UOB Prediksi Sektor Konstruksi Tumbuh Melambat, Ini Penyebabnya

Rabu, 17 Juli 2019 | 17:42 WIB
UOB Prediksi Sektor Konstruksi Tumbuh Melambat, Ini Penyebabnya
[]
Reporter: Narita Indrastiti | Editor: Narita Indrastiti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja perusahaan konstruksi diprediksi melambat pada tahun ini. Arus kas emiten konstruksi bakal lebih banyak didorong oleh divestasi aset. Rencana pemerintah yang akan lebih fokus ke dana sosial tahun ini dibandingkan belanja infrastruktur juga dapat mempengaruhi kinerja emiten konstruksi. 

Dalam risetnya, Rabu (17/7), Analis UOB Kay Hian Arandi Ariantara mengatakan, pertumbuhan rata-rata laba industri konstruksi diperkirakan hanya sebesar 3% tahun ini. Emiten plat merah seperti PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dan PT PP Tbk (PTPP), masing-masing akan tumbuh kurang dari 15% year on year (yoy) dan diharapkan bisa tumbuh lebih baik pada tahun depan. 

Arandi menjelaskan, arus kas dan laba bersih emiten konstruksi lebih banyak didorong oleh aksi divestasi aset. Di bulan Mei misalnya, WIKA berhasil menjual 20% saham jalan tol Surabaya-Mojokerto ke Astra Infra sebesar Rp 700 miliar. Sehingga, WIKA bakal memperoleh keuntungan sekitar Rp 350 miliar di kuartal kedua tahun ini. 

Baru-baru ini, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) juga disebut bisa memperoleh Rp 7,1 triliun dari divestasi aset dan membukukan keuntungan Rp 3,6 triliun. Sementara itu, PTPP juga berencana melakukan divestasi tiga proyek infrastruktur yang diharapkan bisa mengantongi dana hingga Rp 500 miliar. 

Pada bulan Mei, PT Adhi Karya Tbk (ADHI) menerima pembayaran Light Rail Transit (LRT) ketiga sebesar Rp 1,2 triliun. Pembayaran ini membuat aliran kas ADHI kembali positif, dibandingkan kuartal I 2019 lalu yang masih negatif Rp 997 miliar. Pembayaran keempat Rp 2,8 triliun telah dikirim ke pemilik proyek dan diharapkan bisa direalisasikan pada kuartal II 2019 mendatang. 

Arandi menilai, perusahaan konstruksi masih punya banyak ruang untuk membiayai kontrak baru ataupun kontrak carry over. Misalnya dengan pinjaman bank dan penerbitan obligasi. Namun, peluang itu tak berlaku untuk WSKT.

Pasalnya, perusahaan tersebut masih menghadapi masalah solvabilitas. Berdasarkan laporan keuangan kuartal I 2019, debt to equity ratio (DER) WSKT sudah mencapai 3,7 kali, atau berada di negative covenant DER sebesar 3 kali. Di sisi lain, WIKA masih memiliki banyak ruang untuk mendorong proyek-proyeknya. Utang terhadap ekuitas WIKA masih sebesar 1 kali pada kuartal I 2019. 

Total target kontrak baru untuk emiten-emiten yang dicover UOB mencapai Rp 194 triliun pada tahun ini atau naik 33% yoy. Sementara itu, pendapatan industri diprediksi tumbuh 3% yoy pada 2019 dan 15,8% pada 2020. 

Sementara itu, emiten swasta seperti PT Acset Indonusa Tbk (ACST) diprediksi akan memiliki pendapatan terbesar karena penyelesaian Jalan tol Jakarta-Cikampek Elevated II, yang seharusnya mengurangi beban sebesar 17% yoy dan memperluas margin bersih menjadi 1,6%. Namun, dari segi stabilitas pertumbuhan dan margin, UOB lebih memilih PTPP yang diperkirakan akan tumbuh 12% dengan margin bersih 6%. 

Kinerja sektor properti di kuartal II 2019 pun dinilai bakal mengecewakan lantaran aktivitas konstruksi yang lebih lambat akibat liburan Lebaran dan pemilihan umum. Tapi, hal ini tak berlaku bagi WIKA yang mencatat potensi keuntungan dari penjualan hingga Rp 350 miliar. 

UOB pun menurunkan rekomendasi sektor konstruksi menjadi market weight. Rekomendasi ini juga memperhitungkan pada rencana pemerintah yang mengalihkan fokus ke pengembangan sumber daya manusia pada tahun 2019.

Tahun ini, pemerintah telah mengalokasikan hanya 1% yoy peningkatan anggaran infrastruktur, sementara anggaran pendidikan dan kesehatan masing-masing naik 10% yoy, dan transfer daerah naik 8% yoy. Hal ini akan memengaruhi piutang usaha atau account receivables (AR) emiten konstruksi. 

Industri konstruksi diharapkan bakal lebih bullish pada 2020 mendatang, sejalan dengan yang disebutkan Presiden Jokowi dalam pidato baru-baru ini bahwa pembangunan infrastruktur Indonesia akan terus berlanjut. "Jadi seharusnya menghasilkan pengeluaran infrastruktur yang lebih tinggi dalam APBN 2020," ujarnya. 
 
Saham pilihan UOB untuk sektor ini adalah ADHI dan ACST dengan target harga masing-masing Rp 2.800 dan Rp 2.580 per saham. 

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

Saham Meroket 50%, GPSO Siap Eksekusi Private Placement & Masuk ke Komponen Otomotif
| Jumat, 15 Mei 2026 | 15:08 WIB

Saham Meroket 50%, GPSO Siap Eksekusi Private Placement & Masuk ke Komponen Otomotif

PT Geoprima Solusi Tbk (GPSO) menjadwalkan sudah bisa membukukan pengakuan pendapatan perdana pada minggu kedua Juli 2026.

Cita Mineral (CITA) Bakal Sebar Dividen Tunai Rp 1,39 Triliun
| Jumat, 15 Mei 2026 | 09:54 WIB

Cita Mineral (CITA) Bakal Sebar Dividen Tunai Rp 1,39 Triliun

Nilai dividen yang akan diterima setiap pemegang saham PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) sebesar Rp 351 per saham.

Penjualan Unjuk Gigi, Prospek Astra (ASII) Kian Bertaji
| Jumat, 15 Mei 2026 | 09:51 WIB

Penjualan Unjuk Gigi, Prospek Astra (ASII) Kian Bertaji

Penjualan mobil PT Astra International Tbk (ASII) pada periode April 2026 tembus 41.752 unit, tumbuh 54,77% secara tahunan.

Tingkatkan Likuiditas Saham, Rukun Raharja (RAJA) Siap Laksanakan Stock Split
| Jumat, 15 Mei 2026 | 09:43 WIB

Tingkatkan Likuiditas Saham, Rukun Raharja (RAJA) Siap Laksanakan Stock Split

Sebelum stock split, nilai nominal saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) masih Rp 25 per saham dan akan dipecah menjadi Rp 5 per saham. ​

Ekspansi Layanan Mendorong Kinerja Siloam (SILO) Semakin Menawan
| Jumat, 15 Mei 2026 | 09:35 WIB

Ekspansi Layanan Mendorong Kinerja Siloam (SILO) Semakin Menawan

PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) mencatatkan kinerja solid di sepanjang 2025, baik dari sisi bottom line maupun top line. 

Rupiah Jeblok Bikin Bengkak Beban Utang, Kredibilitas Kebijakan Pemerintah Disorot
| Jumat, 15 Mei 2026 | 09:30 WIB

Rupiah Jeblok Bikin Bengkak Beban Utang, Kredibilitas Kebijakan Pemerintah Disorot

Ekstra debt service sebagai imbas kombinasi rupiah yang anjlok dan yield yang melambung bakal menembus lebih dari Rp 20 triliun.

Harga Timah Semakin Bergairah, Prospek TINS Cerah
| Jumat, 15 Mei 2026 | 09:29 WIB

Harga Timah Semakin Bergairah, Prospek TINS Cerah

Harga timah global yang masih berpotensi bertahan di level tinggi akan menjadi penopang bagi kelangsungan kinerja PT Timah Tbk (TINS).

Harga Timah Semakin Bergairah, Prospek TINS Masih Cerah
| Jumat, 15 Mei 2026 | 09:24 WIB

Harga Timah Semakin Bergairah, Prospek TINS Masih Cerah

Harga timah global yang masih berpotensi bertahan di level tinggi akan menjadi penopang bagi kelangsungan kinerja PT Timah Tbk (TINS).

Haji Isam Beli Saham PACK Senilai Rp 936 Miliar
| Jumat, 15 Mei 2026 | 08:57 WIB

Haji Isam Beli Saham PACK Senilai Rp 936 Miliar

Kehadiran PACK menambah daftar emiten yang terafiliasi dengan Haji Isam. Sebelumnya, ia telah memiliki sejumlah perusahaan tercatat di BEI. ​

Emiten Ramai-Ramai Tambah Usaha Baru Agar Laba Menderu
| Jumat, 15 Mei 2026 | 08:51 WIB

Emiten Ramai-Ramai Tambah Usaha Baru Agar Laba Menderu

Ada sembilan emiten yang mengumumkan langkah ekspansi bisnis melalui penambahan aktivitas kegiatan usaha baru. 

INDEKS BERITA