Alasan IHSG Tetap Seksi Meski Valuasi Makin Tinggi

Kamis, 24 Maret 2022 | 06:00 WIB
Alasan IHSG Tetap Seksi Meski Valuasi Makin Tinggi
[]
Reporter: Ika Puspitasari | Editor: Sanny Cicilia

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tipis 0,07% ke level 6.996,11 pada perdagangan Rabu (23/4). Sejak akhir tahun hingga kemarin, IHSG sudah menguat 6,30% dan menjadi salah satu indeks dengan kinerja terbaik di Asia.

Dengan kenaikan tersebut, Certified Elliott Wave Analyst Master Kanaka Hita Solvera Daniel Agustinus menilai valuasi IHSG sekarang ini masih cukup menarik.

Price to earning (PE) IHSG saat ini ada di kisaran 21,6 kali. Memang, lebih tinggi ketimbang PE indeks saham di kawasan. Misalnya, PE The Straits Times Index (STI) berada di 14,9 kali, selanjutnya indeks Malaysia diperdagangkan dengan PE 15,9 kali, HIS di 8,5 kali, dan Nikkei 16 kali.

Tapi, Daniel melihat, PE IHSG lebih rendah dari rata-rata PE dalam lima tahun sebanyak 24,7 kali. "Jika melihat rata-rata PE, IHSG masih diperdagangkan dibawah rata-rata PE 5 tahunannya, sehingga masih menarik secara valuasi," kata dia, Rabu (23/3).

Daniel memproyeksikan IHSG masih dapat bergerak menguat ke level 7.300 dalam jangka menengah.

Sentimen positif yang akan mendorong laju IHSG di antaranya berasal dari penanganan Covid-19 dan inflasi yang terkendali.  Selain itu, neraca perdagangan yang surplus, daya beli dan mobilitas masyarakat yang sudah mulai pulih, tingkat suku bunga Bank Indonesia yang masih dipertahankan di level 3,5% juga mampu menopang penguatan IHSG.

"Melihat inflow asing serta fundamental Indonesia yang masih solid, IHSG masih berpotensi kembali melanjutkan penguatannya," ujar dia.

Kepala Riset FAC Sekuritas Indonesia Wisnu Prambudi Wibowo juga memperkirakan, IHSG dapat melanjutkan kenaikan  seiring capital inflow yang terus terjadi, tren penurunan Covid-19 dan membaiknya ekonomi nasional.

Koreksi yang terjadi kemarin, terbilang wajar, karena merupakan aksi ambil untung. Dalam kondisi ini, Wisnu menyarankan, ambil untung saat harga sudah naik terlalu tinggi. Sedang saham yang turun saat kinerja membaik, dapat buy on weakness.

Beberapa saham pilihan Wisnu: MTEL dengan target harga Rp 1.000 untuk jangka panjang. Juga ISAT dengan target harga jangka panjang di level Rp 6.600. Seiring perbaikan kinerja, BRPT juga berpotensi naik dengan target harga Rp 1.050.

Daniel menjagokan saham ASSA dan TRJA sebagai saham yang akan diuntungkan dari penurunan PPKM. Dia merekomendasikan buy on weakness ASSA dengan target harga jangka pendek di Rp 2.820 dan TRJA dengan target harga Rp 700.

 

Bagikan

Berita Terbaru

Awas Lonjakan Harga Barang! Puncak Transmisi Rupiah Lesu Diprediksi di Kuartal I-2027
| Rabu, 04 November 2026 | 10:00 WIB

Awas Lonjakan Harga Barang! Puncak Transmisi Rupiah Lesu Diprediksi di Kuartal I-2027

Proyeksi kenaikan harga barang akibat depresiasi rupiah diprediksi berlangsung tepat ketika Ramadan dan Idulfitri.

Prospek Kinerja & Saham ADMR Makin Menarik, Smelter Aluminium Dorong Pertumbuhan Laba
| Rabu, 04 November 2026 | 08:43 WIB

Prospek Kinerja & Saham ADMR Makin Menarik, Smelter Aluminium Dorong Pertumbuhan Laba

Pendapatan ADMR sepanjang 2026 diprediksi mencapai US$ 2,04 miliar dan laba bersih sebesar US$ 859 juta.

Setelah IHSG Terendah Dalam 6 Tahun & Isu Penyadapan, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini
| Rabu, 04 November 2026 | 08:25 WIB

Setelah IHSG Terendah Dalam 6 Tahun & Isu Penyadapan, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini

Sentimen dari penyedia indeks global MSCI yang akan melakukan peninjauan indeks menjadi salah satu sumber kekhawatiran.

Menakar Daya Tahan Emiten Consumer Staples di Tengah Badai Kenaikan Biaya Produksi
| Rabu, 04 November 2026 | 08:06 WIB

Menakar Daya Tahan Emiten Consumer Staples di Tengah Badai Kenaikan Biaya Produksi

Kenaikan harga jual yang terlalu agresif berisiko menggerus daya beli konsumen dan mendorong peralihan ke produk substitusi.

CLEO Mengincar Pertumbuhan Dua Digit
| Rabu, 04 November 2026 | 07:55 WIB

CLEO Mengincar Pertumbuhan Dua Digit

Segmen botol merupakan penopang utama penjualan dengan kontribusi mencapai 56,9% dari total penjualan PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO).

Data Center Mengisi Lahan Industri Jakarta
| Rabu, 04 November 2026 | 07:50 WIB

Data Center Mengisi Lahan Industri Jakarta

Indonesia menjadi pilihan pengembangan data center lantaran Singapura terhalang pasokan lahan. Jakarta dan sekitarnya jadi pilihan.

Saham ASII Digandrungi Investor Asing Sejak Oktober 2026, Berlanjut di Awal November
| Rabu, 04 November 2026 | 07:38 WIB

Saham ASII Digandrungi Investor Asing Sejak Oktober 2026, Berlanjut di Awal November

Prospek ASII dinilai masih menarik karena memiliki diversifikasi bisnis yang luas, mulai dari otomotif, jasa keuangan, hingga pertambangan. 

Caroline.id Menopang Pendapatan ASLC
| Rabu, 04 November 2026 | 07:37 WIB

Caroline.id Menopang Pendapatan ASLC

Transaksi mobil bekas PT Autopedia Sukses Lestari Tbk (ASLC) terus menguat lewat platform jual beli mobil Caroline.id.

Saham ANTM Ditinjau Ulang: Maybank & UBS Pangkas Target, BRI Danareksa Kerek Naik
| Rabu, 04 November 2026 | 07:37 WIB

Saham ANTM Ditinjau Ulang: Maybank & UBS Pangkas Target, BRI Danareksa Kerek Naik

Analis menyoroti potensi kelebihan pasokan emas di pasar domestik yang telah membatasi margin ANTM dalam dua kuartal terakhir.

MIDI Membagikan Dividen Interim Rp 127,05 Miliar
| Rabu, 04 November 2026 | 07:33 WIB

MIDI Membagikan Dividen Interim Rp 127,05 Miliar

PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) akan membagikan dividen tunai interim tahun buku 2026 sebesar Rp 127,05 miliar atau setara Rp 3,8 per saham. 

INDEKS BERITA

Terpopuler