Wake Up Call: Kisah Lo Kheng Hong Jual Properti demi Membeli Saham

Senin, 13 Maret 2023 | 07:00 WIB
Wake Up Call: Kisah Lo Kheng Hong Jual Properti demi Membeli Saham
[]
Lukas Setia Atmaja | Founder of HungryStock Community (www.hungrystock.com), IG: lukas_setiaatmaja

KONTAN.CO.ID - Pernahkah Anda menemukan saham yang diyakini bagus dan harganya sedang terpuruk? Anda tentu ingin segera membeli saham tersebut sebelum harganya kembali naik alias rebound. Namun bisa jadi, ketika hendak membeli saham tersebut, uang tunai Anda sudah habis dan Anda tidak ingin menjual saham lain yang ada dalam portofolio Anda.

Situasi ini dialami oleh Lo Kheng Hong (LKH) di tahun 2002. Saat itu, Indeks harga Saham Gabungan (IHSG) ada di level 330. Sebagai pembanding, di Mei 1997, setahun sebelum badai krisis moneter menghantam Indonesia, IHSG berada di level 700. IHSG di 2002 turun banyak karena ada peristiwa bom di tiga lokasi di Bali, pada 12 Oktober 2002.

Lo Kheng Hong membeli saham PT United Tractors Tbk (UNTR) tahun 1998 dengan mayoritas uang yang dimilikinya, yaitu sekitar Rp 1,5 miliar. Lalu, pada tahun 2000, Lo Kheng Hong membeli sebuah rumah seharga Rp 600 juta di daerah Cisarua.

Rumah tersebut berlantai marmer yang mahal diimpor dari Italia. Luas tanahnya mencapai 2.800 meter persegi. Pemiliknya adalah seorang pengusaha kaya.

Saat proses jual beli, pemilik rumah datang dengan mengendarai mobil sedan Mercedes Benz-S Class. Sedangkan Lo Kheng Hong datang dengan naik mobil sedan rakyat merek Timor (singkatan dari Teknologi Industri Mobil Rakyat), yang harga barunya sekitar Rp 35 juta.

Baca Juga: Kabar Masuknya Lo Kheng Hong dan Pelepasan Saham Treasuri, ini Jawaban Manajemen ANJT

Lo Kheng Hong sebenarnya sangat menyukai rumah ini. Namun karena ingin membeli saham yang harganya ia anggap murah, Lo Kheng Hong akhirnya menjual rumah tersebut seharga Rp 1,3 miliar di tahun 2002.

Saham apa yang menarik perhatian Lo Kheng Hong sampai rela melepas rumah yang baru 2 tahun dimilikinya tersebut? Jawabannya adalah saham PT Timah Tbk (TINS).

TINS adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang pertambangan atau eksplorasi timah. TINS adalah penghasil timah dunia terbesar pada tahun 2008. Timah digunakan untuk solder, kemasan produk, baju anti api, sampai dengan pembuatan stabiliser pvc, pestisida dan pengawet kayu.

Lo Kheng Hong membeli saham TINS pada harga sekitar
Rp 290 per saham. Ia membeli 24 juta saham TINS, dan menjadi salah satu pemegang saham TINS terbesar di luar pemerintah saat itu, sebagai pemegang saham mayoritas.

Lo Kheng Hong kemudian menjual saham TINS pada tahun 2004 dengan harga sebesar Rp 2.900 per saham. Artinya, LKH meraup keuntungan sekitar Rp 63 miliar atau sekitar 900% dalam waktu dua tahun.

Lo Kheng Hong tertarik membeli saham TINS karena pada tahun 2002 nilai buku ekuitas perusahaan pelat merah tersebut sebesar Rp 1,5 triliun. Sedangkan nilai pasar ekuitasnya (kapitalisasi pasar) pada harga saham Rp 290 hanya Rp 150 miliar.

Baca Juga: Investor Bertanya, Lo Kheng Hong Menjawab Bagian 10

Artinya price to book value (PBV) TINS hanya sekitar 0,19 kali. Namun laba bersih TINS pada tahun 2002 hanya Rp 11 miliar, turun dari Rp 37 milyar pada tahun 2011. Salah satu penyebabnya adalah harga timah yang rendah.

Selain valuasinya (PBV) yang sangat murah, Lo Kheng Hong membeli TINS dengan harapan harga timah dunia akan naik. Ketika harga timah mulai membaik, kinerja keuangan dan harga saham TINS otomatis akan terkerek naik.

Sebenarnya Lo Kheng Hong punya peluang untuk memperoleh keuntungan lebih fantastis dari TINS jika ia tidak menjual saham TINS di Rp 2.900. Setelah ia jual, harga saham TINS masih naik terus, seiring dengan pertumbuhan harga timah dunia yang luar biasa.

Apakah Lo Kheng Hong menyesal? Dengan tersenyum, Lo Kheng Hong menjawab bahwa  “Kalau saya sudah mendapatkan untung yang begitu besar saya masih menyesal, kapan saya bersyukurnya? Investor saham yang tidak bijak, hidupnya bisa-bisa  diisi dengan penyesalan setiap hari.”

Lo Kheng Hong juga berani menjual propertinya untuk membeli saham. Apa yang dilakukan oleh Lo Kheng Hong didasari pada pertimbangan kenaikan harga rumah tidak setinggi kenaikan harga saham. Apalagi jika bisa membeli saham yang salah harga.

Dalam contoh kasus ini, investasi Lo Kheng hong di saham TINS memberikan keuntungan 900% dalam waktu 2 tahun. Jika ia tetap memegang rumah tersebut, sudah tentu kenaikannya tidak akan sebesar itu, paling sekitar 10% setahun. Dengan melepas rumah tersebut, dua tahun kemudian, Lo Kheng Hong punya dana untuk membeli lebih banyak rumah.

Baca Juga: Wake Up Call: Kaleidoskop 2022 dan Prospek 2023

Tapi, jangan buru-buru mengikuti langkah Lo Kheng Hong. Sebelum investor menjual rumah untuk membeli saham, ada beberapa hal yang harus diingat.

Pertama, rumah Lo Kheng Hong yang dijual bukan rumah satu-satunya. Artinya, rumah yang dijual adalah aset untuk investasi, bukan untuk ditinggali sehari-hari. Jika kita hanya punya satu rumah, kalau dijual maka kita terpaksa menyewa rumah atau apartemen untuk tinggal. Perlu dipertimbangkan apakah keluarga kita bisa nyaman dengan kondisi seperti ini.

Kita juga harus membayar pajak yang lumayan tinggi ketika menjual dan jika di kemudian hari membeli rumah lagi. Pajak menjual rumah adalah sebesar 2,5%, dan membeli rumah adalah sebesar 5%. Ditambah biaya untuk agen properti ketika menjual rumah sebesar 2,5%, total biaya yang dikeluarkan bisa mencapai 10%. Belum lagi biaya untuk notaris dan balik nama sertifikat.

Kedua, investasi saham memiliki risiko yang lebih tinggi dari properti. Untuk meminimalkan risiko, kita harus pandai mencari saham yang tidak hanya bagus, tetapi memang harganya sedang murah. Mercy harga Bajaj, atau setidaknya Mercy harga Avanza.

Bagikan

Berita Terbaru

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,11% Ditopang Industri Pengolahan & Jasa, Tambang Pemberat
| Kamis, 05 Februari 2026 | 13:56 WIB

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,11% Ditopang Industri Pengolahan & Jasa, Tambang Pemberat

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,11% secara tahunan, meningkat dibandingkan pertumbuhan 2024 yang sebesar 5,03%.

Tertekan Aturan Impor Pakan, Saham Poultry Masih Layak Diperhatikan
| Kamis, 05 Februari 2026 | 13:55 WIB

Tertekan Aturan Impor Pakan, Saham Poultry Masih Layak Diperhatikan

Perubahan aturan impor bahan baku pakan ternak, berpotensi memberi tekanan jangka pendek pada margin industri perunggasan.

Hai MSCI, Upaya Pembenahan di BEI Tak Menyentuh Persoalan Krusial nan Kontroversial
| Kamis, 05 Februari 2026 | 10:17 WIB

Hai MSCI, Upaya Pembenahan di BEI Tak Menyentuh Persoalan Krusial nan Kontroversial

UMA, suspensi, dan PPK tidak pernah disertai penjelasan substantif mengenai jenis anomali, tingkat risiko, atau parameter yang dilanggar.

Jika Kenaikan Free Float 15% Diterapkan, Ada 267 Emiten Tak Bisa Penuhi Ketentuan
| Kamis, 05 Februari 2026 | 10:02 WIB

Jika Kenaikan Free Float 15% Diterapkan, Ada 267 Emiten Tak Bisa Penuhi Ketentuan

BEI menegaskan, jika kenaikan free float 15% diterapkan, ada 267 emiten yang belum bisa memenuhi ketentuan.​

Investor Mulai Melirik Saham Berbasis Fundamental
| Kamis, 05 Februari 2026 | 09:49 WIB

Investor Mulai Melirik Saham Berbasis Fundamental

Prospek emiten penghuni indeks LQ45 dinilai cukup positif seiring meningkatnya minat investor terhadap saham-saham berfundamental kuat.

Ada Peringatan dari Bank Dunia, Simak Proyeksi Kurs Rupiah Hari Ini, Kamis (5/2)
| Kamis, 05 Februari 2026 | 09:35 WIB

Ada Peringatan dari Bank Dunia, Simak Proyeksi Kurs Rupiah Hari Ini, Kamis (5/2)

Bank Dunia yang menilai, Indonesia berisiko sulit keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).

Harga Minyak Mentah Naik, Emiten Siap Pacu Kinerja
| Kamis, 05 Februari 2026 | 09:27 WIB

Harga Minyak Mentah Naik, Emiten Siap Pacu Kinerja

Dalam sebulan terakhir, harga minyak mentah jenis WTI dan Brent melejit hampir 10%. Ini jadi sentimen positif bagi prospek kinerja emiten migas.

Penjualan Emas Tahun 2025 Turun, Kinerja Aneka Tambang (ANTM) Tertolong Bisnis Nikel
| Kamis, 05 Februari 2026 | 09:20 WIB

Penjualan Emas Tahun 2025 Turun, Kinerja Aneka Tambang (ANTM) Tertolong Bisnis Nikel

Kendati volume produksi dan penjualan emas merosot pada 2025, segmen nikel dan bauksit PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mengalami pertumbuhan tinggi. 

Alokasikan Total Dana Jumbo, Empat Emiten Prajogo Menggelar Buyback Saham
| Kamis, 05 Februari 2026 | 09:10 WIB

Alokasikan Total Dana Jumbo, Empat Emiten Prajogo Menggelar Buyback Saham

Dari keempat emiten Grup Barito tersebut, TPIA dan BREN mengalokasikan dana paling jumbo untuk buyback saham, yakni masing-masing Rp 2 triliun.

Edwin Soeryadjaya Tambah Kepemilikan Saham di Saratoga (SRTG)
| Kamis, 05 Februari 2026 | 08:59 WIB

Edwin Soeryadjaya Tambah Kepemilikan Saham di Saratoga (SRTG)

Total dana yang dikucurkan Edwin dalam transaksi tersebut Rp 2,47 miliar. Nilai transaksi pertama Rp 796,09 juta dan kedua Rp 1,68 miliar. ​

INDEKS BERITA

Terpopuler