Ada Rojali dan Rohana di Balik Kemiskinan Perkotaan

Minggu, 03 Agustus 2025 | 03:00 WIB
Ada Rojali dan Rohana di Balik Kemiskinan Perkotaan
[ILUSTRASI. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, angka kemiskinan di perkotaan di Indonesia naik. Sekalipun, secara nasional, angka kemiskinan di negeri ini turun.]
Reporter: Lidya Yuniartha, Muhammad Alief Andri, Siti Masitoh, SS. Kurniawan | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - Angka kemiskinan di perkotaan naik, setelah dalam tren penurunan sejak Maret 2023. Persentasenya jadi 6,73%. Apa saja yang jadi faktor penyebabnya?

Tren menurun sejak Maret 2023 terhenti. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, angka kemiskinan di perkotaan di Indonesia naik. Sekalipun, secara nasional, angka kemiskinan di negeri ini turun.

Persentase penduduk miskin perkotaan pada Maret 2025 sebesar 6,73%, naik dibanding September 2024 di angka 6,66%. Bertambah 0,22 juta orang, dari 11,05 juta orang pada September 2024 menjadi 11,27 juta orang di Maret 2025. Jelas, bukan angka yang kecil.

Pulau Jawa, menjadi penyumbang terbesar jumlah penduduk miskin perkotaan. Maklum, Jawa merupakan pulau terpadat penduduknya di Indonesia. Total, atau 7,65 juta orang miskin di Jawa atau 6,95% dari populasi di pulau ini.

Deputi Bidang Statistik Sosial BPS Ateng Hartono membeberkan, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan penduduk miskin di perkotaan naik.

Pertama, jumlah masyarakat setengah menganggur di perkotaan pada Februari 2025 meningkat menjadi 0,46 juta jiwa dibanding Agustus 2024. Masyarakat setengah menganggur, artinya, bekerja kurang dari 35 jam dalam sebulan dan mereka masih mencari pekerjaan.

Normalnya, secara umum, jam kerja rata-rata adalah sekitar 160 jam hingga 176 jam per bulan. Dengan asumsi, 8 jam kerja per hari dan 20 hari–22 hari kerja dalam sebulan.

Kedua, sebagian besar harga komoditas pangan di perkotaan mengalami kenaikan. Sebut saja, minyak goreng, cabai rawit, dan bawang putih.

Baca Juga: Inflasi Juli 2025 Naik, Menyentuh Angka Tertinggi Dalam Setahun Terakhir

Nah, kenaikan harga komoditas pangan akan menghambat daya beli masyarakat di perkotaan, khususnya untuk rumahtangga kelompok bawah atau miskin dan rentan miskin.

"Kalau rentan miskin, ketika daya belinya turun, maka dia akan mudah untuk jatuh ke bawahnya," ungkap Ateng.

Ketiga, pengaruh dari tingkat pengangguran. Meski tingkat pengangguran terbuka tercatat turun, dari 4,91% pada Agustus 2024 menjadi 4,76% di Februari 2025, berdasarkan jenis kelaminnya, tingkat pengangguran terbuka untuk laki-laki di perkotaan meningkat, dari 5,87% pada Agustus 2024, dan jadi 6,06% di Februari 2025.

"Laki-laki, kan, sebagian besar ujung tombak dalam ekonomi, dalam bekerja. Jadi, kenaikan tingkat pengangguran pada laki-laki berpengaruh terhadap dari tingkat kemiskinan di perkotaan," jelas Ateng.

Menurut BPS, peranan komoditas makanan terhadap garis kemiskinan perkotaan jauh lebih besar dibanding komoditas bukan makanan. Info saja, garis kemiskinan per rumahtangga miskin adalah gambaran besarnya nilai rata-rata rupiah minimum yang harus rumahtangga keluarkan untuk memenuhi kebutuhan mereka biar tidak masuk kategori miskin.

Per Maret 2025, BPS mencatat, rata-rata pengeluaran orang miskin perkotaan untuk makanan sebesar Rp 463.801 per kapita per bulan. Sementara rata-rata pengeluaran mereka untuk bukan makanan Rp 165.760 per kapita per bulan.

Memukul pekerja

Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko menambahkan, penyebab utama kemiskinan perkotaan meningkat antara lain, pemutusan hubungan kerja (PHK) dan perlambatan sektor informal.

Sektor informal yang selama ini banyak menyerap tenaga kerja miskin, seperti pedagang kaki lima, ojek online, dan pekerja harian lepas, tengah mengalami tekanan akibat digitalisasi yang makin masif, regulasi, dan perlambatan konsumsi.

Baca Juga: Emas Tetap Semarak Kendati Mulai Kena Pajak

"Beberapa perusahaan startup dan manufaktur juga melakukan PHK karena mereka melakukan restrukturisasi, yang sudah memukul kelompok pekerja kota yang tidak punya tabungan atau jaringan pengaman sosial yang memadai dibandingkan dengan desa yang sudah ada dana desa, Undang-Undang Desa, dan sekarang ada Koperasi Desa Merah Putih,” katanya kepada KONTAN.

Penyebab lain, urbanisasi yang kerap dilakukan pekerja migran dari desa ke kota. Arus urbanisasi tidak dibarengi penyerapan kerja formal di kota yang sudah menambah jumlah keluarga miskin baru di wilayah perkotaan.

Pendatang baru sering bekerja di sektor rentan dengan upah rendah dan tanpa jaminan, sehingga mereka mudah jatuh ke dalam kemiskinan saat ada guncangan kecil.

Tentu, pemerintah tidak tinggal diam. Budiman menyebutkan, upaya pemerintah untuk menekan angka kemiskinan selama ini mencakup berbagai pendekatan yang bersifat komprehensif dan terintegrasi. Mulai bantuan langsung, pemberdayaan ekonomi, pembangunan infrastruktur dasar, hingga reformasi kebijakan sosial.

"Ke depan, program-program prioritas, seperti Makan Bergizi Gratis, pemeriksaan kesehatan gratis, sekolah rakyat, dan Koperasi Desa Merah Putih juga berpotensi menjadi game changer di dalam agenda pengentasan kemiskinan yang diharapkan bisa lebih progresif dan berkelanjutan," ujarnya.

Senada, Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan Prof. Anwar Sanusi bilang, PHK yang meningkat 36% per Juni 2025 menjadi 42.385 kasus, yang sebagian besar terjadi di daerah perkotaan, jadi salah satu sebab.

Karena itu, pemerintah berupaya untuk mempertahankan daya beli masyarakat dengan menyalurkan Bantuan Subsidi Upah (BSU). Upaya lain, mengoptimalkan sektor-sektor yang masih tumbuh, seperti pertanian, perkebunan, angkutan.

"Sementara untuk PHK, kami terus mengupayakan optimalisasi dialog sosial guna mencari solusi atas potensi maupun ancaman PHK," sebut dia.

Baca Juga: Surplus Neraca Dagang Terjadi 62 Bulan, Begini Kondisi Terbaru Ekspor-Impor Indonesia

Bisa bertambah

Masalahnya, Said Iqbal, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) yang juga Presiden Partai Buruh melihat, ada gejala angka kemiskinan makin meningkat dan PHK masih bergelombang.

Litbang Koalisi Serikat Pekerja dan Partai Buruh (KSP-PB) mencatat, sekitar 70.000 buruh kena PHK dalam kurun waktu Januari–April 2025. Ini berarti, dengan jumlah PHK yang meningkat, akan meningkat pula angka kemiskinan.

Bahkan, beberapa perusahaan tekstil garmen di Jawa kembali akan melakukan PHK besar-besaran termasuk akibat dampak tarif Trump. Tambah lagi, ratusan pegawai toko di mal-mal besar sudah di-PHK karena daya beli masyarakat yang menurun, yang dikenal dengan istilah Rojali (rombongan jarang beli) dan Rohana (rombongan hanya nanya).

"Sementara itu, data yang dilansir Apindo menyebutkan bahwa 50% responden perusahaan yang diteliti mereka sudah dan sedang melakukan PHK," tambah Said Iqbal.

Esther Sri Astuti, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), tidak heran melihat angka kemiskinan perkotaan meningkat. Soalnya, "Banyak perusahaan yang bangkrut, banyak PHK. Jadi, tidak mengherankan angka kemiskinan perkotaan naik," katanya.

Celakanya, pemerintah selalu mengatasi kemiskinan hanya berdasarkan solusi-solusi jangka pendek. Contoh, memberi bantuan sosial (bansos), baik dalam bentuk uang maupun barang, ke orang-orang miskin. Jelas, ini bukan solusi.

Menurutnya, pertama, orang miskin bisa kaya kalau memiliki pendidikan yang lebih baik, sehingga mereka punya kesempatan untuk mendapatkan pendapatan yang lebih baik.

Kedua, pemberdayaan masyarakat. Contoh, memberikan pelatihan kewirausahaan kepada orang-orang pendidikan rendah. Tentu, pelatihan saja tidak cukup. Pemerintah harus memberi akses permodalan. Dengan begitu, mereka bisa berusaha sendiri, bahkan menciptakan lapangan pekerjaan.

Cuma sejatinya, Esther bilang, angka kemiskinan perkotaan jauh lebih tinggi. Sebab, negara kita tidak menggunakan standar internasional, seperti Bank Dunia, dalam menetapkan garis kemiskinan.

Alhasil, pada Maret 2025, BPS menetapkan rata-rata garis kemiskinan nasional hanya sebesar Rp 609.160 per kapita per bulan. Sedang Bank Dunia menetapkan, garis kemiskinan negara berpendapatan menengah atas seperti Indonesia Rp 1,2 juta per kapita per bulan.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Sentimen Profit Taking dan Bi Rate, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Rabu (19/8)
| Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:53 WIB

Sentimen Profit Taking dan Bi Rate, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Rabu (19/8)

Investor hari ini akan mencermati rilis suku bunga acuan alias BI rate. Secara teknikal ada kemungkinan investor akan melakukan profit taking. 

Penjualan Meningkat, Kerugian Bersih FAST Mulai Menyusut
| Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:49 WIB

Penjualan Meningkat, Kerugian Bersih FAST Mulai Menyusut

FAST membukukan pendapatan sebesar Rp 2,79 triliun, naik 16,1% dibandingkan Rp 2,40 triliun pada semester I-2025. 

Tekanan MSCI Mereda, Saham Bahan Baku Berpeluang Melaju
| Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:43 WIB

Tekanan MSCI Mereda, Saham Bahan Baku Berpeluang Melaju

Kenaikan harga emas, prospek hilirisasi dan pemulihan minat investor terhadap saham komoditas menjadi sejumlah katalis sektor ini

Saham IMAS Mulai Menggeliat, Ekspansi Mobil China Termasuk Hongqi Picu Turnaround?
| Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:29 WIB

Saham IMAS Mulai Menggeliat, Ekspansi Mobil China Termasuk Hongqi Picu Turnaround?

Data penjualan pada kuartal III-2026 salah satu indikator awal untuk melihat apakah ekspansi bisnis baru IMAS mulai memberikan dampak nyata.

Sinyal Turnaround di Saham HRUM, Kinerja di Semester II-2026 Bakal Jadi Penentu
| Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:11 WIB

Sinyal Turnaround di Saham HRUM, Kinerja di Semester II-2026 Bakal Jadi Penentu

Konfirmasi turnaround HRUM baru akan terlihat apabila sejumlah indikator operasional mulai menunjukkan perbaikan secara bersamaan.

JARR, TEBE, PGUN hingga PACK Rally, Efek Spillover Rumor Akuisisi BYAN Oleh Haji Isam
| Rabu, 19 Agustus 2026 | 07:53 WIB

JARR, TEBE, PGUN hingga PACK Rally, Efek Spillover Rumor Akuisisi BYAN Oleh Haji Isam

Setiap emiten memiliki prospek, struktur bisnis, fundamental, serta tingkat sensitivitas yang berbeda-beda terhadap akuisisi BYAN.

Setoran Dividen Naik, Prospek Saham BUMN Jadi Lebih Menarik
| Rabu, 19 Agustus 2026 | 07:52 WIB

Setoran Dividen Naik, Prospek Saham BUMN Jadi Lebih Menarik

Target setoran dividen BUMN sebesar Rp 200 triliun pada tahun ini jadi katalis positif bagi pergerakan saham BUMN

Laba AVIA Tumbuh 20,59% Pada Semester I-2026
| Rabu, 19 Agustus 2026 | 07:45 WIB

Laba AVIA Tumbuh 20,59% Pada Semester I-2026

Manajemen PT Avia Avian Tbk (AVIA) mengklaim, pencapaian ini hasil dari kekuatan merek, jaringan distribusi luas, dan inovasi produk.

Rumor Bakal Diakuisisi Haji Isam Bikin Saham BYAN Terbang
| Rabu, 19 Agustus 2026 | 07:39 WIB

Rumor Bakal Diakuisisi Haji Isam Bikin Saham BYAN Terbang

Pengusaha nasional asal Kalimantan tersebut dikabarkan siap mengambilalih 62% kepemilikan saham BYAN. ​

Bisnis Rumah Sakit Masih Kuat, Laba HEAL Bisa Kembali Sehat
| Rabu, 19 Agustus 2026 | 07:34 WIB

Bisnis Rumah Sakit Masih Kuat, Laba HEAL Bisa Kembali Sehat

Tingginya eksposur terhadap pasien BPJS Kesehatan, jadi salah satu tantangan utama kinerja PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL).

INDEKS BERITA

Terpopuler