bertahap.

Baca Juga: Ada Transaksi Nego Jumbo di Saham ARCI, Basis Utama Prima Milik Happy Hapsoro Jualan?

Secara fundamental, prospek harga emas ke depan tetap prospektif. Sejumlah proyeksi bahkan menyebutkan harga emas berpeluang menembus US$ 4.900 per ons troi pada tahun depan, seiring berlanjutnya permintaan bank sentral dan potensi penurunan suku bunga global. Jika skenario ini terealisasi, emiten emas seperti ARCI diperkirakan akan menikmati lonjakan kinerja yang signifikan.

Namun dari sisi teknikal, kehati-hatian tetap diperlukan. Raka Junico Widyarman, Analis MNC Sekuritas, menilai pergerakan saham ARCI saat ini masih berada dalam fase yang perlu dicermati secara seksama. Pada perdagangan akhir 2025 (30/12/2025), saham ARCI ditutup turun ke level 1.620 per saham.

Dalam perdagangan intraday, saham ARCI sempat menyentuh level 1.780. Indikator MACD menunjukkan kondisi yang mulai jenuh, dengan potensi munculnya sinyal auto crossing di area positif yang kemudian diikuti histogram yang bergerak turun ke zona negatif. Sinyal ini mengindikasikan melemahnya momentum kenaikan dalam jangka pendek.

Dari indikator stochastic, ARCI juga belum menunjukkan kekuatan yang cukup untuk menembus area overbought. Hal ini mencerminkan bahwa dorongan beli masih terbatas dan belum mampu mengangkat harga secara berkelanjutan. Selama saham ini belum mampu menembus resistance kunci di level 1.850, risiko koreksi jangka pendek dinilai masih terbuka.

 

 

Dengan konfigurasi teknikal tersebut, Raka memperkirakan saham ARCI berpotensi bergerak melemah atau berkonsolidasi di area support 1.535. Apabila tekanan jual berlanjut dan level tersebut kembali ditembus, ARCI berpeluang menguji support berikutnya di kisaran Rp 1.450.

Di sisi lain, pandangan fundamental justru menunjukkan arah yang lebih optimistis. Mandiri Sekuritas merekomendasikan beli untuk saham ARCI dengan target harga 1.900. Rekomendasi ini didasarkan pada prospek kinerja yang dinilai semakin solid seiring tren harga emas yang menguat.

Mandiri Sekuritas memperkirakan laba bersih ARCI pada tahun ini mencapai sekitar US$ 99 juta dan melonjak signifikan menjadi US$ 160 juta pada tahun depan. Lonjakan tersebut didorong oleh kombinasi harga emas yang lebih tinggi dan perbaikan efisiensi operasional.

Dari sisi valuasi, ARCI juga dinilai semakin menarik. PER diperkirakan turun dari 25,5 kali menjadi 16,0 kali pada tahun depan, sementara P/BV menyusut dari 6,8 kali menjadi 4,8 kali. EV/EBITDA pun diproyeksikan turun dari 15,5 kali menjadi 9,9 kali, mencerminkan valuasi yang semakin rasional.

Tak hanya itu, pertumbuhan laba per saham (EPS Growth) ARCI tercatat melonjak tajam hingga 849,7% pada tahun ini, sebelum kembali ke level yang lebih normal namun tetap solid sebesar 61,2% pada tahun depan. Kombinasi pertumbuhan laba yang kuat dan valuasi yang semakin atraktif membuat ARCI tetap relevan untuk dicermati, terutama bagi investor yang ingin memanfaatkan momentum penguatan sektor emas dengan perspektif jangka menengah hingga panjang.

Selanjutnya: Baru Mulai Fase Ekspansi, Tahun 2026 Kinerja CBDK Masih Akan Terkoreksi

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Indonesia Sepakati Kerjasama Maritim dengan Inggris
| Kamis, 22 Januari 2026 | 05:10 WIB

Indonesia Sepakati Kerjasama Maritim dengan Inggris

Kerajaan Inggris bakal terlibat dalam pengadaan sebanyak 1.500 kapal yang diperuntukkan bagi nelayan Indonesia.

Target Masih Berat Meski Domestik Dinilai Kuat
| Kamis, 22 Januari 2026 | 05:10 WIB

Target Masih Berat Meski Domestik Dinilai Kuat

Bank Indonesia meramal pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 dan kuartal I-2026 lebih tinggi          

Guyuran Beras SPHP Demi Meredam Harga
| Kamis, 22 Januari 2026 | 05:05 WIB

Guyuran Beras SPHP Demi Meredam Harga

Perum Bulog sudah menyiapkan beras untuk program SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) sebanyak 1,5 juta ton.

Korporasi Kena Gugatan dan Pencabutan Izin Usaha
| Kamis, 22 Januari 2026 | 05:00 WIB

Korporasi Kena Gugatan dan Pencabutan Izin Usaha

Pemerintah sedang melakukan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) untuk menentukan status lahan efek pencabutan izin usaha.​

Independensi Bank Sentral, Masihkah Perlu?
| Kamis, 22 Januari 2026 | 04:46 WIB

Independensi Bank Sentral, Masihkah Perlu?

Jika independensi dipahami sebagai praktik institusional, maka ukuran kedewasaan bank sentral tidak terletak pada kemurnian figur. 

IHSG Anjlok Parah, Intip Peluang dan Rekomendasi Saham Untuk Kamis (22/1)
| Kamis, 22 Januari 2026 | 04:45 WIB

IHSG Anjlok Parah, Intip Peluang dan Rekomendasi Saham Untuk Kamis (22/1)

IHSG masih tercatat naik 0,69% dalam lima hari perdagangan terakhir. Sedangkan sejak awal tahun, IHSG menguat 4,20%.

Leasing Tetap Rajin Merilis Obligasi Meski Pasar Sepi
| Kamis, 22 Januari 2026 | 04:35 WIB

Leasing Tetap Rajin Merilis Obligasi Meski Pasar Sepi

Perusahaan pembiayaan menerbitkan obligasi sebesar Rp 37,98 triliun sepanjang Januari hingga November 2025.

Blue Bird (BIRD) Membidik Pelanggan Generasi Muda
| Kamis, 22 Januari 2026 | 04:20 WIB

Blue Bird (BIRD) Membidik Pelanggan Generasi Muda

Untuk membidik segmen pelanggan ini, BIRD melakukan kolaborasi dengan intellectual property (IP) lokal Tahilalats

Jurus Bank Indonesia Redam Tekanan Rupiah
| Kamis, 22 Januari 2026 | 04:20 WIB

Jurus Bank Indonesia Redam Tekanan Rupiah

BI siap intervensi volatilitas nilai tukar rupiah menggunakan cadangan devisa                       

Pebisnis Waswas Nilai Tukar Rupiah Semakin Terpuruk
| Kamis, 22 Januari 2026 | 04:10 WIB

Pebisnis Waswas Nilai Tukar Rupiah Semakin Terpuruk

Pada perdagangan Rabu (21/1), kurs dolar AS senilai Rp 16.963, jauh melampaui asumsi yang tertera di APBN sebesar Rp 16.500 per dolar AS.

INDEKS BERITA

Terpopuler