Pengendali Serok 803 Juta Saham BUKA di Atas Harga Pasar, Sinyal Perbaikan Kinerja?
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) menguat pasca kabar anak usaha Grup Emtek sekaligus pengendali BUKA, yakni PT Kreatif Media Karya (KMK) mengakumulasi sekitar 803 juta saham BUKA, pada Senin (7/9).
Mengutip Stockbit, saham BUKA pada Selasa (8/9) ditutup menguat 0,88% ke Rp 114, melanjutkan penguatan yang tercetak seminggu belakangan. Adapun sepanjang sebulan dan sepanjang tahun berjalan atau year to date (YtD), saham BUKA masih bertengger di zona merah, alias terkoreksi masing-masing 3,39% dan 27,85%.
Lebih lanjut, aksi akumulasi saham BUKA yang dilakukan oleh KMK tersebut, dilakukan di harga Rp 126 per saham, atau berada di atas harga pasar BUKA saat ini yaitu Rp 114. Pada Selasa (8/9), saham BUKA ditutup di level Rp 114 per saham.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang memandang aksi pembelian dalam jumlah besar tersebut menjadi sinyal yang cukup menarik mengingat pergerakan saham BUKA telah cenderung sideways di bawah level Rp 200 selama lebih dari satu tahun.
Baca Juga: Sempat Bullish, Saham Bukalapak.com (BUKA) Patut Dicermati
Tak hanya itu saja, aksi tersebut juga memberikan sinyal positif terkait tingkat kepercayaan pengendali terhadap prospek BUKA, terutama karena dilakukan pada harga Rp 126 dengan jumlah saham yang tergolong besar.
“Secara resmi, KMK menyebut transaksi tersebut dilakukan untuk investasi dan mempertahankan pengendalian,” ujar Alrich kepada KONTAN, Selasa (8/9).
Dia melanjutkan, sinyal terkuat dari transaksi tersebut saat ini adalah komitmen pemegang saham pengendali untuk meningkatkan eksposur terhadap BUKA.
Namun, investor belum dapat langsung mengartikan transaksi tersebut sebagai sinyal akan adanya aksi korporasi seperti merger, tender offer, maupun aksi korporasi lainnya, sebab belum ada konfirmasi resmi mengenai rencana tersebut.
Alrich menilai akumulasi saham oleh pengendali berpotensi menjadi katalis psikologis bagi saham BUKA. Namun, aksi tersebut belum cukup untuk menjadi katalis fundamental yang mampu mengubah tren saham secara permanen.
Walaupun BUKA memiliki neraca yang relatif kuat, kinerja perusahaan masih menghadapi tantangan dari sisi profitabilitas.
Lihat saja, per Juni 2026, BUKA memiliki total ekuitas sekitar Rp 24,3 triliun dengan liabilitas hanya sekitar Rp 573 miliar. Namun, pada semester I-2026, BUKA masih membukukan rugi bersih sekitar Rp 817,8 miliar dan EBITDA negatif sekitar Rp 937,5 miliar.
“Pasar membutuhkan evidence of earnings recovery, bukan hanya aksi akumulasi pemegang saham pengendali,” imbuh Alrich.
Dia memandang, katalis yang lebih kuat untuk mendorong re-rating saham BUKA adalah perbaikan profitabilitas, EBITDA yang konsisten positif, serta kemampuan perusahaan mengubah pertumbuhan pendapatan menjadi laba yang berkelanjutan.
Jika perbaikan tersebut mulai terlihat bersamaan dengan peningkatan volume perdagangan dan breakout harga, peluang perubahan tren BUKA akan menjadi lebih kredibel.
