Beban Keuangan Membengkak, Sejahteraraya Anugrahjaya (SRAJ) Mendekap Kerugian

Selasa, 11 November 2025 | 08:07 WIB
Beban Keuangan Membengkak, Sejahteraraya Anugrahjaya (SRAJ) Mendekap Kerugian
[ILUSTRASI. Mayapada (SRAJ) Bangun RS Internasional Rp1 Triliun di KEK Batam, Ditargetkan Beroperasi Akhir 2027. Dok/SRAJ]
Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Dikky Setiawan

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Kinerja keuangan PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) kurang moncer di sembilan bulan 2025.

Di periode ini, emiten rumah sakit milik taipan Dato Sri Tahir itu membukukan rugi bersih Rp 88,46 miliar, berbalik dari laba Rp 8,24 miliar pada periode yang sama tahun 2024.

Padahal, dari sisi top line, pendapatan SRAJ masih tumbuh 8,79% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 1,87 triliun per September 2025, dari Rp 1,72 triliun pada periode yang sama 2024.

Sejumlah faktor jadi pemicu kerugian SRAJ di tengah melonjaknya pendapatan di sembilan bulan tahun iniSalah satunya, membengkaknya beban pada sejumlah pos keuangan.

Baca Juga: Kinerja Masih Merugi, Sejahteraraya Anugrahjaya (SRAJ) Tetap Ekspansi

Pada pos beban penjualan, misalnya, melonjak, jadi Rp 36,06 miliar per September 2025 dari Rp 30,07 miliar per September 2024. Sementara itu, beban umum dan administrasi SRAJ per September 2025 mencapai Rp 634,05 miliar, bengkak dari Rp 534,18 miliar di periode serupa tahun lalu.

Beban keuangan SRAJ pun naik menjadi Rp 281,41 miliar, dari periode serupa tahun 2024 sebesar Rp 129,91 miliarAlhasil, SRAJ hanya mampu membukukan laba usaha Rp 84,71 miliar pada periode Januari–September 2025.

Setelah dikurangi berbagai beban dan pajak, SRAJ mencatat rugi bersih Rp 88,46 miliar pada periode per September 2025. Rugi bersih ini membuat rugi per saham dasar ikut melebar jadi Rp 7,23 dari sebelumnya Rp 0,69 per saham.

Beban operasional

Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan melihat, penurunan kinerja SRAJ dipicu melejitnya beban operasional dan keuangan yang lebih tinggi dibanding pendapatan.

"Beban administrasi dan penjualan meningkat signifikan seiring ekspansi jaringan rumah sakit yang dilakukan SRAJ beberapa tahun terakhir," ujar Ekky, kemarin.

Meski begitu, Ekky memprediksi, bisnis emiten rumah sakit masih punya prospek cerah di akhir tahun ini hingga tahun depan. Ini seiring permintaan layanan medis terus meningkat, baik dari pasien umum maupun peserta BPJS.

Baca Juga: Saham SRAJ Milik Tahir Tanpa Rem, Ada Investor Kantongi Potential Gain Rp8,55 triliun

Namun, ekspansi yang agresif tanpa efisiensi biaya bisa membebani margin emiten. Dus, SRAJ harus fokus mengendalikan beban keuangan dan mengoptimalkan utilisasi rumah sakit agar margin labanya membaik.

Meski begitu, SRAJ masih berpeluang mempersempit kerugian di sisa tahun ini, meski peluang mencetak laba baru akan terlihat pada 2026.

Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mencermati, dari sisi teknikal, pergerakan saham SRAJ masih berada dalam fase downtrend jangka pendek. "Kami merekomendasi wait and see dengan area support di Rp 11.000 dan resistance di 11.800," saranya.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Harga Emas Terangkat Pelemahan Dolar
| Sabtu, 08 Agustus 2026 | 08:00 WIB

Harga Emas Terangkat Pelemahan Dolar

Harga emas didukung penurunan harga energi dan melunaknya kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS).

Penguatan Rupiah Pekan Ini Terangkat Pelemahan Dolar
| Sabtu, 08 Agustus 2026 | 08:00 WIB

Penguatan Rupiah Pekan Ini Terangkat Pelemahan Dolar

Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot naik 0,15% secara harian menjadi Rp 17.897 per dolar Amerika Serikat (AS).

Merdeka dari Belenggu Keserakahan
| Sabtu, 08 Agustus 2026 | 07:05 WIB

Merdeka dari Belenggu Keserakahan

Fenomena yang terjadi yang bisa disebut sebagai serakahnomics harus dihapuskan demi menjamin pemenuhan hak semua warga.​

OJK Sebagai Fasilitator
| Sabtu, 08 Agustus 2026 | 07:00 WIB

OJK Sebagai Fasilitator

Terkesan ada upaya OJK menjaga jarak dari konflik di lapangan dan memilih peran layaknya hakim garis.​

Upaya Penetrasi Pasar Alat Farmasi PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI)
| Sabtu, 08 Agustus 2026 | 07:00 WIB

Upaya Penetrasi Pasar Alat Farmasi PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI)

Menelisik profil dan strategi bisnis PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) pasca mencatatkan saham perdana pada Juli 2026 

Bank Kecil Buka Peluang Tambah Lini Bisnis
| Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:30 WIB

Bank Kecil Buka Peluang Tambah Lini Bisnis

OJK membuka jalan menuju universal banking, memberi peluang bank kecil memperluas layanan keuangan jika dinilai siap menjalankannya.

Prospek Asuransi Energi di Indonesia Masih Cerah
| Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:30 WIB

Prospek Asuransi Energi di Indonesia Masih Cerah

Asuransi energi diproyeksi terus bertumbuh seiring ekspansi proyek migas dan transisi energi, meski risiko global tetap membayangi

Ekonomi Jakarta Tumbuh Lebih Moderat
| Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:21 WIB

Ekonomi Jakarta Tumbuh Lebih Moderat

Prospek tersebut didukung oleh investasi yang tetap kuat dan meningkatnya optimisme pelaku usaha.           

Total Bangun Persada (TOTL) Memacu Perolehan Kontrak Baru
| Sabtu, 08 Agustus 2026 | 04:25 WIB

Total Bangun Persada (TOTL) Memacu Perolehan Kontrak Baru

Total Bangun Persada membukukan perolehan kontrak baru senilai Rp 2,78 triliun hingga semester I-2026.

Upaya Ungkit Konsumsi dan Daya Beli
| Sabtu, 08 Agustus 2026 | 04:00 WIB

Upaya Ungkit Konsumsi dan Daya Beli

Peritel berharap kehadiran indoensia Shopping Festival (ISF) 2026 pada 7-23 Agustus 2026 bisa mengungkit daya beli.

INDEKS BERITA