Was-was di Konstruksi

Senin, 08 Juni 2026 | 06:10 WIB
Was-was di Konstruksi
[ILUSTRASI. Asnil Bambani Amri (KONTAN/Indra Surya)]
Asnil Bambani | Senior Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Jono, seorang pemborong bangunan di Tangerang tengah menghadapi situasi yang tidak mudah. Sejumlah proyek konstruksi yang dikerjakannya mendadak membengkak biayanya akibat kenaikan harga bahan bangunan, terutama besi, baja dan semen. Lonjakan harga membuat perencanaan anggaran proyek yang telah disusun sejak awal menjadi berantakan.

Nilai kontrak yang disepakati tiga bulan lalu kini tidak lagi sejalan dengan harga material saat ini. Khusus harga berbahan besi dan baja naik sekitar 15%-20%. Kondisi ini menempatkan Jono pada dua pilihan sulit, menghentikan proyek dan berisiko melanggar kontrak, atau bernegosiasi dengan pemilik proyek untuk merevisi nilai kontrak.

Dari tiga proyek yang digarap, hanya satu yang berlanjut, itu karena Jono berhasil negosiasi untuk menambah anggaran proyek. Sementara dua proyek lain terhenti sembari menunggu negosiasi.

Apa yang dialami Jono mencerminkan persoalan yang tengah dihadapi kontraktor di Indonesia. Dampaknya paling terasa bagi kontraktor yang mengandalkan baja sebagai material utama konstruksi. Melemahnya rupiah mendorong kenaikan harga baja impor, sehingga biaya pembangunan ikut melonjak.

Kondisi serupa juga terjadi pada semen, meski kenaikannya tidak setajam baja. Berdasarkan analisis Indonesia Property Watch (IPW), belanja baja dan semen menyumbang sekitar 30% dari total biaya konstruksi. Karena itu, kontraktor menghadapi dilema yang sama. 

Jika renegosiasi kontrak tidak memungkinkan, mereka harus menanggung kenaikan biaya sendiri. Konsekuensinya, laba menyusut atau proyek rugi. Opsi lain yang kerap muncul adalah, menyesuaikan spesifikasi material, meski langkah ini berisiko menurunkan kualitas pekerjaan dan reputasi perusahaan.

Risiko yang lebih besar adalah terhentinya, baik proyek yang sedang berjalan maupun proyek baru. Jika situasi ini berlangsung lama, dampaknya bisa merembet ke perekonomian nasional. Maklum, sektor konstruksi merupakan salah satu penopang utama ekonomi dengan kontribusi 10% terhadap produk domestik bruto (PDB). 

Selain itu, sektor ini juga menjadi sumber penghidupan bagi jutaan pekerja. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor konstruksi menyerap sekitar 8,7 juta tenaga kerja. Karena itu, imbas pelemahan rupiah bukan sekadar masalah kontraktor, melainkan juga menyangkut keberlangsungan aktivitas ekonomi yang lebih luas.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Diguyur Net Sell Triliunan Rupiah, Apakah Kenaikan Tiga Hari TLKM Cuma Bull Trap?
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 14:00 WIB

Diguyur Net Sell Triliunan Rupiah, Apakah Kenaikan Tiga Hari TLKM Cuma Bull Trap?

Karakter bisnis yang relatif defensif, arus kas yang stabil, serta rekam jejak pembagian dividen turut menjadi daya tarik PT Telkom Indonesia Tbk.

Tekanan Kredit Sektor Konstruksi, Indikasi Tingginya Risiko Likuiditas
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 13:30 WIB

Tekanan Kredit Sektor Konstruksi, Indikasi Tingginya Risiko Likuiditas

Masalah utamanya bukan sekadar jumlah utang, melainkan ketidaksesuaian jadwal pembayaran dengan penerimaan kas proyek.

Tak Hanya CIMB Niaga, Ada 14 Bank Punya Asing dengan Free Float di Bawah 15%
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 13:15 WIB

Tak Hanya CIMB Niaga, Ada 14 Bank Punya Asing dengan Free Float di Bawah 15%

Guntur menambahkan, jika banyak perusahaan berkualitas memilih delisting, market cap, likuiditas, dan investable universe BEI akan berkurang.

Hari Ini Saham PTSN dan ERAA Naik 24,46% dan 1,75%, Efek Wacana Pemberian HP Gratis?
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 13:00 WIB

Hari Ini Saham PTSN dan ERAA Naik 24,46% dan 1,75%, Efek Wacana Pemberian HP Gratis?

Pemerintah berencana akan membagikan handphone gratis untuk sekurang-kurangnya 25 juta warga berusia dewasa yang masuk dalam kategori desil 1-4.

Trafik Kargo IPCC Naik, Pemulihan Logistik Kendaraan Domestik Topang Kinerja
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 12:37 WIB

Trafik Kargo IPCC Naik, Pemulihan Logistik Kendaraan Domestik Topang Kinerja

Tim Riset UOB Kay Hian memasukkan saham IPCC sebagai salah satu dari 10 saham yang berpotensi memberikan imbal hasil dividen tinggi.

Genjot Kinerja, JPFA Tebar Belanja Modal Rp 4 Triliun
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:53 WIB

Genjot Kinerja, JPFA Tebar Belanja Modal Rp 4 Triliun

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) memproyeksikan belanja modal atau capital expenditure (capex) di sepanjang 2026 akan melampaui Rp 4 triliun.

AMMN Mulai Eksekusi Aksi Buyback Saham Rp 1 Triliun
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:46 WIB

AMMN Mulai Eksekusi Aksi Buyback Saham Rp 1 Triliun

Aksi korporasi ini akan berlangsung selama tiga bulan dan dimulai pada Kamis 22 Oktober 2026 hingga 22 Januari 2027.​

TLDN Bayar Dividen Interim Tahun 2026 Rp 258,9 Miliar
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:42 WIB

TLDN Bayar Dividen Interim Tahun 2026 Rp 258,9 Miliar

Kemarin, emiten perkebunan sawit tersebut telah melaksanakan pembayaran dividen interim tahun 2026 senilai Rp 258,93 miliar dari buku tahun 2026. 

Waspadai Kenaikan Inflasi Pangan Imbas El Nino
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:40 WIB

Waspadai Kenaikan Inflasi Pangan Imbas El Nino

Pada September 2026 lalu, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada September 2026 mencapai 3,28% secara tahunan

Penjualan Tiap Toko Membaik, Prospek ACES Semakin Ciamik
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:38 WIB

Penjualan Tiap Toko Membaik, Prospek ACES Semakin Ciamik

Pertumbuhan SSSG PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) di sembilan bulan 2026 berbalik dari kontraksi 3,6% yoy pada periode sama di tahun 2025.

INDEKS BERITA

Terpopuler