ADB: Pandemi Hambat Upaya Asia Pasifik untuk Mencapai Tujuan Pembangunan Global

Selasa, 24 Agustus 2021 | 11:36 WIB
ADB: Pandemi Hambat Upaya Asia Pasifik untuk Mencapai Tujuan Pembangunan Global
[ILUSTRASI. Seorang warga mengemis di kawasan Pejompongan, Jakarta, Rabu (3/2/2021). .KONTAN/Fransiskus Simbolon]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - MANILA. Pandemi virus corona mungkin telah mendorong sebanyak 80 juta orang di negara berkembang di Asia ke dalam kemiskinan ekstrem tahun lalu. Situasi darurat kesehatan juga mengancam menggagalkan kemajuan usaha dunia untuk mengatasi masalah kemiskinan dan kelaparan pada tahun 2030, demikian pernyataan Bank Pembangunan Asia (ADB), Selasa (24/8).

Tanpa pandemi, tingkat kemiskinan ekstrem, atau proporsi penduduk dengan tingkat pengeluaran kurang dari US$ 1,90 (atau Rp 27.335) per hari, akan turun menjadi 2,6% pada tahun 2020 dari 5,2% di tahun 2017. Namun, krisis akibat pandemi kemungkinan mendorong tingkat yang diproyeksikan tahun lalu lebih tinggi sekitar 2 basis poin, demikian hasil dari simulasi ADB.

Angka itu bahkan bisa lebih tinggi lagi mengingat ketidaksetaraan di bidang-bidang seperti kesehatan, pendidikan, dan gangguan kerja yang semakin dalam. Situasi itu akibat krisis Covid-19 yang mengganggu mobilitas dan menghentikan kegiatan ekonomi, demikian pernyataan ADB dalam laporan utamanya tentang negara berkembang di Asia.

 Baca Juga: Jabodetabek turun ke PPKM Level 3, ini aturan sekolah, kantor, mall, perjalanan dll

"Ketika dampak sosial ekonomi dari tanggapan terhadap virus terus berlanjut, orang-orang yang sudah berjuang untuk memenuhi kebutuhan berisiko terjerumus ke dalam kehidupan kemiskinan," kata pemberi pinjaman yang berbasis di Manila itu.

Di antara 46 negara berkembang dan tiga negara maju yang menjadi anggota ADB, hanya satu dari empat negara yang mencatat pertumbuhan ekonomi di tahun lalu, kata ADB.

Seiring dengan peningkatan tingkat pengangguran, wilayah tersebut juga kehilangan sekitar 8% jam kerja. Ini mempengaruhi rumah tangga miskin dan pekerja di sektor informal.

Baca Juga: ASEAN incar kerja sama dengan sejumlah negara mitra  

Kerusakan ekonomi yang disebabkan pandemi, mempersulit tantangan yang harus ditaklukan dunia untuk memenuhi tujuan pembangunan global yang diadopsi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2015.

Anggota PBB dengan suara bulat meloloskan 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, yang dikenal sebagai SDG, pada tahun 2015. Inilah cetak biru tugas-tugas ambisius yang harus dilaksanakan dunia untuk mengakhiri berbagai masalah, mulai kelaparan dan ketidaksetaraan gender hingga memperluas akses ke pendidikan dan perawatan kesehatan.

Tenggat waktu pencapaian tujuan-tujuan tersebut ditetapkan pada 2030.

"Asia dan Pasifik telah membuat langkah yang mengesankan, tetapi Covid-19 telah menimbulkan garis patahan sosial dan ekonomi yang dapat melemahkan pembangunan berkelanjutan dan inklusif di kawasan ini," kata Kepala Ekonom ADB Yasuyuki Sawada dalam pernyataan terpisah.

Selanjutnya: SEC Berlakukan Aturan Keterbukaan yang Lebih Rinci untuk Emiten Asal China

 

Bagikan

Berita Terbaru

Lewat Olahraga, Bos Valbury Asia Futures Ini, Bangun Kedekatan dan Soliditas Tim
| Sabtu, 18 April 2026 | 10:20 WIB

Lewat Olahraga, Bos Valbury Asia Futures Ini, Bangun Kedekatan dan Soliditas Tim

Ini membuka ruang komunikasi yang lebih jujur dan nyaman, sehingga masukan atau ide dari rekan-rekan bisa tersampaikan dengan lebih cepat.

Polemik Haji Klik Cepat
| Sabtu, 18 April 2026 | 07:15 WIB

Polemik Haji Klik Cepat

Polemik war ticket haji menegaskan satu hal: persoalan antrean memang mendesak, tetapi solusi tidak boleh lahir dari ketergesaan.

Mengkreasi Instrumen Moneter Valuta Asing
| Sabtu, 18 April 2026 | 07:05 WIB

Mengkreasi Instrumen Moneter Valuta Asing

Status finansial SBI (Sertifikat Bank Indonesia) dalam valas lebih kokoh dari sekuritas dan sukuk valas BI.​

Dampak Geopolitik, Industri Barang Mewah Melambat, Pertumbuhan Cuma 2%-4%
| Sabtu, 18 April 2026 | 07:00 WIB

Dampak Geopolitik, Industri Barang Mewah Melambat, Pertumbuhan Cuma 2%-4%

Ketidakpastian global pukul industri barang mewah. Proyeksi pertumbuhan hanya 2-4% di 2026. Bagaimana nasib koleksi Anda ke depan?

Rupiah Loyo, Bank Perketat Risiko Kredit
| Sabtu, 18 April 2026 | 06:00 WIB

Rupiah Loyo, Bank Perketat Risiko Kredit

Pelemahan rupiah belum berdampak signifikan ke NPL bank, namun debitur berpendapatan rupiah dengan utang valas patut waspada. Simak risikonya!

Nilai Tukar Rupiah Terjun Lagi, Ini Pemicu Pelemahan Sepekan Terakhir
| Sabtu, 18 April 2026 | 06:00 WIB

Nilai Tukar Rupiah Terjun Lagi, Ini Pemicu Pelemahan Sepekan Terakhir

Rupiah kembali melemah 0,29% ke Rp 17.189 per dolar AS. Perang Timur Tengah dan risiko fiskal domestik jadi biang keroknya.

Dharma Polimetal (DRMA) Bidik Pertumbuhan Pendapatan 10% Tahun Ini
| Sabtu, 18 April 2026 | 05:47 WIB

Dharma Polimetal (DRMA) Bidik Pertumbuhan Pendapatan 10% Tahun Ini

DRMA akan mencari jalan untuk mencapai target ini meski konflik Timur Tengah akan memengaruhi permintaan produk otomotif.

Bisnis Ponsel Metrodata Electronics (MTDL) Masih Berdering
| Sabtu, 18 April 2026 | 05:37 WIB

Bisnis Ponsel Metrodata Electronics (MTDL) Masih Berdering

Ada tren penjualan ponsel mereka dengan merek Infinix laris manis dengan pertumbuhan penjualan dobel digit.

Peluang OCBC Akuisisi Bisnis Ritel HSBC Indonesia
| Sabtu, 18 April 2026 | 05:30 WIB

Peluang OCBC Akuisisi Bisnis Ritel HSBC Indonesia

OCBC berpeluang besar mengakuisisi bisnis ritel HSBC Indonesia senilai Rp 6 triliun. Simak strategi besar di balik langkah ini.

Gadai Kendaraan Terus Tumbuh
| Sabtu, 18 April 2026 | 05:00 WIB

Gadai Kendaraan Terus Tumbuh

Bisnis gadai kendaraan tumbuh hingga 80% di awal 2026. Temukan bagaimana ini bisa jadi solusi dana cepat bagi UMKM dan individu.

INDEKS BERITA

Terpopuler