Bank Koresponden Terima Dana Pelunasan dalam Dolar, Rusia Tidak Jadi Default

Jumat, 18 Maret 2022 | 12:51 WIB
Bank Koresponden Terima Dana Pelunasan dalam Dolar, Rusia Tidak Jadi Default
[ILUSTRASI. Papan informasi di bursa Moskow, Moskow, Rusia, 28 Februari 2020. REUTERS/Maxim Shemetov]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - 

NEW YORK. JPMorgan telah menerima dana untuk melunasi kupon obligasi dolar Rusia yang jatuh tempo minggu ini.  Sebagai bank koresponden, JPMorgan telah  memproses, dan melakukan kredit lanjutan ke Citi yang berperan sebagai agen pembayar, demikian penuturan seorang sumber yang mengetahui situasi tersebut pada Kamis (17/3).

Dana yang disiapkan untuk pelunasan kupon obligasi itu dalam dolar AS, tutur sis umber. Setelah dikreditkan ke agen pembayar, ia melanjutkan, dana akan diverifikasi sebelum didistribusikan ke pemegang obligasi. Ia mengindikasikan, Rusia bisa menghindar dari jerat default utang negara.

Pemerintah Rusia pada Kamis mengatakan telah melakukan pembayaran utang yang jatuh tempo minggu ini. Rusia harus melunasi kupon bernilai total $ 117 juta dari dua obligasi dolarnya yang jatuh tempo pada Rabu.

Baca Juga: BOJ Tetap Pertahankan Stimulus Besar-besaran, Ini Alasannya

Rusia menyatakan telah melakukan pelunasan pada saat jatuh tempo. Sumber Reuters di pasar keuangan global, menuturkan, beberapa pemegang obligasi telah menerima pembayaran dalam dolar.

Pembayaran itu secara luas dilihat sebagai ujian pertama apakah Moskow mampu memenuhi berbagai kewajibannya setelah terkepung oleh sanksi dari negara-negara Barat yang membuat transaksi keuangannya tertatih-tatih. Jika mampu melakukan pelunasan, Rusia terhindar dari ancaman mengalami default obligasi untuk pertama kalinya dalam satu abad terakhir.

Sumber tersebut mengatakan bahwa kewajiban JPMorgan sebagai bank koresponden asing adalah untuk memproses pembayaran, tetapi mengingat keadaan, juga untuk memeriksa dengan pihak berwenang sebelum melakukannya.

Sanksi yang dijatuhkan atas invasi Moskow ke Ukraina telah memutuskan Rusia dari sistem keuangan global dan memblokir sebagian besar cadangan emas dan valuta asingnya, sementara Moskow pada gilirannya membalas - semuanya mempersulit pembayaran.

Baca Juga: Warning Rusia: Kami Punya Kekuatan untuk Mengganti Amerika sebagai Negara Adidaya

Bank memeriksa dengan pihak berwenang sebelum memproses, kata sumber itu. Tidak memproses pembayaran akan merugikan pemegang obligasi, kata sumber itu. 

Di bawah sanksi dan pembatasan yang diumumkan bulan lalu, sebagai tanggapan atas invasi Rusia ke Ukraina, bank-bank AS dilarang dari perbankan koresponden - memungkinkan bank untuk melakukan pembayaran antara satu sama lain dan memindahkan uang ke seluruh dunia - dengan pemberi pinjaman terbesar Rusia, Sberbank, dalam waktu 30 hari .

Washington dan mitranya juga mulai melarang beberapa bank Rusia dari sistem pembayaran internasional SWIFT - sebuah langkah yang akan menghentikan pemberi pinjaman melakukan sebagian besar transaksi keuangan mereka di seluruh dunia.

Sebuah laporan Maret 2020 oleh Bank for International Settlements menunjukkan bahwa bank-bank koresponden telah "mengurangi kembali hubungan perbankan lintas batas mereka selama dekade terakhir." Jumlah bank koresponden turun 20% antara 2011 dan 2018, bahkan ketika nilai pembayaran meningkat, kata laporan itu.

Bagikan

Berita Terbaru

Efek Sentimen Eksternal Menghantui Rupiah di Senin (12/10)
| Senin, 12 Oktober 2026 | 06:00 WIB

Efek Sentimen Eksternal Menghantui Rupiah di Senin (12/10)

Pasar akan mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, termasuk serangan kelompok Houthi ke Arab Saudi. 

Bank Mandiri Pegang Risiko Tinggi di PGUN dan JARR
| Senin, 12 Oktober 2026 | 05:40 WIB

Bank Mandiri Pegang Risiko Tinggi di PGUN dan JARR

ChatGPT said:Kredit Bank Mandiri ke Jhonlin Group dibayangi risiko likuiditas karena agunan saham PGUN dan JARR sulit dicairkan saat gagal bayar

Beban Naik, Surat Utang Leasing Seret
| Senin, 12 Oktober 2026 | 05:35 WIB

Beban Naik, Surat Utang Leasing Seret

Penerbitan surat utang multifinance mencapai Rp 19,62 triliun dalam sembilan bulan pertama tahun ini, turun 33,1% secara tahunan. 

Bank Asing Ramai-Ramai Perbesar Bisnis di RI
| Senin, 12 Oktober 2026 | 05:30 WIB

Bank Asing Ramai-Ramai Perbesar Bisnis di RI

ChatGPT said:Bank asing gencar ekspansi di Indonesia lewat akuisisi dan integrasi bisnis untuk memperluas pasar dan memperkuat daya saing.

Waspadai Efek PHK Terhadap NPL Konsumer
| Senin, 12 Oktober 2026 | 05:25 WIB

Waspadai Efek PHK Terhadap NPL Konsumer

Lonjakan PHK berpotensi meningkatkan NPL kredit konsumer, terutama KPR, dan menekan kualitas aset perbankan.

Tantangan Pembiayaan Utang di Akhir Tahun
| Senin, 12 Oktober 2026 | 05:20 WIB

Tantangan Pembiayaan Utang di Akhir Tahun

Pemerintah berpacu memenuhi target SBN di tengah yield tinggi dan tekanan biaya utang.                   

Pungutan Baru Efektif Menyasar Juragan di Marketplace
| Senin, 12 Oktober 2026 | 05:15 WIB

Pungutan Baru Efektif Menyasar Juragan di Marketplace

Pelaku usaha di marketplace menghadapi pungutan PPh Pasal 22 sebesar 0,5% dari omzet yang bisa  memengaruhi strategi bisnis pedagang.

Laba Perbankan di Kuartal III Berpotensi Tumbuh Lebih Baik
| Senin, 12 Oktober 2026 | 05:00 WIB

Laba Perbankan di Kuartal III Berpotensi Tumbuh Lebih Baik

Laba bank besar berpotensi tumbuh lebih baik pada kuartal III-2026, meski dibayangi tekanan biaya dana dan perlambatan kredit

Tarif PPh 35% Jangkau 420.000 WP
| Senin, 12 Oktober 2026 | 05:00 WIB

Tarif PPh 35% Jangkau 420.000 WP

Wajib pajak berpenghasilan jumbo menjadi perhatian otoritas pajak. DJP mencatat, sekitar 420.000 wajib pajak orang pribadi (WP OP)

Calon Lender Mesti Perhatikan Kenaikan Kredit Macet
| Senin, 12 Oktober 2026 | 04:45 WIB

Calon Lender Mesti Perhatikan Kenaikan Kredit Macet

AFPI menilai industri pinjaman daring masih menjadi sektor strategis bagi investor untuk menempatkan dananya

INDEKS BERITA

Terpopuler