Berebut Suara Milenial
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemilihan umum tahun depan benar-benar beda dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Bukan hanya pemilihan presiden (pilpres) dan pemilu legislatif (pileg) disusul pemilihan kepala daerah (pilkada) berlangsung di tahun yang sama; para pemilih pun luar biasa.
Komisi Pemilu Umum (KPU) melaporkan, jumlah warga yang masuk daftar pemilih tetap (DPT) mencapai rekor: 204,8 juta. Dan yang istimewa, generasi milenial yang kini berumur 27 tahun hingga 42 tahun mendominasi DPT, yakni sebanyak 33,6% atau 68,8 juta jiwa. Menyusul di posisi kedua generasi X sejumlah 57,49 juta orang atau 28,07%.
Lantas, calon pencoblos dari Gen Z sebanyak 22,85% (46,8 juta). Adapun kaum sepuh baby boomers 13,73% (28,13 juta) dan pre-baby boomers 1,74% (3,57 juta). Jadi, bila pemilih muda belia itu dijumlahkan, Gen Y + Gen Z, mencapai 115,6 juta atau 56,45%. Mereka mayoritas pemilih di pemilu raya 2024.
Para politisi bakal menghadapi massa yang lain sama sekali dengan era sebelumnya. Para kaum milenial dan Gen Z ini lengket benar dengan handphone. Julukannya saja generasi digital native yang suka beredar di dunia sosial media, seperti Youtube, Instagram, juga Tiktok.
Gaya kampanye politisi tentu harus beda untuk memikat mereka. Walikota Solo Gibran Rakabuming pun bilang, anak muda tidak pakai baliho. Akan lebih efektif bila politisi bertemu langsung dan lewat media sosial. Blusukan di sosmed.
Nah, bahayanya di jagat maya, fakta yang riil dan autentik pun bisa dipatahkan dengan "fakta-fakta" yang datangnya entah dari mana. Suatu kebenaran bisa ditenggelamkan dengan "kebenaran baru" yang dibangun dari persepsi, post truth.
Kemenangan Ferdinand Marcos Jr di pilpres Filipina tahun lalu pun membuktikan betapa efektifnya kampanye lewat medsos.
Di platform Facebook dan Tiktok, Bongbong Marcos secara konsisten menebar konten-konten pembangunan dan kejayaan ekonomi semasa ayahnya berkuasa, yang seakan-akan lebih hebat ketimbang era saat ini. Seolah-olah dulu tak ada praktik korupsi besar-besaran dan kekerasan masif terhadap lawan politik.
Boleh jadi disinformasi dan kebenaran baru semacam itu akan membanjiri media sosial selama masa kampanye. Para content creator, influencer, buzzer pun panen raya
Kita berharap para pemantau pemilu yang independen dan kredibel hadir untuk melumpuhkan serbuan disinformasi, kampanye negatif kebablasan, maupun kampanye hitam yang membutakan nalar pemilih.
