Imbangi Tekanan Harga, TRAM Genjot Produksi Batubara

Kamis, 23 Mei 2019 | 06:40 WIB
Imbangi Tekanan Harga, TRAM Genjot Produksi Batubara
[]
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meski harga batubara bergerak dalam tren menurun, PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM) terus menggerek produksi di sepanjang 2019. Emiten ini memasang target pertumbuhan produksi nyaris dua kali lipat dibandingkan realisasi produksi tahun lalu.

Direktur Utama PT Trada Alam Minera Tbk, Soebianto Hidayat mengatakan, pihaknya berencana memproduksi hingga 5 juta ton batubara selama tahun ini. Jumlah itu naik hampir dua kali lipat dibandingkan produksi tahun lalu sebanyak 2,6 juta ton.

Sejatinya, target yang berlipat tersebut sejalan dengan rencana Trada Alam untuk meningkatkan kapasitas produksi sambil melihat potensi pasar batubara. Untuk mencapai target tersebut, TRAM setidaknya akan memproduksi 350.000 ton hingga 450.000 ton batubara per bulan.

Sementara hingga kuartal pertama tahun ini, produksi batubara Trada Alam sudah mencapai 1 juta ton. "Produksi kami (kuartal satu) sudah sekitar 1 juta ton. Volume penjualannya juga mirip dengan itu," ungkap dia, Rabu (22/5).

Menurut Soebianto, pencapaian pada awal tahun ini masih dalam rentang target yang dipatok manajemen. Sepanjang semester pertama tahun ini, TRAM menargetkan volume produksi dan penjualan batubara berkisar 2,4 juta ton hingga 2,6 juta ton.

Batubara yang diproduksi TRAM berasal dari anak usahanya, yakni PT Gunung Bara Utama (GBU). Dari GBU, Trada Alam memproduksi dan menjual batubara kalori tinggi di atas 5.000 kkal per GAR.

Soebianto bilang, produksi batubara TRAM menyasar sejumlah pasar seperti Jepang, Vietnam, Thailand dan Taiwan. Pada tahun ini, Trada Alam masih akan menyasar pasar yang sama, namun dengan volume penjualan yang meningkat sejalan dengan kenaikan produksi. "Tahun ini mungkin masih sama (pasar ekspor) lebih tingkatkan volumenya saja," kata dia.

Untuk pasar domestik, Trada Alam hanya berkontrak untuk memenuhi kewajiban domestic market obligation (DMO) sebesar 25%. "Pada tahun 2018, kami telah memenuhi target kewajiban DMO. Tahun ini pun DMO tetap akan kami penuhi," Soebianto berjanji.

Meski harga batubara masih mengalami tren penurunan, TRAM optimistis harga rata-rata akan bisa bertahan di kisaran US$ 60-US$ 80 per ton. Dengan harga tersebut, manajemen TRAM menargetkan setidaknya bisa mengantongi pendapatan US$ 300 juta hanya dari setoran GBU.

Segmen penjualan batubara masih memegang porsi dominan dalam pendapatan TRAM, yakni 68,46%. Kemudian jasa pertambangan sebesar 23,22%, dan jasa pelayaran angkutan laut dengan memberikan kontribusi 8,31%.

"Secara keseluruhan, persentase untuk tahun ini akan mirip. Porsi dari (penjualan) batubara akan meningkat seiring dengan kenaikan kapasitas produksi. Namun anak usaha lain pun akan meningkat karena mendapatkan pekerjaan juga," kata Soebianto.

Tahun ini, khusus untuk Gunung Bara, Trada Alam mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai US$ 10 juta hingga US$ 15 juta. Manajemen TRAM akan memenuhi sumber dana belanja modal dari kas internal.

Adapun penggunaan belanda modal terutama diprioritaskan untuk peningkatan kapasitas infrastruktur seperti pelabuhan, dari semula sebesar 4 juta ton menjadi 8 juta ton. "Sampai kuartal pertama tahun ini, belanja modal belum terserap karena konstruksi baru di akhir kuartal kedua," ungkap Soebianto.

Bagikan

Berita Terbaru

Ramadan Dongkrak Trafik Data, Saham ISAT Masih Layak Dicermati?
| Senin, 09 Februari 2026 | 11:00 WIB

Ramadan Dongkrak Trafik Data, Saham ISAT Masih Layak Dicermati?

Kinerja PT Indosat Tbk (ISAT) ada di jalur pemulihan yang semakin berkelanjutan. Sejak akhir 2025, ISAT mencatat lonjakan signifikan trafik data.

Ditopang Normalisasi AMMN & Tambahan PI Corridor, Kinerja MEDC Diproyeksikan Melesat
| Senin, 09 Februari 2026 | 08:37 WIB

Ditopang Normalisasi AMMN & Tambahan PI Corridor, Kinerja MEDC Diproyeksikan Melesat

Dalam jangka pendek, saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dipandang masih dalam fase downtrend.

Prospek ERAL Masih Menarik, Meski Tengah Menanti Kepastian Insentif Mobil Listrik
| Senin, 09 Februari 2026 | 08:25 WIB

Prospek ERAL Masih Menarik, Meski Tengah Menanti Kepastian Insentif Mobil Listrik

PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL) berencana menambah gerai baru sekaligus menghadirkan produk dan merek baru di berbagai segmen usaha.

Free Float Naik ke 15%, Emiten yang Tak Butuh Pendanaan Pasar Modal bisa Go Private?
| Senin, 09 Februari 2026 | 08:00 WIB

Free Float Naik ke 15%, Emiten yang Tak Butuh Pendanaan Pasar Modal bisa Go Private?

Di rancangan peraturan terbaru, besaran free float dibedakan berdasarkan nilai kapitalisasi saham calon emiten sebelum tanggal pencatatan.

Menakar Daya Tarik Obligasi ESG: Menimbang Return dan Feel Good
| Senin, 09 Februari 2026 | 07:31 WIB

Menakar Daya Tarik Obligasi ESG: Menimbang Return dan Feel Good

Obligasi bertema ESG dan keberlanjutan akan meramaikan penerbitan surat utang di 2026. Bagaimana menakar daya tariknya?

Dharma Polimetal (DRMA) Produksi Baterai Motor Listrik
| Senin, 09 Februari 2026 | 07:29 WIB

Dharma Polimetal (DRMA) Produksi Baterai Motor Listrik

Strategi tersebut ditempuh melalui penguatan kapabilitas manufaktur, diversifikasi produk bernilai tambah, serta integrasi ekosistem bisnis.

Pebisnis Minta Kepastian Izin Impor Daging Sapi
| Senin, 09 Februari 2026 | 07:23 WIB

Pebisnis Minta Kepastian Izin Impor Daging Sapi

Para pelaku usaha tengah menantikan kepastian izin impor yang belum terbit. Padahal, saat ini sudah melewati waktu proses.

Kebijakan Pemerintah Jadi Sorotan, Dampak Buruknya ke Pasar SBN
| Senin, 09 Februari 2026 | 06:50 WIB

Kebijakan Pemerintah Jadi Sorotan, Dampak Buruknya ke Pasar SBN

Investor asing mencatat jual neto Rp 2,77 triliun di SBN. Tekanan jual ini diprediksi berlanjut hingga Kuartal I 2026. Pahami risikonya.

Prospek Kredit Perbankan Akan Lebih Bergairah
| Senin, 09 Februari 2026 | 06:30 WIB

Prospek Kredit Perbankan Akan Lebih Bergairah

​Didorong penurunan suku bunga dan program pemerintah, OJK dan BI memproyeksikan kredit perbankan tumbuh hingga dua digit tahun ini,

Nasib Rupiah Awal Pekan: Tertekan Isu Domestik & Global
| Senin, 09 Februari 2026 | 06:15 WIB

Nasib Rupiah Awal Pekan: Tertekan Isu Domestik & Global

Rupiah melemah hingga 16.887 per dolar AS. Cari tahu alasan di balik tekanan Moodys dan data ketenagakerjaan AS yang memicu gejolak

INDEKS BERITA

Terpopuler