Triple Deficit
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tiga indikator penting ekonomi Indonesia mencatatkan defisit. Triple deficit ini layak diperhatikan lantaran muncul pada saat bersamaan. Tiga defisit tersebut jika makin membesar angkanya bisa menimbulkan persepsi yang buruk tentang stabilitas dan fundamental ekonomi Indonesia mengingat ketiganya merupakan sinyal kesehatan makroekonomi kita.
Triple deficit yang tengah dihadapi Indonesia tersebut; pertama, defisit transaksi berjalan. Data terbaru Bank Indonesia (BI) yang dirilis, Jumat (21/8), mencatat defisit transaksi berjalan Indonesia makin melebar pada kuartal II 2026.
Defisit transaksi berjalan tercatat US$ 12,5 miliar atau 3,3% dari produk domestik bruto (PDB). Defisit transaksi berjalan tersebut meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai US$ 3,6 miliar atau 1,0% dari PDB. Menurut data LSEG yang dikutip Reuters, defisit transaksi berjalan Indonesia periode April hingga Juni 2026 itu merupakan yang terlebar sejak kuartal keempat tahun 2018. Defisit yang melebar dapat menambah tekanan pada rupiah dan memengaruhi keputusan pengetatan moneter bank sentral.
Kedua, defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). Catatan BI, NPI pada triwulan II 2026 defisit US$ 0,9 miliar. Kabar baiknya, angka ini memang sudah jauh lebih kecil dibandingkan dengan defisit pada triwulan I 2026 sebesar US$ 9,1 miliar. Defisit NPI ini mencerminkan arus modal keluar lebih besar dibandingkan arus masuk.
Ketiga, defisit fiskal. Dalam pidato kenegaraan beberapa waktu lalu, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa hingga Juli 2026 Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 mencatatkan defisit sebesar 0,91% dari PDB.
Defisit ini terjadi karena realisasi pendapatan negara masih lebih rendah dibandingkan kebutuhan belanja negara yang meningkat cukup signifikan. Pendapatan negara pada periode tersebut tumbuh tinggi sebesar 21,3% secara tahunan. Sementara itu, belanja negara tercatat naik 18,2%.
Kombinasi triple deficit tersebut mungkin salah satu yang membebani pasar keuangan kita beberapa waktu lalu. Bahkan, sampai membuat kurs rupiah jatuh hingga menembus Rp 18.000 per dolar AS kendati belakangan ini berangsur menguat.
Dus, fenomena triple deficit harus menjadi perhatian pemerintah walau diperkirakan tekanan bakal mereda. Dari sisi fiskal, menjaga defisit anggaran tidak jauh melebar menjadi kunci penting. Lalu, menggenjot kinerja ekspor juga kunci lain agar defisit transaksi berjalan tidak semakin membesar. Syukur-syukur bisa mencetak surplus.
