Akibat Pandemi, Pemilik Jaringan Bioskop Terbesar Kedua di Dunia Gulung Layar

Selasa, 06 Oktober 2020 | 10:24 WIB
Akibat Pandemi, Pemilik Jaringan Bioskop Terbesar Kedua di Dunia Gulung Layar
[ILUSTRASI. Petugas menyemprot kursi bioskop dengan disenfektan, di Rio de Janeiro, Brasil, Kamis (1/10/2020). REUTERS/Pilar Olivares]
Reporter: Nathasya Elvira | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - BENGALURU (Reuters). Pemilik jaringan bioskop terbesar kedua di dunia, Cineworld, akan menutup bioskop miliknya di Inggris dan Amerika Serikat (AS) minggu ini. Penutupan yang merupakan buntut dari pandemi Covid 19 ini, mengakibatkan 45.000 orang pekerja menganggur.

Perusahaan tersebut mengatakan, keengganan studio untuk memproduksi episode terbaru dari sekuel laris, seperti film James Bond, menyisakan satu pilihan, yaitu menggulung layar. Cineworld akan menutup semua 536 bioskop yang mengusung bendera Regal di AS, serta 127 bioskop berlabel Cineworld dan Picturehouse di Inggris mulai 8 Oktober.

Baca Juga: Panduan baru CDC: Virus corona bisa bertahan dan menyebar di udara

Chief Executive Cineworld, Mooky Greidinger, mengatakan, kepada Sky News, operasi mungkin akan dilanjutkan paling cepat dua bulan. Film genre superhero, "Wonder Woman 1984," dijadwalkan untuk rilis pada Hari Natal.

"Dari sudut pandang likuiditas, kami mengalami pendarahan yang jauh lebih besar saat kami buka dibandingkan saat kami tutup," kata Greidinger.

Cineworld mengonfirmasi kebocoran selama akhir pekan, mereka menjelaskan skala kehilangan pekerjaan dari kepindahannya yang memengaruhi ribuan staf tambahan termasuk petugas kebersihan dan keamanan serta karyawannya sendiri, Senin (05/10).

Baca Juga: Panduan lengkap WHO tentang acara kumpul-kumpul di tengah pandemi Covid-19

Saham turun sebanyak 60% ke level terendah sepanjang masa dalam sepuluh menit sejak bel pembukaan pada Senin karena grup yang membawa hutang besar sebagian karena akuisisi Regal pada tahun 2018. Mereka mengatakan sedang mencari cara untuk mengumpulkan dana tambahan.

Pernyataan Cineworld mengikuti evaluasi suram oleh agensi pemeringkat S&P atas pesaingnya: AMC Entertainment, akhir pekan lalu. S&P menyebut pemilik rantai bioskop Odeon yang berbasis di AS tersebut, bisa kehabisan likuiditas dalam enam bulan, apabila gagal mendapatkan injeksi modal tambahan.

Industri hiburan merupakan salah satu sektor usaha yang terpukul karena pembatasan jarak sosial dan pembatasan lain di masa pandemi. Minggu lalu, Walt Disney mengumumkan rencana untuk memberhentikan sekitar 28.000 karyawan, sebagian besar dari taman hiburan AS.

Cineworld mulai dibuka kembali pada Juli setelah pembatasan sosial terkait virus corona mulai mereda. Tetapi penundaan peredaran episode terbaru film James Bond "No Time To Die" dan judul ngetop lain, seperti "Black Widow" dari Marvel telah menyuramkan prospek bisnisnya di bulan-bulan mendatang.

“Tanpa rilis baru ini, Cineworld tidak dapat menyediakan pelanggan di AS dan Inggris, luasnya film komersial yang kuat perlu mereka pertimbangkan untuk kembali ke bioskop,” katanya.

Baca Juga: New York governor closes schools in coronavirus hot spots

Sementara beberapa bioskop di China, pasar film terbesar kedua di dunia, telah dibuka kembali dengan jumlah penonton yang kuat. Namun, mereka kekurangan pasokan judul film.

Studio telah memilih untuk merilis beberapa blockbuster terencana utama tahun ini di Netflix atau platform streaming Disney Plus, dan telah membatalkan yang lain hingga 2021.

“Masalah kami saat ini adalah kami tidak memiliki film, dan ini merupakan pukulan besar bagi kami,” kata Bos dari jaringan saingan bioskop Vue Tim Richards mengatakan kepada Radio BBC.

“Kami kemungkinan akan berhasil. Saya prihatin dengan para independen dan operator regional kecil sekarang yang akan benar-benar kesulitan, dan ketika mereka tutup, mereka mungkin tidak dapat dibuka kembali,” tambahnya.

Baca Juga: Waspada! WHO: 1 dari 10 orang mungkin terinfeksi virus corona

Inggris telah memasuki babak baru lockdown dan memperketat pembatasan sosial dalam sebulan terakhir.

"Meskipun penundaan blockbuster 007 terbaru mendorong keputusan tersebut, Bond bukanlah penjahat dalam bagian ini," kata Analis Hargreaves Lansdown, Susannah Streeter.

“Penyebaran Covid-19 di seluruh dunia telah menjadi film horor bagi industri,  dan gelombang baru infeksi adalah angsuran terbaru dalam menjadi kisah yang menghancurkan bagi jaringan bioskop,” tutup Susan.

 

Bagikan

Berita Terbaru

Siap-Siap, CMRY Akan Membagikan Dividen Tunai Rp 793 Miliar
| Sabtu, 11 April 2026 | 08:46 WIB

Siap-Siap, CMRY Akan Membagikan Dividen Tunai Rp 793 Miliar

Nantinya, setiap pemegang saham emiten produsen susu olahan akan memperoleh dividen final tunai sebesar Rp 100 per saham.

Masyarakat Mulai Berhitung Cermat
| Sabtu, 11 April 2026 | 08:01 WIB

Masyarakat Mulai Berhitung Cermat

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Maret 2026 tercatat sebesar 122,9, turun 2,3 poin                    

Rupiah Anjlok dan Harga Energi Naik, INTP Ambil Langkah Naikkan Harga Semen
| Sabtu, 11 April 2026 | 08:00 WIB

Rupiah Anjlok dan Harga Energi Naik, INTP Ambil Langkah Naikkan Harga Semen

Kinerja Indocement 2026 diproyeksi tertekan oleh biaya energi dan rupiah yang melemah drastis. Akankah INTP mampu bertahan dari badai ekonomi?

Tokocrypto Gandeng BRI & Mandiri: Akses Kripto Kini Makin Mudah
| Sabtu, 11 April 2026 | 08:00 WIB

Tokocrypto Gandeng BRI & Mandiri: Akses Kripto Kini Makin Mudah

Tokocrypto kini tawarkan deposit via BRI & Mandiri. Ini langkah menarik investor di tengah pasar kripto yang les

Restitusi Disikat, Pebisnis Tercekat
| Sabtu, 11 April 2026 | 07:52 WIB

Restitusi Disikat, Pebisnis Tercekat

Kementerian Keuangan menggandeng BPKP dalam melakukan audit menyeluruh terhadap restitusi pajak     

Emas Bangkit Lagi! Analis Ungkap Alasan di Balik Kenaikan Harga
| Sabtu, 11 April 2026 | 07:15 WIB

Emas Bangkit Lagi! Analis Ungkap Alasan di Balik Kenaikan Harga

Harga emas spot menguat 2,25% dalam sepekan. Koreksi harga justru jadi peluang investor. Ketahui pemicu kenaikannya sekarang

Gejala Resentralisasi dalam Senyap
| Sabtu, 11 April 2026 | 07:05 WIB

Gejala Resentralisasi dalam Senyap

Atas nama otonomi, ada gejala resentralisasi yang bekerja secara perlahan yang dilakukan pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah.​

Nasib Rupiah Sepekan ke Depan: Inflasi AS dan Harga BBM Jadi Kunci
| Sabtu, 11 April 2026 | 07:00 WIB

Nasib Rupiah Sepekan ke Depan: Inflasi AS dan Harga BBM Jadi Kunci

Rupiah terancam melemah lebih dalam. Konflik Timur Tengah dan data inflasi AS jadi penentu nasib mata uang Garuda.

Bibit Ancaman Sosial dan Ekonomi
| Sabtu, 11 April 2026 | 07:00 WIB

Bibit Ancaman Sosial dan Ekonomi

Lonjakan harga energi, pelemahan rupiah dan ancaman kemarau ekstrem patut diantisipasi lantaran rawan secara sosial maupun ekonomi.​

Kredit Infrastruktur Perbankan Masih Mengucur Deras
| Sabtu, 11 April 2026 | 05:30 WIB

Kredit Infrastruktur Perbankan Masih Mengucur Deras

Penyaluran kredit infrastruktur Bank Mandiri selama dua bulan pertama 2026 mencetak kenaikan 30,8% secara tahunan menjadi Rp 491,63 triliun.

INDEKS BERITA

Terpopuler