Air Murka

Selasa, 02 Desember 2025 | 06:10 WIB
Air Murka
[ILUSTRASI. TAJUK - Barratut Taqiyyah (Ita)]
Barratut Taqiyyah Rafie | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Banjir besar yang melanda sebagian Asia dalam beberapa hari terakhir telah berubah menjadi tragedi regional. Lebih dari ribuan orang dilaporkan meninggal, sementara ribuan lainnya masih hilang. Di Indonesia, Sri Lanka, Malaysia, dan Thailand, air bah dan longsor memaksa penduduk mengungsi dalam keadaan kacau.

Indonesia mencatat jumlah korban tertinggi sejauh ini. Dengan 502 korban tewas dan lebih dari 500 orang masih hilang. Di Sri Lanka kematian meningkat drastis, sementara hujan deras membuat kota-kota besar lumpuh dan memaksa ribuan warga mengungsi. Thailand melaporkan 176 korban meninggal.

Upaya pencarian korban masih berlangsung di berbagai negara, dengan militer diturunkan untuk membantu proses evakuasi. Namun kecepatan air dan luas area terdampak membuat operasi ini menjadi perlombaan dengan waktu. Di banyak lokasi, akses jalan terputus dan jaringan komunikasi padam.

Di tengah bencana, sebuah fakta baru muncul: ribuan kayu gelondongan terbawa arus banjir di Sumatera. Tumpukan kayu yang hanyut ini kini menjadi simbol bahwa tragedi ini bukan hanya soal banjir, tetapi soal ekologi dan tata kelola lingkungan. Analisis awal oleh Kemenhut menunjukkan bahwa kayu-kayu tersebut kemungkinan besar berasal dari areal hak atas tanah di luar kawasan hutan resmi, yang membuka dugaan bahwa praktik penebangan atau kelola hutan ilegal memperburuk dampak bencana. 

Data ini menegaskan bahwa bencana tidak bisa dipisahkan dari perusakan lingkungan. Deforestasi, degradasi lahan, dan alih fungsi kawasan secara sembarangan telah mengikis kemampuan alam untuk menahan air. Sehingga ketika hujan ekstrem datang, tak ada ruang bagi air untuk meresap, melainkan langsung menerjang permukiman. 

Yang memperparah keadaan, rusaknya komunikasi di daerah terdampak. Hingga kini masih banyak keluarga yang belum bisa menghubungi kerabat mereka, di mana jaringan listrik padam, BTS ambruk, akses internet bergantung generator darurat. Ini menunjukkan betapa sistem kesiapsiagaan bencana kita masih buruk.

Kini, pemerintah dan seluruh warga memiliki pilihan: menunggu banjir berikutnya, atau mengubah paradigma dari reaktif menjadi preventif. Penataan ulang kawasan rawan, audit ketat terhadap praktek penebangan, investasi sistem peringatan dini, dan penguatan komunikasi darurat berbasis satelit bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. 

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Ratusan Emiten Terjepit Kala Tenggat Free Float Kian Dekat: Delisting atau Bertahan?
| Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:39 WIB

Ratusan Emiten Terjepit Kala Tenggat Free Float Kian Dekat: Delisting atau Bertahan?

Gempuran sentimen negatif yang sedang melanda pasar saham Indonesia membuat pemenuhan ketentuan free float kian sulit.

Mau Masuk ke RI, CEO Kinza Bandar Okrin: Kami Mengidentifikasi Mitra Lokal yang Tepat
| Kamis, 22 Oktober 2026 | 17:36 WIB

Mau Masuk ke RI, CEO Kinza Bandar Okrin: Kami Mengidentifikasi Mitra Lokal yang Tepat

Indonesia dipandang sebagai pasar strategis bagi Kinza dan bagian penting dari ekspansi mereka di Asia Tenggara. 

IHSG Technical Rebound, Tapi Risiko Ini Masih Membayangi
| Kamis, 22 Oktober 2026 | 09:02 WIB

IHSG Technical Rebound, Tapi Risiko Ini Masih Membayangi

IHSG masih menghadapi risiko ketidakpastian MSCI dan arus dana asing yang dapat memengaruhi keberlanjutan penguatan.

Ilusi Stabilitas BI-Rate 5,75% di Tengah Ancaman Bunga KPR dan Tekanan Daya Beli
| Kamis, 22 Oktober 2026 | 09:00 WIB

Ilusi Stabilitas BI-Rate 5,75% di Tengah Ancaman Bunga KPR dan Tekanan Daya Beli

Gejolak pasar keuangan, depresiasi rupiah, serta ketidakpastian suku bunga global mempersempit ruang gerak arus modal bagi emiten.

Alokasi Pasokan & Harga Gas Kembali Menjadi Sorotan Pelaku Industri
| Kamis, 22 Oktober 2026 | 08:41 WIB

Alokasi Pasokan & Harga Gas Kembali Menjadi Sorotan Pelaku Industri

Pasokan gas yang andal dan kompetitif untuk memenuhi kebutuhan industri perlu penguatan infrastuktur dari hulu ke hilir​

Harga Ayam Pulih, Emiten Unggas Dapat Angin Segar Hingga Akhir Tahun
| Kamis, 22 Oktober 2026 | 08:40 WIB

Harga Ayam Pulih, Emiten Unggas Dapat Angin Segar Hingga Akhir Tahun

Pemulihan harga jual bisa memberikan ruang bagi perbaikan margin, terutama jika perusahaan mampu menjaga biaya produksi tetap terkendali.

Antara Kebijakan Pemerintah dan MSCI, Berikut Rekomendasi Saham Hari Ini
| Kamis, 22 Oktober 2026 | 08:26 WIB

Antara Kebijakan Pemerintah dan MSCI, Berikut Rekomendasi Saham Hari Ini

Namun, indeks masih menghadapi risiko ketidakpastian MSCI dan arus dana asing yang dapat memengaruhi keberlanjutan penguatan.

Intip Peluang Cuan dari Imbal Hasil Dividen Saat Pasar Tertekan
| Kamis, 22 Oktober 2026 | 08:21 WIB

Intip Peluang Cuan dari Imbal Hasil Dividen Saat Pasar Tertekan

Sejumlah emiten berpotensi menawarkan dividend yield dua digit, seiring penurunan harga saham belakangan ini.

Prospek Jangka Panjang PGEO Kian Menarik Di tengah Masifnya Proyek Pembangkit
| Kamis, 22 Oktober 2026 | 08:14 WIB

Prospek Jangka Panjang PGEO Kian Menarik Di tengah Masifnya Proyek Pembangkit

Investor perlu melihat realisasi proyek-proyek yang saat ini berjalan, jika tidak ada hambatan dan sesuai dengan timeline.

Dilema Akuisisi MEDC di Kutai: Cadangan Gas Melesat, Risiko Keuangan Meningkat?
| Kamis, 22 Oktober 2026 | 08:11 WIB

Dilema Akuisisi MEDC di Kutai: Cadangan Gas Melesat, Risiko Keuangan Meningkat?

Produksi dari aset Kutai diperkirakan meningkat secara bertahap dan berpotensi melampaui 40.000 barel setara minyak per hari mulai 2033.

INDEKS BERITA

Terpopuler