Hanya Rp 10.000 selama 30 hari untuk berita pilihan, independen, dan inspiratif Berlangganan Sekarang
Berita HOME

Benny Tjokrosaputro: Saya Sempat Dimarahi Bapak karena Main Saham

Kamis, 14 Februari 2019 | 13:32 WIB
Benny Tjokrosaputro: Saya Sempat Dimarahi Bapak karena Main Saham

ILUSTRASI.

KONTAN: Apakah krisis tahun 1998 itu sedemikian berat bagi bisnis Anda?

BENNY: Berat. Uang beredar hampir tidak ada, lalu bagaimana orang yang berdagang. Semua barang dijual murah tetap tidak laku. Utang dollar tiba tiba kena depresiasi rupiah, nilai utangnya tiba-tiba melonjak menjadi enam kali lipat. Sedangkan utang rupiah, bunganya sampai  60%. Mau utang untuk apa juga pasti akan mati.

Mau utang rupiah atau dollar, dua duanya akan mati. Utang rupiah bunganya 60%, utang dollar depresiasinya enam kali lipat. Barang dagangan tidak ada yang laku.

KONTAN: Apakah tidak ada celah sama sekali untuk mencari uang saat itu?

BENNY: Saat itu membingungkan. Sampai-sampai, empat bank yang memberi kami (Grup Batik Keris) kredit, juga tutup. Ada empat bank, seperti Bank Bira dan Bank Dharmala dan semuanya turup. Saat kami mau negosiasi utang dengan pihak bank, lo ternyata banknya sudah tutup.

Tetapi karena surat tanah kami di pegang bank, akhirnya kami menemui BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional). Kami mendatangi BPPN, saya bilang utang kami harus bayar kepada siapa.

BPPN lalu mencari file-nya dan butuh waktu berbulan-bulan. Saat itu kalau kami tidak jujur, bisa saja kami langsung minggat tidak bayar utang.

Zaman itu kami punya banyak tanah. Sebelum ada lelang asset BPPN, kami sudah berbaik hati menawarkan kepada BPPN, mau dibayar pakai apa? Uang susah dicari, namun kami punya banyak aset tanah. Kami juga tunjukkan pabrik kami.

BPPN tidak mau dibayar pakai aset pabrik karena harus mengurusi ribuan buruh. Akhirnya, BPPN lebih memilih kami bayar pakai tanah.

Dahulu saya membereskan utang keluarga saya pakai tanah, karena tidak ada duit. Saya lunasi utang grup Hanson dengan 10.000 ha tanah.

KONTAN: Di mana lokasi tanahnya?

BENNY: Dulu di Maja. Setelah selesai, pabriknya diambil adik saya, dan 10 tahun yang lalu bangkrut pabriknya. Kalau tahu seperti itu, saya akan biarkan pabriknya hilang, tidak usah dibayar pakai tanah. Sebab bayangkan, tanah 1.000 ha di Maja saat ini harganya sudah triliunan rupiah.

KONTAN: Pabrik apa?

BENNY:  Primayuda. Dibeli oleh India, kemudian dibeli lagi ke Sritex (PT Sri Rejeki Isman Tbk). Sudah pindah tangan ke Sritex. pabrik spinning, di Boyolali. Salah satu pabrik yang modern saat itu. Tapi sayang, pabriknya modern dengan investasinya tinggi, ekonominya berantakan, zamannya salah.

KONTAN: Bicara soal keluarga, putra putri Anda ada berapa?

BENNY:  Anak saya dua. Yang nomor satu, kelas dua SMA. Sedangkan adiknya kelas dua SMP.

KONTAN: Apakah Anda mengarahkan mereka menjadi seperti ayahnya atau membebaskannya?

BENNY: Saya bebaskan. Mereka mau bisnis seperti saya boleh, mau kerja yang lain juga boleh. Mau jadi penyanyi, pelukis, pendeta juga boleh. Yang penting kalau saya, ingat Tuhan. Itu hal utama. Bisnis sukses atau tidak sukses, itu semua berkat dari Tuhan. Saya tidak akan memaksakan keinginan saya harus dituruti anak.

KONTAN: Jadi tidak ada harapan tertentu untuk anak?

BENNY: Saya tidak ingin anak harus begini harus begitu.

KONTAN: Anak apakah juga mulai suka berinvestasi saham?

BENNY: Belum. Cuma istri saya suka.

KONTAN: Anda hobi mengoleksi perangko? (Salah satu sisi dinding ruang rapat di kantor Benny tertutup oleh koleksi perangkonya)

BENNY: Senang saja, waktu kecil kalau lihat perangko yang lucu-lucu saya beli. Ini ada perangko tua, saya senang satu set, kalau dijejer jadi bagus.

KONTAN: Koleksi paling tua?

BENNY: 1975 kalau tidak salah.

KONTAN: Hobi ping-pong juga?

BENNY: Kalau ada pertadingan antar kota, saya sering mewakili Solo. Bukan pemain nasional juga, karena kalau jadi pemain ping-pong, tidak bisa jadi pemain saham seperti sekarang. Malah jadi pelatih ping-pong.

KONTAN: Kenapa suka ping-pong?

BENNY: Karena kumpulan saya pada ikut klub ping-pong, ya saya jadi main ping-pong. Jadi teman seumuran saya itu ikut klub, senang main. Dulu juga tidak ada gim canggih seperti sekarang. Jadi dulu hobinya ya olah raga ping-pong itu tadi. Kalau sudah ikut seleksi kejuaraan dan bisa juara, itu bangganya setengah mati. Kepuasannya di sana, bisa juara, senangnya setengah mati.

Tapi kisah anak saya lain lagi. Dulu dia suka badminton. Saya tanya apakah dia mau ikut klub badminton, dia bilang mau, maka saya bawa ke PB Djarum. Saat bagian mukul-mukul, anak saya senang. Tetapi ketika latihan fisik, anak saya kaget. PB Djarum kan pencetak atlet. Minggu berikutnya, anak saya tidak mau latihan lagi.

Padahal Kalau disuruh latihan fisik, kami dahulu mau, karena ingin sekali jadi juara. Dulu kami latihan lari kuatnya cuma 2 km, tapi dipaksa lari sampai 9 km dan akhirnya bisa. Itu waktu saya masih SMP SMA latihan fisik lari sampai 9 km, lompat tali sampai 1 jam, latihan ping-pong ber jam-jam.

Anak sekarang disuruh latihan fisik, malah ngambek. Di suruh push up, squat jump, tidak mau.

KONTAN: Itu anak yang nomor berapa?

BENNY: Yang suka bulutangkis ini anak laki-laki, yang nomor dua. Anak pertama saya perempuan, dia sukanya seni.

 

Reporter: Dian Sari Pertiwi, Thomas Hadiwinata, Yuwono Triatmodjo
Editor: Yuwono triatmojo

Baca juga