Yield US Treasury Terus Melejit, Harga SUN di Posisi Sulit

Selasa, 18 Januari 2022 | 04:15 WIB
Yield US Treasury Terus Melejit, Harga SUN di Posisi Sulit
[]
Reporter: Danielisa Putriadita | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Yield US Treasury menyentuh level tertinggi. Pasar obligasi di Indonesia, terancam tertekan lantaran selisih (spread) yield bakal semakin tipis.
Mengutip Bloomberg, Senin (17/1), yield US Treasury masih bertahan di level tertingginya di 1,78%. Padahal akhir tahun lalu, yield US Treasury bertengger di posisi 1,51%.

Di saat yang sama, yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun, berada di posisi 6,37%. Akhir 2021, yield SUN ini ada di posisi 6,27%. Hal ini mengartikan selisih yield US Treasury dan SUN dari akhir tahun lalu sebanyak 476 basis poin (bps), kini berkurang menjadi 459 bps.

Head of Fixed Income Bank Negara Indonesia Fayadri mengatakan, kenaikan yield US Treasury terjadi karena dampak meningkatnya kekhawatiran investor terhadap tingginya angka inflasi di Amerika Serikat (AS). "Inflasi AS yang tinggi bukan lagi terjadi hanya sementara dan akan mendorong The Fed menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan semula," kata Fayadri, Senin (17/1).

Baca Juga: Yield US Treasury Menyentuh Rekor, Merespons Kekhawatiran Inflasi

Kenaikan yield US Treasury ini bisa memberikan sentimen negatif terhadap pasar obligasi dalam negeri. Fayadri mengatakan, meningkatnya yield yang diminta investor dari US Treasury juga akan memicu investor menyesuaikan tingkat imbal hasil dari obligasi dalam negeri. Yield SUN berpotensi ikut naik dan harga obligasi bisa terkoreksi.

Head of Fixed Income Sucorinvest Asset Management Dimas Yusuf juga mengatakan, saat yield US Treasury naik, maka yield SUN juga harus naik agar spread dapat terjaga tetap lebar dan menarik. Namun dalam jangka pendek, lanjut Dimas, naiknya yield US Treasury akan memberikan tekanan terhadap pasar obligasi domestik.

Fayadri memproyeksikan kenaikan imbal hasil US Treasury akan terus terjadi sampai adanya keputusan terkait kebijakan suku bunga dari Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed). Selain itu, dinamika angka inflasi yang dirilis saban bulan, kata Fayadri, masih akan menjadi faktor utama yang akan mempengaruhi yield US Treasury.

Dampak kondisi tersebut, volatilitas pasar obligasi di tahun ini masih akan tinggi. Sebaliknya, yield US Treasury berpeluang bergerak stabil atau menurun, jika tekanan lonjakan angka inflasi reda.

Dimas memprediksi yield US Treasury berpotensi naik paling tinggi ke level 2,25% di tahun ini. Sementara, yield SUN, kata Dimas, bakal naik ke 6,5% di tahun ini.

Baca Juga: Lelang SUN Berpotensi Menarik Penawaran Sampai Rp 70 Triliun

Bagikan

Berita Terbaru

Danantara Digadang Masuk Bursa Saham, All in atau Cuma Tebar Optimisme Belaka?
| Selasa, 03 Februari 2026 | 17:03 WIB

Danantara Digadang Masuk Bursa Saham, All in atau Cuma Tebar Optimisme Belaka?

Fulus Danantara tak cukup kuat memberikan dorongan signifikan secara struktural, meskipun tetap menciptakan efek psikologis.

Naik 10,8%, Jumlah Kunjungan Wisatawan Mancanegara Belum Mencapai Pra-Covid
| Selasa, 03 Februari 2026 | 16:53 WIB

Naik 10,8%, Jumlah Kunjungan Wisatawan Mancanegara Belum Mencapai Pra-Covid

BPS mencatat, total kunjungan wisman selama Januari–Desember 2025 mencapai 15,39 juta kunjungan, atau tumbuh 10,8% dibandingkan dengan 2024.

Didera Banyak Sentimen, Menakar Sejauh Mana Harga Emas Bakal Surut
| Selasa, 03 Februari 2026 | 09:05 WIB

Didera Banyak Sentimen, Menakar Sejauh Mana Harga Emas Bakal Surut

Penurunan harga emas saat ini bisa dipandang sebagai fase reset harga yang justru membuka peluang akumulasi bertahap.

IHSG Merah tapi Saham AADI Justru Melejit 6,25%! Ini Pemicunya
| Selasa, 03 Februari 2026 | 08:35 WIB

IHSG Merah tapi Saham AADI Justru Melejit 6,25%! Ini Pemicunya

Apabila IHSG terus melanjutkan tren pelemahannya, bukan mustahil gravitasi pasar akan menarik pergerakan AADI ke bawah.

Harga Timah Bergairah, Prospek TINS Cerah
| Selasa, 03 Februari 2026 | 08:06 WIB

Harga Timah Bergairah, Prospek TINS Cerah

Lonjakan signifikan harga timah dunia berpotensi jadi katalis positif bagi kinerja emiten produsen komoditas tersebut yakni PT Timah Tbk (TINS).

Rights Issue INET Senilai Rp 3,2 Triliun Oversubscribed
| Selasa, 03 Februari 2026 | 08:02 WIB

Rights Issue INET Senilai Rp 3,2 Triliun Oversubscribed

Dalam rights issue, ada 99,3% pemegang HMETD PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) yang melaksanakan haknya. 

Rogoh Kocek Rp 300 Miliar, Sarana Menara Nusantar (TOWR) Siap Buyback Saham
| Selasa, 03 Februari 2026 | 07:55 WIB

Rogoh Kocek Rp 300 Miliar, Sarana Menara Nusantar (TOWR) Siap Buyback Saham

Aksi korporasi ini akan menggunakan dana internal perusahaan dan dilaksanakan dengan mempertimbangkan sumber pendanaan yang cukup.​  

Harga Emas Luntur, Saham Emiten Babak Belur
| Selasa, 03 Februari 2026 | 07:49 WIB

Harga Emas Luntur, Saham Emiten Babak Belur

Penurunan harga emas membuat mayoritas saham emas terkoreksi tajam pada perdagangan saham Senin (2/2).

Jual-Beli Investor Asing di Saham GOTO yang Minim Imbas Isu MSCI, Blackrock Akumulasi
| Selasa, 03 Februari 2026 | 07:27 WIB

Jual-Beli Investor Asing di Saham GOTO yang Minim Imbas Isu MSCI, Blackrock Akumulasi

 tanpa adanya katalis segar, pergerakan GOTO cenderung akan mengalami konsolidasi dengan volatilitas yang tinggi.

Saat IHSG Tertekan, Emiten Penghuni IDXBUMN20 Masih Relatif Bertahan
| Selasa, 03 Februari 2026 | 07:13 WIB

Saat IHSG Tertekan, Emiten Penghuni IDXBUMN20 Masih Relatif Bertahan

Emiten pelat merah relatif bebas dari perkara yang dipersoalkan oleh Morgan Stanley Capital International.

INDEKS BERITA

Terpopuler