Anggaran Masker

Rabu, 09 September 2026 | 06:02 WIB
Anggaran Masker
[ILUSTRASI. TAJUK - Hendrika Yunapritta (KONTAN/Indra Surya)]
Hendrika Y | Managing Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasca pandemi Covid19 beberapa tahun lalu, baru kali ini masyarakat Jabodetabek kembali berburu masker. Bisa diduga, pasokan masker di beberapa tempat pun ludes, kendati tak sampai mengerek harga. Kebutuhan masker, belakangan, sejatinya bukan hanya karena sebaran abu vulkanik anak Krakatau, karena wilayah-wilayah terdampak asap karena kebakaran lahan dan hutan, juga perlu masker. Masker, hanya benda kecil tapi selalu dicari dalam beberapa bencana.  

Perburuan masker ini terjadi bebarengan dengan upaya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengajukan tambahan Dana Siap Pakai sebesar Rp 5,67 triliun. Respon negara harusnya cepat dan tepat. 

Ancaman hidrometeorologi, kebakaran hutan, hingga erupsi gunung berapi yang silih berganti menghantam nusantara menuntut kesiapan fiskal yang memadai, bukan sekadar tambal sulam anggaran rutin.  Lonjakan frekuensi bencana ini membuat pagu anggaran awal dan dana darurat tersengat habis. Di tengah situasi krisis, termasuk letusan dan sebaran abu vulkanik, kebutuhan logistik dasar, evakuasi, hingga alat pelindung kesehatan mendesak untuk segera digelontorkan. 

Pertanyaannya, sejauh mana dana jumbo ini dialokasikan secara transparan untuk kebutuhan paling mendasar di lapangan, seperti pembagian masker gratis bagi warga yang terancam bahaya infeksi saluran pernapasan? Berdasarkan regulasi yang berlaku, termasuk Peraturan Kepala BNPB, Dana Siap Pakai secara sah dapat dialokasikan untuk penanganan darurat, termasuk pengadaan logistik kesehatan, obat-obatan, serta perlengkapan perlindungan pernapasan seperti masker.

Negara tidak boleh abai dengan membiarkan warga merogoh kocek sendiri demi mendapatkan masker pelindung. Keterlambatan dana atau perdebatan birokratis antara otoritas fiskal dan pelaksana lapangan hanya akan mempersulit rakyat. 

Sebagian kalangan mungkin mencemaskan potensi pelebaran defisit anggaran atau risiko moral hazard dalam pengelolaan dana darurat berskala besar ini. Namun, kekhawatiran fiskal tidak boleh dijadikan alibi untuk bersikap lamban mitigasi dampak bencana. Yang mesti diperketat adalah sistem pengawasan, transparansi alokasi, serta akuntabilitas pertanggungjawaban penggunaan dananya.

Jangan biarkan rakyat menanggung beban ganda: tertimpa bencana alam, sekaligus terlantar oleh kelambanan anggaran.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Satu Calon Investor Bank Muamalat Lakukan Due Diligence
| Rabu, 09 September 2026 | 06:34 WIB

Satu Calon Investor Bank Muamalat Lakukan Due Diligence

Satu calon investor Bank Muamalat telah melakukan due diligence tahun ini, membuka peluang masuknya pemegang saham baru ​

Himbara Terapkan Pungutan Pajak Transaksi Digital Luar Negeri
| Rabu, 09 September 2026 | 06:30 WIB

Himbara Terapkan Pungutan Pajak Transaksi Digital Luar Negeri

Sistem pemungutan pajak atas transaksi digital luar negeri akan mulai diimplementasikan pada 10 September 2026 

Dana Kelolaan ETF Emas Bisa Mencapai Rp 1 Triliun
| Rabu, 09 September 2026 | 06:15 WIB

Dana Kelolaan ETF Emas Bisa Mencapai Rp 1 Triliun

Kehadiran exchange traded fund (ETF) emas di pasar finansial domestik cukup mendapat sambutan positif dari investor

Bencana Alam Gerus 0,15 Poin Persentase Pertumbuhan Ekonomi
| Rabu, 09 September 2026 | 06:05 WIB

Bencana Alam Gerus 0,15 Poin Persentase Pertumbuhan Ekonomi

Karhutla pada 2019 dengan luas sekitar 1,6 juta ha diperkirakan World Bank menimbulkan kerugian sekitar US$ 5,2 miliar atau setara 0,5% dari PDB

Anggaran Masker
| Rabu, 09 September 2026 | 06:02 WIB

Anggaran Masker

Negara tidak boleh abai dengan membiarkan warga merogoh kocek sendiri demi mendapatkan masker pelindung.

Pengendali Serok 803 Juta Saham BUKA di Atas Harga Pasar, Sinyal Perbaikan Kinerja?
| Rabu, 09 September 2026 | 06:01 WIB

Pengendali Serok 803 Juta Saham BUKA di Atas Harga Pasar, Sinyal Perbaikan Kinerja?

Pada semester I-2026, BUKA masih membukukan rugi bersih sekitar Rp 817,8 miliar dan EBITDA negatif Rp 937,5 miliar.

Bayang-Bayang Tantangan Operasi Bagi XLSmart Telecom Tbk
| Rabu, 09 September 2026 | 06:00 WIB

Bayang-Bayang Tantangan Operasi Bagi XLSmart Telecom Tbk

PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) diproyeksi fokus pada penataan basis pelanggan pasca merger di sisa tahun ini

Transaksi PUAB Naik di Tengah Peningkatan Penyaluran Kredit
| Rabu, 09 September 2026 | 06:00 WIB

Transaksi PUAB Naik di Tengah Peningkatan Penyaluran Kredit

Kenaikan transaksi PUAB belum menunjukkan adanya persoalan likuiditas secara sistemik.                       

Cicilan Utang Whoosh Rp 1 Triliun
| Rabu, 09 September 2026 | 05:55 WIB

Cicilan Utang Whoosh Rp 1 Triliun

Utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung alias Whoosh akan direstrukturisasi dengan tenor pembayaran hingga 80 tahun

Sekuritas Diversifikasi Sumber Pendapatan
| Rabu, 09 September 2026 | 05:45 WIB

Sekuritas Diversifikasi Sumber Pendapatan

Industri sekuritas giat mencari sumber pendapatan di luar bisnis penjaminan efek di tengah seretnya aksi pencarian dana oleh korporasi.

INDEKS BERITA