Tren Rupiah Masih Melemah Tertekan Nada The Fed Masih Hawkish
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebijakan Bank Indonesia atas suku bunga acuan masih akan menjadi pantauan pelaku pasar. Analis memperkirakan, Bank Indonesia (BI) masih akan mempertahankan bunga di 3,5%.
Sementara itu Ekonom Bank Mandiri Reny Eka Putri menyebut, ada kekhawatiran stagflasi di berbagai negara dan kebijakan hawkish The Fed. "Sikap tersebut membuat pasar kembali mengalihkan dananya ke safe haven seperti dollar AS," kata Reny, Senin (22/8).
Baca Juga: Jelang Rilis RDG BI, Rupiah Diprediksi Lanjut Melemah pada Selasa (23/8)
Pekan ini, pasar mengantisipasi simposium Jackson Hole, di mana The Fed memberikan panduan kondisi ekonomi dan keuangan AS dalam menghadapi tekanan harga. Indeks dollar AS yang kembali ke 108,1 mengindikasikan penguatan dollar AS terhadap mata uang utama lainnya.
Pelaku pasar pekan ini juga akan memantau beberapa data global, seperti penjualan rumah baru AS, S&P Global PMI Uni Eropa, dan indeks kepercayaan konsumen Eropa.
Analis DFCX Futures Lukman Leong menyebut, rupiah masih akan tertekan karena pasar memperkirakan BI akan mempertahankan bunga acuan di tengah inflasi yang terus meningkat. "Di sisi lain, bila harga Pertalite naik, inflasi bisa naik lebih tinggi," ucap dia.
Hari ini (23/8), Lukman memperkirakan, kurs rupiah melemah dan bergerak antara Rp 14.800-Rp 14.975 per dollar AS. Sementara Reny memprediksi rupiah melemah dan bergerak antara Rp 14.815-Rp 14.885 per dollar AS.
Baca Juga: Tak Berdaya, Rupiah Jisdor Melemah ke Rp 14.882 Per Dolar AS Pada Senin (22/8)
Kemarin, kurs spot rupiah melemah 0,36% ke Rp 14.892 per dollar AS. Sementara kurs Jisdor BI melemah 0,16% jadi Rp 14.882 per dollar AS.
