Hanya Rp 10.000 selama 30 hari untuk berita pilihan, independen, dan inspiratif
Berita HOME

Untuk Biayai Infrastruktur, Biden Usulkan Kenaikan Tarif Pajak atas Capital Gain

Sabtu, 24 April 2021 | 10:59 WIB
Untuk Biayai Infrastruktur, Biden Usulkan Kenaikan Tarif Pajak atas Capital Gain

ILUSTRASI. Presiden AS Joe Biden di Universitas Emory di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, Jumat (19/3/2021). REUTERS/Carlos Barria

Reporter: Thomas Hadiwinata | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Presiden Joe Biden akan menggulirkan rencana kenaikan tarif pajak penghasilan atas kelompok warga kaya di negerinya. Termasuk dalam rencana itu adalah menaikkan tarif pajak, hingga rekor tertinggi sepanjang sejarah, atas penghasilan investasi.

Rencana ini merupakan sebagian dari agenda Gedung Putih untuk merombak sistim pajak di negerinya. Penduduk dan korporasi yang masuk dalam kelompok makmur akan membayar pajak lebih besar, untuk membiayai berbagai pengeluaran anggaran pemerintah, berikut agenda ekonomi administrasi Biden.

Proposal reformasi pajak yang kini disiapkan pemerintahan Biden itu memuat kenaikan tarif pajak untuk kelompok penghasilan teratas menjadi 39,6% dari 37%, demikian penuturan sumber Reuters. Perubahan lain adalah kenaikan tarif pajak atas capital gain, hingga dua kali lipat, menjadi 39,6% untuk mereka yang berpenghasilan lebih dari US$ 1 juta.

Baca Juga: CITA menilai tarif pajak minimum global akan untungkan Indonesia

Itu akan menjadi tarif pajak tertinggi atas capital gain di AS sejak tahun 1920-an. Selama satu abad terakhir, tarif pajak tertinggi atas investasi yang pernah diberlakukan di AS adalah 33,8% di era pasca Perang Dunia kedua.

Tambahan dari pendapatan pajak itu akan dialokasi untuk berbagai program sosial yang disiapkan adminisrasi Biden. Semisal program perawatan anak, pendidikan pra-taman kanak-kanak universal serta program cuti berbayar untuk pekerja, demikian keterangan sumber yang akrab dengan kata proposal itu.

Namun rencana kenaikan pajak, yang merupakan isyu utama saat Biden melakukan kampanye kepresidenan, mengakibatkan perdagangan di Wall Street lesu. Indeks acuan S&P 500 turun hingga 1% pada sesi perdagangan sore Jumat (23/4). Penurunan itu merupakan yang terdalam dalam lebih dari sebulan terakhir.

Kenaikan tarif pajak yang diusulkan Pemerintahan Biden sangat mungkin terjegal di kongres. Mengingat, Partai Demokrat, yang mendukung Biden, memegang mayoritas yang tipis. Selain akan sulit mendapat dukungan anggota kongres dari Partai Republik, rencana itu juga sangat mungkin gagal mendapat dukungan bulat dari anggota Demokrat.

Baca Juga: Siap-siap, orang kaya AS akan kena pajak hingga 43,4%

"Jika ada peluang untuk lolos, kami akan turun 2.000 poin," kata Thomas Hayes, ketua dan anggota pengelola di hedge fund Great Hill Capital LLC, merujuk ke indeks bursa saham.

Sumber mengatakan, rincian rencana kenaikan tarif akan dirilis minggu depan sebelum Biden berpidato di depan Kongres, Rabu. Karena itu detail rencana dapat berubah dalam beberapa hari mendatang.

Pejabat Gedung Putih sedang memperdebatkan kemungkinan kenaikan pajak lainnya yang pada akhirnya dapat dimasukkan seperti pembatasan pemotongan untuk pembayar pajak kaya atau meningkatkan pajak atas properti, kata sumber tersebut kepada Reuters.

Biden telah berjanji untuk tidak menaikkan pajak atas rumah tangga yang berpenghasilan kurang dari $ 400.000.

Rincian pajak terkait rencana tersebut, yang telah dikerjakan selama berbulan-bulan, pertama kali dilaporkan oleh New York Times pada Kamis pagi.

Selanjutnya
Halaman   1 2

Baca juga

IHSG
5.938,35
0.63%
-37,44
LQ45
882,93
0.63%
-5,57
USD/IDR
14.198
-0,64
EMAS
933.000
0,43%