Trump 2.0 dan Mitigasi Kebijakan Moneter

Kamis, 14 November 2024 | 04:01 WIB
Trump 2.0 dan Mitigasi Kebijakan Moneter
[ILUSTRASI. Petugas Bank Mandiri menghitung Uang rupiah di Jakarta, Rabu (24/4). Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 23-24 April 2024 memutuskan untuk menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 6,25%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 5,50%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 7,00%. Kenaikan suku bunga ini untuk memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah dari dampak memburuknya risiko global serta sebagai langkah pre-emptive dan forward looking untuk memastikan inflasi tetap dalam sasaran 2,5?1% pada 2024 dan 2025 sejalan dengan stance kebijakan moneter yang pro-stability. KONTAN/Cheppy A. Muchlis/24/04/2024]
Yusuf Rendy Manilet | Peneliti Ekonomi Center of Reform on Economics (Core)

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keunggulan Donald J Trump pada Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2024 mengejutkan banyak pihak. Setelah empat tahun di bawah pemerintahan Joe Biden yang fokus pada stabilitas ekonomi global dan diplomasi multilateral, potensi besar kembalinya Trump sebagai Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) akan membawa gelombang ketidakpastian baru.

Trump dikenal dengan pandangan ekonominya yang berpusat pada kepentingan domestik AS, termasuk mendorong manufaktur kembali ke tanah Amerika, menekan impor melalui tarif tinggi, dan mengurangi keterlibatan dalam perjanjian dagang multilateral. Di sisi fiskal, pengurangan pajak korporasi menjadi prioritas utamanya, dengan tujuan meningkatkan daya saing perusahaan Amerika Serikat di pasar global. 

Baca Juga: BPK Soroti Proyek Tol Layang Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP) Emiten Jusuf Hamka

Namun, kebijakan seperti ini berpotensi memperbesar defisit anggaran AS, yang dapat memaksa pemerintahnya untuk meningkatkan utang atau mendorong Federal Reserve memperketat kebijakan moneternya. Pelajaran dari masa lalu memperlihatkan bagaimana kebijakan Trump menciptakan volatilitas ekonomi global. Selama masa jabatan pertamanya, tarif tinggi terhadap Tiongkok memicu perang dagang yang mengguncang pasar. 

Selain itu, pengurangan pajak korporasi pada 2017 menyebabkan aliran modal global lebih condong ke Amerika Serikat, yang memperkuat dolar AS dan menekan mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah. Tekanan ini diperparah oleh kritik Trump terhadap Federal Reserve, yang memaksanya melonggarkan kebijakan moneter. 

Baca Juga: Investor Asing Koleksi Saham GOTO, Terbaru Ada Nomura Holdings dan Franklin Resources

Kondisi tersebut membawa tantangan baru bagi ekonomi Indonesia jika Trump kembali menghidupkan kebijakan serupa. Untuk kasus perang dagang misalnya, eskalasi proteksionisme antara AS dan Tiongkok dapat memengaruhi ekspor Indonesia, mengingat Tiongkok adalah mitra dagang utama. Studi dari Purwono dkk (2021) pada skenario ‘perang dagang’ sebelumnya menunjukkan Ekspor tidak langsung dari Indonesia diperkirakan akan turun sebesar US$ 300 juta karena tarif AS terhadap barang-barang China dan US$ 36 juta karena tarif China terhadap produk-produk Amerikat Serikat.

Selain itu, penguatan dolar AS akibat keluarnya aliran modal dari Indonesia dapat mendorong depresiasi nilai tukar rupiah. Pada 2019, ketidakpastian yang timbul dari "perang dagang" memberikan efek pada capital outflow hingga Rp 11,3 triliun.

Baca Juga: Dapat Fasilitas Pinjaman US$ 600 juta, BNI Akan Perluas Kapasitas Pendanaan

Pada saat yang sama, ketidakpastian ini menciptakan tekanan tambahan pada stabilitas keuangan domestik dan daya tarik investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) ke Indonesia, yang sangat diperlukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang. 

Dampak tersebut memberikan tantangan langsung bagi perumusan kebijakan termasuk di dalamnya kebijakan moneter. Saat ini, arah kebijakan Bank Indonesia sebenarnya sudah kembali pada dukung stabilisasi dan pertumbuhan. 

Baca Juga: Harga Emas Anjlok 5,25% dalam Sepekan, Investor Wait And See Kebijakan Trump

Setelah mempertahankan suku bunga di level 6,00% pada awal tahun untuk menjaga stabilitas inflasi dan nilai tukar, BI menaikkan suku bunga menjadi 6,25% pada April sebagai langkah pre-emptive menghadapi tekanan eksternal, termasuk ketidakpastian global dan kebijakan The Fed. 

Memasuki pengujung tahun, BI mulai mengadopsi kebijakan pro-growth dengan menurunkan suku bunga kembali ke 6,00% pada September-Oktober. Dari sisi makroprudensial, Bank Indonesia melakukan pelonggaran yang komprehensif untuk menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendukung pemulihan ekonomi. 

Baca Juga: Mengupas IPO Adaro Andalan Indonesia (AADI), Prospek hingga Kasus Hukum yang Dihadapi

Kebijakan akomodatif seperti kelonggaran rasio loan to value/financing to value (LTV/FTV) hingga 100% hingga kebijakan kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) untuk mendorong pertumbuhan kredit dan pembiayaan telah dikeluarkan.

Mitigasi kebijakan moneter

Namun, dua kebijakan akan mendapatkan tantangan implementasi jika trump langsung "tancap gas" menjalankan kebijakan unpopular. Penguatan dolar AS akibat aliran modal keluar atau kenaikan suku bunga di Amerika Serikat dapat menekan nilai tukar rupiah. 

Baca Juga: Kinerja Emiten Kertas Grup Sinarmas Masih Belum Bernas

Jika tekanan ini signifikan, Bank Indonesia mungkin harus lebih sering melakukan intervensi di pasar valuta asing atau bahkan menaikkan kembali suku bunga acuan, langkah yang dapat mengurangi efektivitas pelonggaran moneter yang telah dilakukan.  

Selain itu, proteksionisme Trump dapat memengaruhi harga komoditas global, seperti minyak dan pangan, yang berpotensi memicu inflasi impor di Indonesia. Dalam situasi ini, Bank Indonesia menghadapi dilema antara menjaga inflasi terkendali atau melanjutkan kebijakan ekspansif untuk mendorong pertumbuhan. 

Baca Juga: Pekerjaan Berat Pemerintah Genjot Penerimaan Pajak di Saat Dana Belanja Menanjak

Ruang gerak kebijakan moneter akan menyempit, terutama jika inflasi mulai mendekati batas atas target. Tentu, dalam konteks konsolidasi kebijakan, terbatasnya ruang gerak kebijakan moneter akan menjadi tantangan dengan upaya mendorong pertumbuhan ekonomi, tidak hanya di tahun ini tapi juga dalam beberapa tahun ke depan. 

Ketegangan dagang dan gangguan pada arus perdagangan serta investasi regional juga dapat memengaruhi likuiditas dan stabilitas sektor keuangan domestik. Oleh karena itu, menghadapi tantangan ini, kebijakan moneter Indonesia perlu tetap adaptif. Bank Indonesia dapat mengoptimalkan instrumen BI Rate sebagai reference rate dengan melakukan fine-tuning terhadap koridor suku bunga operasional. Dengan ini, Bank Indonesia dapat mempersempit spread koridor suku bunga untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan moneter.

Baca Juga: Jaminan Prabowo untuk Investasi ke Indonesia

Penguatan transmisi kebijakan moneter melalui jalur kredit juga perlu menjadi prioritas dengan mendorong intermediasi perbankan yang efektif. Bank Indonesia dapat terus meningkatkan implementasi kebijakan makroprudensial untuk mendukung penyaluran kredit ke sektor-sektor produktif, melalui tidak hanya berdasarkan skema reward, namun juga punishment dari sebuah kebijakan.

Dalam konteks jalur nilai tukar, Bank Indonesia perlu memperkuat strategi stabilisasi nilai tukar rupiah melalui intervensi di pasar valas dan pengelolaan cadangan devisa yang optimal. Hal ini salah satunya dapat dilakukan dengan mengoptimalkan implementasi kebijakan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA). Jangka waktu yang efektif untuk penempatan DHE SDA di dalam negeri perlu disesuaikan kembali, disesuaikan dengan skema insentif seperti suku bunga premium, atau kemudahan dalam akses pembiayaan ekspor. 

Baca Juga: Modal Pemerintah Cekak untuk Menggenjot Target Pertumbuhan Ekonomi Jumbo

Terakhir yang tidak kalah penting, penguatan komunikasi kebijakan moneter menjadi krusial untuk mengelola ekspektasi pasar dan menjaga kepercayaan investor. Bank Indonesia perlu mengkomunikasikan strategi dan langkah-langkah kebijakan secara jelas dan terukur untuk meminimalkan ketidakpastian pasar akibat kebijakan Trump yang dapat mempengaruhi sentimen investor global terhadap emerging markets, termasuk Indonesia. 

Bagikan

Berita Terbaru

Neraca Dagang Indonesia Defisit Pertama Kali dalam 72 Bulan
| Rabu, 01 Juli 2026 | 15:52 WIB

Neraca Dagang Indonesia Defisit Pertama Kali dalam 72 Bulan

Indonesia catat defisit dagang pertama setelah 72 bulan surplus. Impor migas melonjak drastis, ini alasan Anda perlu tahu dampaknya segera.

Kenaikan Harga Bensin Memicu Inflasi Tahunan Juni 3,34%
| Rabu, 01 Juli 2026 | 13:22 WIB

Kenaikan Harga Bensin Memicu Inflasi Tahunan Juni 3,34%

Secara tahunan atau year on year (YoY), inflasi Juni 2026 tercatat sebesar 3,34%, meningkat dari 3,08% pada Mei 2026.

Transaksi BEI Anjlok Hampir 50% dalam Dua Pekan, Likuiditas Pasar Saham RI Mengering
| Rabu, 01 Juli 2026 | 10:25 WIB

Transaksi BEI Anjlok Hampir 50% dalam Dua Pekan, Likuiditas Pasar Saham RI Mengering

Setelah IHSG mengalami tekanan tajam dalam beberapa kesempatan, tingkat kepercayaan investor ritel ikut menurun.

Ada Lelang Frekuensi, Mitratel (MTEL) Bidik Pertumbuhan Kinerja Pada 2026
| Rabu, 01 Juli 2026 | 09:38 WIB

Ada Lelang Frekuensi, Mitratel (MTEL) Bidik Pertumbuhan Kinerja Pada 2026

Emiten menara telekomunikasi ini memproyeksi, kenaikan pendapatan dan EBITDA tahun 2026 mengikuti pertumbuhan industri menara telekomunikasi.​

Laju Saham Kompas100 Belum Maknyus
| Rabu, 01 Juli 2026 | 09:34 WIB

Laju Saham Kompas100 Belum Maknyus

Saham emiten berkapitalisasi besar atau big caps di Bursa Efek Indonesia jadi pemberat kinerja IDX Kompas100 sejak awal 2026.

Ekspektasi Suku Bunga Masih Tinggi, Mirae Asset Kaji Ulang Target IHSG
| Rabu, 01 Juli 2026 | 09:24 WIB

Ekspektasi Suku Bunga Masih Tinggi, Mirae Asset Kaji Ulang Target IHSG

Performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kian terpuruk. Mirae Asset Sekuritas berpotensi memangkas target IHSG di 2026. ​

Jalan Terjal Indeks Saham Sektoral
| Rabu, 01 Juli 2026 | 09:18 WIB

Jalan Terjal Indeks Saham Sektoral

Di sepanjang tahun berjalan 2026 atau year to date (YtD), seluruh indeks sektoral di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat kinerja negatif ​

Patriot Bond dan Merah Putih Bond: Perlakuan Super Istimewa dengan Risiko Nyata
| Rabu, 01 Juli 2026 | 08:51 WIB

Patriot Bond dan Merah Putih Bond: Perlakuan Super Istimewa dengan Risiko Nyata

Ketidakpatuhan yang berujung pada peluang memperoleh perlindungan khusus, akan merusak insentif kepatuhan pajak jangka panjang.

Kenaikan Produksi Mendorong Prospek Saham INCO
| Rabu, 01 Juli 2026 | 08:21 WIB

Kenaikan Produksi Mendorong Prospek Saham INCO

Proyek hilirisasi INCO diprediksi dorong laba di 2026. Analis pun memasang rekomendasi beli saham INCO

Rupiah Anjlok Lagi, Mengawali Juli 2026, Simak Prediksi Mata Uang Garuda Hari Ini
| Rabu, 01 Juli 2026 | 08:17 WIB

Rupiah Anjlok Lagi, Mengawali Juli 2026, Simak Prediksi Mata Uang Garuda Hari Ini

Rupiah merosot 0,31% ke Rp 17.907 per dolar AS. Faktor domestik dan arah kebijakan moneter The Fed menjadi penentu pergerakan rupiah. 

INDEKS BERITA

Terpopuler