Bisnis Digital Bikin Emiten Media Berkantong Tebal

Senin, 07 Februari 2022 | 04:40 WIB
Bisnis Digital Bikin Emiten Media Berkantong Tebal
[]
Reporter: Ika Puspitasari | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten media terus memperkuat bisnis digital. Ini sejalan dengan potensi belanja iklan digital yang memang cukup besar. Menurut Statista, lembaga riset data pasar dan konsumer, belanja iklan Indonesia di iklan digital mencapai US$ 2,1 miliar tahun lalu dan masih akan tumbuh di 2022. 

Belanja iklan pada media sosial bahkan di prediksi mencapai US$ 1 miliar tahun ini. Pertumbuhan besar ini sejalan dengan aktivitas di media sosial pada video platform seperti TikTok dan Instagram yang kian populer, bahkan menjadi inti dari iklan digital Indonesia. 

Analis Mirae Asset Sekuritas, Christine Natasya menyebut bahwa transformasi digital yang dilakukan emiten media akan memberikan dampak positif untuk kinerja emiten. Gejala ini sejalan dengan layanan over the top (OTT) yang kian digemari penonton.

Baca Juga: Bertransformasi Digital, Begini Prospek Saham Sektor Emiten Media

Ke depan, Christine memperkirakan kontribusi dari segmen digital akan tumbuh signifikan. Perekonomian yang membaik menjadi katalis positif bagi sektor media. 

Saat ekonomi bertumbuh, perusahaan-perusahaan ini akan lebih banyak berbelanja iklan. Bagi emiten media yang mengandalkan pendapatan dari belanja iklan korporasi, tentu kondisi ini tentu akan memberikan efek positif. 

Kontribusi pendapatan digital di emiten media seperti PT Surya Media Citra Tbk (SCMA) dan PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) dari semula hanya single digit naik menjadi dua digit dalam dua tahun terakhir. "Kami memperkirakan pertumbuhan pendapatan iklan TV lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu," tulis Christine dalam risetnya. 

Tak heran jika emiten media cukup agresif menambah investasi di bisnis digital. Christine berpendapat cara ini diyakini bisa menambah aliran pendapatan. 

Sebagai gambaran, pendapatan SCMA di segmen digital hanya 6,1% pada kuartal I-2021. Tapi pada kuartal III-2021, kontribusinya mencapai 16%. Pada tahun ini, Christine memperkirakan, porsi pendapatan digital SCMA bisa mencapai 18% dan akan kembali naik lagi pada 2023. 

Kontribusi segmen digital milik MNCN pun meningkat pesat. Jika pada kuartal I-2019 hanya 7,1%, pada tahun 2022, hitungan Christine, jadi 25%. 

Analis BRI Danareksa Sekuritas Andreas Kenny juga memperkirakan, kinerja MNCN dan SCMA bisa tumbuh dua digit pada tahun ini. Kedua emiten media ini tengah fokus pada bisnis digital. Seiring dengan itu, ada penambahan biaya untuk memperkuat bisnis digital. 

Baca Juga: Prospek Menarik, Simak Rekomendasi Saham untuk MNCN dan SCMA Berikut Ini

SCMA, melalui Vidio.com, menargetkan memperoleh pelanggan sebanyak 4 juta. Sementara itu, MNCN telah memutuskan konsolidasi aset digital MNC Media di bawah PT MNC Studios International Tbk (MSIN). 

Ekspansi emiten

Aksi korporasi MSIN berupa konsolidasi aset ini mencakup akuisisi 99,99% saham PT MNC Digital Indonesia dari MNCN. Kemudian, akuisisi 99,99% saham PT MNC Portal Indonesia dari MNCN. 

Pada tahun ini, MNCN juga memonetisasi konten internal melalui iklan kreatif dengan meningkatkan penyiaran konten siaran lokal dibanding asing hingga mendekati rasio 90%:10% dibandingkan sebelumnya sekitar 80%:20% pada tahun 2021.

Sementara untuk SCMA, sambung Andreas, emiten ini akan menghabiskan modal US$ 150 juta untuk lebih banyak melakukan pemasaran dan menghasilkan konten asli. Jumlahnya mencapai 455 jam tayang konten baru dibanding 300 jam tayang di 2021. 

Baca Juga: ARA Berkali-Kali, Investor Kakap Lego 516,58 Juta Saham NETV di Bawah Harga Pasar

Dengan demikian, Andreas menyebut, biaya program SCMA juga akan meningkat untuk tahun ini, sehingga menurunkan margin konsolidasi SCMA. "Target pada tahun ini adalah 4 juta langganan berbayar, atau dua kali lipat dari 2021," ujar dia.

Christine juga berharap, harga komoditas bakal lebih stabil. Pasalnya, menurut dia, kenaikan harga komoditas seperti CPO justru berimbas negatif untuk emiten media. 

Kenaikan harga CPO berpotensi meningkatkan biaya bahan baku fast moving consumer goods (FMCG). Efeknya belanja iklan dari perusahaan yang bergerak di sektor FMCG berpotensi terpangkas. Sekadar mengingatkan, perusahaan sektor FMCG merupakan kontributor iklan terbesar bagi media.

Andreas menyebut, kontribusi belanja iklan dari FMCG konsisten sebesar 64,2% dalam tiga tahun terakhir. Sisanya berasal dari non FMCG. 

Analis Kanaka Hita Solvera William Wibowo menilai, upaya emiten media merambah ke bisnis digital menjadi katalis sangat positif untuk saham emiten media. Ia bilang, apabila ekspansi ke dunia digital ini berhasil, maka kinerja emiten digital akan semakin menarik bagi investor. 

Andreas memasang rating overweight bagi saham sektor media. Christine memberi rekomendasi netral.

Baca Juga: Menakar Prospek Saham Emiten Media NETV, SCMA dan MNCN pada 2022

Bagikan

Berita Terbaru

Prospek Ultrajaya (ULTJ) Diadang Rencana Pemberlakuan Tarif Cukai
| Minggu, 08 Februari 2026 | 11:24 WIB

Prospek Ultrajaya (ULTJ) Diadang Rencana Pemberlakuan Tarif Cukai

 Pemerintah berencana menerapkan pungutan cukai untuk produk minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) di tahun ini.

Masih Disetir Faktor Global, IHSG Anjlok 4,73% Dalam Sepekan
| Minggu, 08 Februari 2026 | 11:19 WIB

Masih Disetir Faktor Global, IHSG Anjlok 4,73% Dalam Sepekan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 2,08% ke 7.935,26 pada Jumat (6/2). Koreksi ini menambah pelemahan IHSG 4,73% dalam sepekan. ​

OJK Berharap Aliran Dana Mengucur Deras ke BEI
| Minggu, 08 Februari 2026 | 11:13 WIB

OJK Berharap Aliran Dana Mengucur Deras ke BEI

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan penghimpunan dana di pasar modal di tahun 2026 bisa tembus Rp 250 triliun.

Biar Biaya Subscription Tak Bikin Dompet Jebol
| Minggu, 08 Februari 2026 | 10:00 WIB

Biar Biaya Subscription Tak Bikin Dompet Jebol

Meski kecil, biaya subscription rupanya bisa berdampak ke keuangan. Simak cara mengatasinya!        

Kinerja Obligasi Berisiko Volatil Jangka Pendek, Selektif Pilih Tenor SUN
| Minggu, 08 Februari 2026 | 09:00 WIB

Kinerja Obligasi Berisiko Volatil Jangka Pendek, Selektif Pilih Tenor SUN

Sikap Moody's Ratings mengubah prospek peringkat Pemerintah Indonesia, menambah sentimen negatif di pasar obligasi. Masih layak beli?

Susun Strategi Biar Botol Tak Mencemari Lingkungan
| Minggu, 08 Februari 2026 | 07:05 WIB

Susun Strategi Biar Botol Tak Mencemari Lingkungan

Kebijakan Bali yang membatasi ukuran botol AMDK menjadi ujian bagi industri, dan mendorong CLEO membuktikan komitmennya.

Laju Penjualan Sepeda Motor Listrik Tak Lagi Menderu
| Minggu, 08 Februari 2026 | 06:15 WIB

Laju Penjualan Sepeda Motor Listrik Tak Lagi Menderu

Kepastian absennya subsidi sepeda motor listrik membuat pasar bergerak tanpa insentif. Bagaimana strategi produsen?

 
Rupiah dalam Sepekan Tertekan Sentimen Domestik dan Global
| Minggu, 08 Februari 2026 | 06:10 WIB

Rupiah dalam Sepekan Tertekan Sentimen Domestik dan Global

Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,20% secara harian ke Rp 16.876 per dolar AS. Dalam sepekan, rupiah melemah 0,53%. 

Tips Jordan Simanjuntak, CMO Triv untuk Investor Kripto Pemula
| Minggu, 08 Februari 2026 | 06:00 WIB

Tips Jordan Simanjuntak, CMO Triv untuk Investor Kripto Pemula

Perjalanan karier membawa Jordan Simanjuntak, Chief Marketing Officer Triv ini berinvestasi di aset kripto

Modal Jajanan Pasar: Rp3 Juta Hasilkan Omzet Menggiurkan!
| Minggu, 08 Februari 2026 | 05:15 WIB

Modal Jajanan Pasar: Rp3 Juta Hasilkan Omzet Menggiurkan!

Dengan harga terjangkau, cita rasa lokal, dan bisa dinikmati siapa saja, usaha jajanan pasar menawarkan peluang yang men

INDEKS BERITA