Yohanes F Silaen Petinggi ICDX Memilih Nabung Emas dan Trading Emas

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 07:05 WIB
Yohanes F Silaen Petinggi ICDX Memilih Nabung Emas dan Trading Emas
[]
Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Vice President Membership Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX) Yohanes F. Silaen mulai investasi saat telah memiliki penghasilan sendiri. Kala itu pilihan investasi pertamanya adalah emas batangan.

Pria yang kerap disapa John ini mengisahkan, sejak bekerja pada 2003 silam, ia rutin menyisihkan pendapatan untuk membeli logam mulia. Pertimbangannya adalah emas merupakan aset investasi yang secara nilai selalu naik setiap tahun.

"Apalagi, dulu harga emas masih murah. Per gramnya hanya Rp 200.000-Rp 300.000, Jadi dari gaji per bulan bisa disisihkan beli emas beberapa gram," kata John. Dia baru merasakan keuntungan menabung rutin emas batangan ketika ingin membeli rumah perdana pada medio 2005. 

Baca Juga: Tengah siang, harga emas spot berada di US$ 1.790,64 per ons troi

Kala itu, emas batangan yang ia miliki bisa digunakan untuk membayar uang muka rumah saat itu. John tidak menyangka ternyata rutinitas menabung emas bisa memberikan keuntungan menjanjikan.

Tak pelak, instrumen emas kini menjadi pilihan utama investasi pria berusia 40 tahun ini. John mulai membeli emas batangan, emas digital, hingga trading emas berjangka. 

Setelah berkecimpung pada industri derivatif berjangka, John mengaku juga mencicipi instrumen lainnya. 
Sayangnya, ternyata nasib investasinya tidak semengkilap ketika dirinya trading emas. Pada 2008, John tergoda trading Hang Seng. Saat itu, pergerakan indeks saham bursa Hong Kong ini menjanjikan. Ia ingat mulai beli ketika level Hang Seng di 31.500.

Awalnya, John sempat meraup cuan lumayan. Gara-gara itu, ia jadi sedikit serakah dan lupa memitigasi risiko. Saat itu, ia selalu berpikir koreksi tidak akan lama dan harga bisa kembali naik. "Ternyata indeks Hang Seng jatuh hingga 16.000," kenang John. 

Mitigasi risiko

Pria kelahiran Jakarta ini sampai tidak bisa tidur gara-gara kerugian tersebut. Kerugian tersebut membuat John banyak belajar soal mitigasi risiko, agar tidak terkena kerugian besar lagi. Maklum, volatilitas trading di produk berjangka memang tinggi, sehingga risiko juga tinggi. 

Baca Juga: BI perkirakan inflasi Oktober 2021 sebesar 0,08%

John kini lebih memilih fokus trading di emas berjangka yang volatilitasnya tidak tinggi. Ia menilai mitigasi risikonya lebih mudah dan terukur. Dari total investasi yang dimiliki, sebesar 50% dari keranjang investasi ditempatkan untuk trading instrumen derivatif futures. Sementara 30% untuk emas fisik dan digital, lalu 20% di properti. 

Pria berzodiak Aquarius ini mengaku menyukai karakteristik trading futures yang sangat likuid. Ia bisa melakukan trading untuk jangka pendek, menengah, hingga panjang. 

Potensi return yang didapat juga lebih optimal. "Misalnya saya ada waktu luang satu jam, saya trading emas, karena ada pergerakan beberapa poin juga bisa menghasilkan cuan," terang John. Namun, dia mengingatkan risikonya tinggi. Karena itu, perlu mitigasi risiko terukur dan disiplin, agar tidak mengalami kerugian besar ketika trading.

John mencontohkan, dari dana Rp 100 juta yang diinvestasikan, ia selalu pasang batas kerugian hingga 50%. Lalu, setiap transaksi ia tetapkan cutloss Rp 5 juta. Jadi batas kerugian maksimal 10 kali. Namun, berdasarkan pengalamannya, dari 10 kali trading, rugi cuma 2-3 kali. 

Disiplin bertransaksi adalah kunci utama dalam trading futures. Investor sebaiknya memasang target harga, baik cutloss maupun take profit. Jadi, ketika target harga tercapai, harus dieksekusi. 

Baca Juga: Dolar AS menjadi mata uang yang paling perkasa di hadapan rupiah

Jangan lupa, untuk selalu kuasai analisa fundamental dan teknikal untuk bekal dalam mengambil keputusan. "Pastikan dancing with the market, maksudnya ikut pasar sedang ke mana, turun atau naik, jangan coba lawan arah market," terang John.

John meminta memastikan investor seperti apa Anda. Jika memang risk taker, maka produk derivatif futures cocok. Pastikan juga menggunakan uang dingin. Khusus untuk investor pemula, John merekomendasikan investor memulai dengan trading emas futures karena pergerakan stabil. 

Selain itu, bisa mulai menggunakan kontrak berskala kecil untuk momen belajar dan mengenali pergerakan pasar. "Untuk pemula, bisa coba kontrak kecil seperti GOFX yang disediakan ICDX," saran dia. 

Bergelut di Futures Sejak Tahun 2001

Kecintaan Yohanes F. Silaen terhadap derivatif futures tidak terlepas dari kiprahnya yang selalu menggeluti industri ini. Pria yang akrab dipanggil John ini sedari awal memang menjalani kariernya di industri derivatif futures sebagai manager di PT Macsearch Internusa pada 2001. 

John mengatakan, menjalani profesi tersebut bukanlah hal yang mudah. Maklum di awal tahun 2000-an, penggunaan teknologi seperti laptop belumlah populer. Sehingga sulit bagi dia harus menjual produk dan mengajak orang berinvestasi di futures. 

Alhasil, John harus mengandalkan kemampuan presentasi secara manual untuk meyakinkan para nasabah mau bertransaksi futures. 
"Mempresentasikan produk investasi yang tidak ada wujudnya, dengan dukungan teknologi yang minim tentu menjadi tantangan tersendiri. Untungnya, karena memang suka, semuanya saya jalani dengan tekun dan teliti," kata John.

Usahanya pun berbuah manis, John berhasil terus menggaet nasabah baru dan membuatnya diangkat menjadi Senior Business Manager di PT Mahadana Asta Berjangka pada 2005. 

Baca Juga: Harga emas tertekan perbaikan penjualan retail AS

Terus menggeluti pekerjaannya dengan sungguh-sungguh, kiprah John pun makin gemilang hingga ditunjuk menjadi Direktur Kepatuhan di PT Trijaya Pratama Futures pada 2016. 

Terakhir, pada 2019, John resmi diangkat menjadi Vice President Membership di ICDX. "Puji tuhan, kesukaan saya terhadap industri ini berhasil membuat saya dari 0 hingga mencapai titik saat ini dan bergabung di jajaran bursa," ujar dia.   

Bagikan

Berita Terbaru

Performa Kompas100 Paling Moncer & Masih Punya Tenaga, LQ45 dan IDX30 Tertinggal Jauh
| Senin, 19 Januari 2026 | 12:57 WIB

Performa Kompas100 Paling Moncer & Masih Punya Tenaga, LQ45 dan IDX30 Tertinggal Jauh

Hingga pertengahan Januari 2026, pergerakan saham-saham unggulan di Indeks Kompas100 masih menunjukkan sinyal positif.

Guncangan Trump Jilid II: Antara Perang Dagang, Operasi Militer, dan Nasib Ekonomi RI
| Senin, 19 Januari 2026 | 09:43 WIB

Guncangan Trump Jilid II: Antara Perang Dagang, Operasi Militer, dan Nasib Ekonomi RI

Produsen lokal RI semakin tergencet oleh banjir barang murah dari Tiongkok, mulai dari tekstil (TPT), besi baja, hingga kendaraan listrik (EV).

Harga Perak Menggila! Sempat Anjlok Lalu Melawan ke US$ 93,92, Bakal Kemana Lagi?
| Senin, 19 Januari 2026 | 08:45 WIB

Harga Perak Menggila! Sempat Anjlok Lalu Melawan ke US$ 93,92, Bakal Kemana Lagi?

Harga perak diprediksi bakal mencari level keseimbangan baru yang lebih tinggi akibat keterbatasan pasokan.

Danantara Tumpuan Realisasi Investasi
| Senin, 19 Januari 2026 | 08:38 WIB

Danantara Tumpuan Realisasi Investasi

Ivestasi masih akan sangat ditentukan oleh faktor kepastian kebijakan dan eksekusi proyek di lapangan.

Pengangguran Jadi Risiko Utama Perekonomian RI
| Senin, 19 Januari 2026 | 08:30 WIB

Pengangguran Jadi Risiko Utama Perekonomian RI

Bonus demografi belum diimbangi penciptaan lapangan kerja berkualitas mengancam ekonomi             

Normalisasi Diskon Dimulai, Sektor Otomotif Masuk Fase Penyesuaian di 2026
| Senin, 19 Januari 2026 | 08:28 WIB

Normalisasi Diskon Dimulai, Sektor Otomotif Masuk Fase Penyesuaian di 2026

Diskon besar-besaran membuat penjualan mobil roda empat (4W) secara wholesale pada Desember 2025 melesat 27% secara bulanan.

IHSG Rekor, Rupiah Makin Loyo Dekati Rp 17.000, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Senin, 19 Januari 2026 | 08:19 WIB

IHSG Rekor, Rupiah Makin Loyo Dekati Rp 17.000, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Pada Kamis (15/1), kurs rupiah di Jisdor Bank Indonesia (BI) melemah semakin mendekati Rp 17.000, tepatnya ke Rp 16.880. 

Ekonomi RI Merana Saat Macan Asia Menyala
| Senin, 19 Januari 2026 | 08:01 WIB

Ekonomi RI Merana Saat Macan Asia Menyala

Malaysia, Singapura, dan Vietnam mencetak pertumbuhan ekonomi solid di 2025. Temukan pendorong utama yang membuat mereka jadi magnet investasi.

BWPT Masuki Fase Turnaround Neraca, Deleveraging Jadi Katalis Revaluasi
| Senin, 19 Januari 2026 | 07:54 WIB

BWPT Masuki Fase Turnaround Neraca, Deleveraging Jadi Katalis Revaluasi

Rencana ekspansi kapasitas pabrik secara bertahap hingga 2028 diproyeksikan bakal menopang pertumbuhan volume produksi dan laba secara organik.

Harga Saham SOLA Terjungkal Usai ARA, Waktunya Serok atau Kabur?
| Senin, 19 Januari 2026 | 07:38 WIB

Harga Saham SOLA Terjungkal Usai ARA, Waktunya Serok atau Kabur?

Hingga kuartal III-2025 SOLA berhasil mencetak pertumbuhan double digit pada sisi top line maupun bottom line.

INDEKS BERITA