ANTM Berburu Pengganti Tambang Emas Pongkor

Selasa, 11 Juni 2019 | 06:20 WIB
ANTM Berburu Pengganti Tambang Emas Pongkor
[]
Reporter: Ika Puspitasari | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Salah satu aset produksi emas PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yakni tambang di Pongkor, Bogor, Jawa Barat mendekati "masa pensiun". Salah satu anggota indeks Kompas100 di Bursa Efek Indonesia (BEI) itu pun seolah bergelut waktu untuk mencari pengganti sumber produksi emas yang lain.

Tambang emas Pongkor beroperasi sejak tahun 1994 silam. Cadangan emas di tambang tersebut kemungkinan akan habis pada tahun ini, meski kontrak eksplorasi tambang Pongkor masih berlaku hingga tahun 2021.

Sejalan dengan perburuan aset tambang baru, Aneka Tambang menggelar studi di sejumlah area tambang potensial. "Secara anorganik, saat ini kami juga melaksanakan kajian yang berkelanjutan terkait dengan strategi akuisisi aset tambang emas yang memiliki prospek yang baik," ujar Arie Prabowo Ariotedjo, Direktur Utama PT Aneka Tambang Tbk kepada KONTAN, Minggu (9/6).

Kriteria tambang emas incaran Aneka Tambang yakni memiliki status clean and clear (CnC) atau sejalan dengan aturan hukum. Tambang emas bidikan mereka juga harus mempunyai cadangan dan sumber daya cukup, memiliki tingkat keekonomian operasi kompetitif serta telah beroperasi dengan baik.

Hanya saja, manajemen Aneka Tambang tidak mengungkapkan target realisasi akuisisi tambang baru. Manajemen emiten tersebut juga belum dapat menyampaikan besaran investasi yang disediakan.

Namun secara keseluruhan ANTM sudah menyiapkan investasi untuk pengembangan, investasi pendukung operasional rutin serta deferred expenses atau beban yang sudah dibayarkan tapi pencatatannya ditangguhkan sebesar Rp 3,39 triliun.

Aset tambang emas baru nanti akan melengkapi operasional aset tambang yang sudah ada. Sejak tahun 2010, Aneka Tambang mengoperasikan tambang emas di Cibaliung, Pandeglang, Banten. Perusahaan tersebut juga mulai menggelar operasi di area izin usaha pertambangan (IUP) eksplorasi Papua.

Hingga Desember 2018, Aneka Tambang memiliki cadangan emas seberat 19 ton dan sumber daya emas setara dengan 42 ton. Pada tahun ini, mereka menargetkan volume produksi sebanyak 2 ton emas. Dalam catatan KONTAN, target produksi emas sepanjang 2019 sama dengan tahun lalu. Sementara target penjualan emas tahun ini naik 23,08% year on year (yoy) menjadi 32 ton.

Realisasi capex

Meski sedang getol berburu aset tambang emas, Aneka Tambang tak lantas mengabaikan lini bisnis lain. Pengembangan pabrik feronikel baru di Halmahera Timur Maluku Utara tetap berjalan. Perusahaan ini juga mengembangkan proyek hilirisasi berupa smelter grade alumina refinery di Mempawah, Kalimantan Barat dan membangun pabrik nickel pig iron.

Sepanjang tahun ini, Aneka Tambang menganggarkan dana belanja modal atau capital expenditure (capex) sebanyak Rp 3,3 triliun. "Hingga triwulan pertama tahun ini, belanja modal perusahaan telah terserap sebesar Rp 377 miliar," terang Arie.

Sementara pada Januari-April 2019, ANTM mencatatkan produksi 8.726 ton nikel dalam feronikel (TNi) dan penjualan 9.226 TNi. Pada periode yang sama, volume produksi bijih nikel mencapai 3,09 juta wet metric ton (wmt) dan penjualan bijih nikel sebanyak 2,44 juta wmt.

Sementara penjualan emas kurang lebih 7,4 ton emas dan produksi emas 670 kilogram (kg) emas. Sampai dengan tutup kuartal II-2019, Aneka Tambang menargetkan produksi 6.200 ton nikel dan 500 kg emas.

Bagikan

Berita Terbaru

UNSP Berpotensi Hadapi Perkara Hukum Terkait Karhutla
| Minggu, 18 Oktober 2026 | 15:05 WIB

UNSP Berpotensi Hadapi Perkara Hukum Terkait Karhutla

UNSP menyatakan bahwa perusahaan dan/atau entitas anak berpotensi menghadapi proses hukum seiring maraknya karhutla yang terjadi saat ini.

Penangkal Kekeringan hingga Penggerak Ekonomi
| Minggu, 18 Oktober 2026 | 06:10 WIB

Penangkal Kekeringan hingga Penggerak Ekonomi

Dulu menjadi desa yang kerap dilanda kekeringan, Desa Doho di Wonogiri, Jawa Tengah, kini menjadikan Embung Doho sebagai

Jaminan & Tanya Besar
| Minggu, 18 Oktober 2026 | 06:10 WIB

Jaminan & Tanya Besar

​Pengendali saham PT Jhonlin Agro Raya, Tbk (JARR) dan PT Pradiksi Gunatama, Tbk (PGUN) menggadaikan hampir seluruh sahamnya kepada Bank Mandiri.

Ketika Pemimpin Hanya Mendengar Kabar Baik
| Minggu, 18 Oktober 2026 | 05:50 WIB

Ketika Pemimpin Hanya Mendengar Kabar Baik

​Di tengah sederet laporan keberhasilan para pemimpin, realitas di lapangan kerap menyuguhkan cerita berbeda yang luput dari pandangan mereka.

Kualitas Pertumbuhan Lebih Penting daripada Angka
| Minggu, 18 Oktober 2026 | 05:30 WIB

Kualitas Pertumbuhan Lebih Penting daripada Angka

Data Infovesta menunjukkan, rata-rata imbal hasil unitlink berbasis saham mengalami kontraksi 9,21% secara year to date hingga September 2026.

Anggur Shine Muscat
| Minggu, 18 Oktober 2026 | 05:15 WIB

Anggur Shine Muscat

Sejak bulan September  lalu, anggur Shine Muscat produk China yang awalnya dipasarkan Rp 60.000 sampai Rp 100.000 per kg.

Status SPLN tapi Mendapat SP2DK
| Minggu, 18 Oktober 2026 | 05:15 WIB

Status SPLN tapi Mendapat SP2DK

​Wajib pajak yang tinggal di luar negeri tak serta-merta harus bayar pajak di Indonesia atas penghasilan yang diperoleh di negara lain.

Simak Bagaimana Meraup Peluang dari Demam Mahjong
| Minggu, 18 Oktober 2026 | 05:10 WIB

Simak Bagaimana Meraup Peluang dari Demam Mahjong

Popularitas mahjong membuka peluang bisnis di berbagai lini. Dari penjualan perlengkapan, penyewaan meja, hingga tempat bermain.

 
Memutus Kepala Api biar Tidak Terus Menjalar
| Minggu, 18 Oktober 2026 | 05:05 WIB

Memutus Kepala Api biar Tidak Terus Menjalar

Luas hutan dan lahan yang terbakar dalam 24 jam terakhir per 13 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB, total 570,09 hektare. 

Dana Bencana Diduga untuk Beli Saham Pribadi Adik Mantan Kepala BNPB
| Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:20 WIB

Dana Bencana Diduga untuk Beli Saham Pribadi Adik Mantan Kepala BNPB

KPK menduga dana korupsi sebesar Rp 30,98 miliar digunakan untuk membeli saham PT MDLA              

INDEKS BERITA

Terpopuler