Ancaman Underinsurance Korporasi

Jumat, 22 Mei 2026 | 04:32 WIB
Ancaman Underinsurance Korporasi
[ILUSTRASI. Ilustrasi dokumen asuransi (Shutterstock/Shutterstock)]
Kurnia Togar P. Tanjung | Dosen Hukum Asuransi Fakultas Hukum Universitas Indonesia

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menembus level Rp 17.600 pada pertengahan kuartal kedua tahun ini memaksa sektor riil memutar otak secara ekstrem. Fokus utama para eksekutif korporasi saat ini umumnya tersedot pada upaya taktis: menekan lonjakan biaya bahan baku impor, merestrukturisasi utang valuta asing, atau sekadar mempertahankan likuiditas dan arus kas agar mesin produksi tetap berjalan. Sayangnya, di tengah kepanikan memitigasi krisis di depan mata, ada satu celah manajemen risiko yang kerap luput dari audit manajemen: ancaman underinsurance (pertanggungan di bawah harga) pada aset-aset komersial perusahaan.  

Kondisi makroekonomi yang bergejolak saat ini menciptakan disrupsi langsung pada validitas kontrak asuransi kerugian yang sedang berjalan. Secara empiris, lanskap industri nasional kita masih sangat bergantung pada barang modal impor. Mayoritas mesin pabrik, infrastruktur teknologi, dan peralatan industri berat didatangkan dari luar negeri. Artinya, nilai penggantian (replacement value) dari aset-aset ini sangat sensitif terhadap fluktuasi kurs. Ketika seorang pengusaha mengasuransikan pabriknya pada tahun lalu dalam denominasi rupiah, valuasi pertanggungan tersebut dipastikan sudah usang dan terdepresiasi parah, tidak lagi relevan dengan harga riil belanja barang di pasar hari ini.

Baca Juga: Rupiah Masih Muram, Laba Duo Emiten Indofood Bisa Tenggelam

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Kinerja Emiten Ritel Dibayangi Pelemahan Daya Beli
| Senin, 15 Juni 2026 | 09:53 WIB

Kinerja Emiten Ritel Dibayangi Pelemahan Daya Beli

Pelemahan indeks penjualan riil bulan Mei 2026 mencerminkan tantangan bisnis yang akan dihadapi emiten ritel. 

SMCB Resmikan Fasilitas Ekspor di Tuban
| Senin, 15 Juni 2026 | 09:43 WIB

SMCB Resmikan Fasilitas Ekspor di Tuban

Fasilitas terintegrasi itu jadi bagian transformasi bisnis PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) mengoptimalkan aset produksi.

Masuk Masa Bookbuilding, Niramas Utama Incar Dana IPO Rp 392 Miliar
| Senin, 15 Juni 2026 | 09:38 WIB

Masuk Masa Bookbuilding, Niramas Utama Incar Dana IPO Rp 392 Miliar

Pada masa bookbuilding, PT Niramas Utama Tbkmenetapkan harga di kisaran Rp 900 hingga RP 1.120 per saham.

Tuntaskan Akuisisi Blok Migas, RATU Bersiap Tancap Gas
| Senin, 15 Juni 2026 | 09:33 WIB

Tuntaskan Akuisisi Blok Migas, RATU Bersiap Tancap Gas

Akuisisi saham SMS Development Limited oleh PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) menelan dana sebanyak US$ 141,21 juta.

Saham-Saham Hijau Masih Merah
| Senin, 15 Juni 2026 | 09:25 WIB

Saham-Saham Hijau Masih Merah

Tekanan global membuat indeks saham berbasis environmental, social, and governance (ESG) merah sejak awal 2026 

Relaksasi RKAB Bisa Mendorong Kinerja Emiten Kontraktor Batubara
| Senin, 15 Juni 2026 | 09:04 WIB

Relaksasi RKAB Bisa Mendorong Kinerja Emiten Kontraktor Batubara

Relaksasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) berpotensi mendongkrak produksi batubara nasional.

Kinerja Emiten Rumah Sakit Masih Sehat, Simak Rekomendasi Sahamnya
| Senin, 15 Juni 2026 | 08:28 WIB

Kinerja Emiten Rumah Sakit Masih Sehat, Simak Rekomendasi Sahamnya

Rumah sakit yang memiliki eksposur besar terhadap pasien swasta punya ruang pertumbuhan kinerja yang lebih besar

PP 20/2026 dan Matinya Insentif Bertumbuh
| Senin, 15 Juni 2026 | 07:45 WIB

PP 20/2026 dan Matinya Insentif Bertumbuh

Ketika pelaku usaha yang paling produktif justru punya insentif untuk tidak tumbuh, bukan negara yang menang.

Rupiah Menguat, Tapi Masih Rentan, Simak Prediksi Hari Ini, Senin (15/6)
| Senin, 15 Juni 2026 | 07:44 WIB

Rupiah Menguat, Tapi Masih Rentan, Simak Prediksi Hari Ini, Senin (15/6)

Penguatan rupiah terjadi setelah ada revisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia.

Demo Sang Pewaris
| Senin, 15 Juni 2026 | 07:40 WIB

Demo Sang Pewaris

Program berskala besar Prabowo dan kewajiban akibat ekspansi pembangunan di masa Jokowi jadi bagian dari beban fiskal yang ditanggung Indonesia.

INDEKS BERITA

Terpopuler