BUMI Paling Seksi di Grup Bakrie

Selasa, 02 April 2019 | 06:35 WIB
BUMI Paling Seksi di Grup Bakrie
[]
Reporter: Yoliawan H | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dua emiten dari Grup Bakrie, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) telah merilis laporan keuangan 2018. Kinerja kedua emiten ini masih dalam tekanan​.

BUMI mencatat laba bersih 2018 sebesar US$ 220,41 juta. Realisasi ini merosot dalam jika dibandingkan dengan laba bersih 2017, yakni sebesar US$ 373,25 juta.

Tetapi, Direktur BUMI Dileep Srivastava menjelaskan, kinerja 2017 memasukkan amnesti pajak dan keuntungan revaluasi aset yang mencapai US$ 740,38 juta. Jika faktor ini dikeluarkan, BUMI sebenarnya memiliki laba inti US$ 128 juta, naik 7% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski turun, penjualan juga masih sesuai harapan. Menurut Dileep, secara keseluruhan, penjualan BUMI di 2018 sebesar 80,6 juta ton, turun 4%. Produksi masih cukup stabil di level 83,3 juta ton, meski turun 0,47% .

Salah satu penyebab produksi turun adalah curah hujan yang tinggi hingga mengganggu produksi. Juga pembatasan impor batubara China di kuartal IV-2018 serta perlambatan impor batubara di India, jelas Dileep Senin (1/4).

Sedang BNBR mencatatkan pertumbuhan pendapatan 35,83% year on year menjadi Rp 3,34 triliun. Namun, holding Grup Bakrie ini masih mencetak rugi bersih sebesar Rp 1,26 triliun, akibat biaya beban tinggi.

BNBR dan BUMI kini masih terus merestrukturisasi utang. Nilainya masing-masing Rp 7,8 triliun untuk BNBR dan US$ 200 juta-US$ 250 juta untuk BUMI.

Untuk mengurangi eksposur eksternal, tahun ini BUMI akan memaksimalkan penjualan domestik dan membatasi ekspor. Perusahaan ini juga mengontrol produksi sekaligus menjaga persediaan agar pasokan tak berlebih. Ini untuk menjaga pasokan selama musim hujan ketika produksi biasanya turun dan merealisasikan harga batubara yang lebih tinggi karena pasar China dan India akan normal lagi, ujar Dileep.

BUMI menargetkan produksi batubara bisa berada di rentang 88 juta ton–90 juta ton. Harga ditargetkan sekitar US$ 56 per ton.

Analis Panin Sekuritas William Hartanto melihat, harga komoditas cukup mempengaruhi kinerja emiten Grup Bakrie. Selain BUMI, ada PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk (UNSP) yang bergantung pada harga CPO.

Di tiga bulan pertama 2019, harga komoditas masih lesu. Harga batubara internasional tercatat merosot 13%, sedang CPO merosot 2,73% di kuartal I-2019. "Jika hanya mengandalkan sentimen komoditas, kelihatannya kurang menolong, ujar William. Dia merekomendasikan investor wait and see atas saham-saham emiten Grup Bakrie.

Analis Kresna Sekuritas Robertus Hardy masih merekomendasikan beli saham BUMI dengan target harga Rp 400 per saham. Menurut dia, dari sisi laba inti, kinerja BUMI positif.

Harga BUMI kemarin turun 0,81% jadi Rp 1,22 per saham. Tetapi, sepanjang kuartal pertama, harganya naik 19,42%. Tahun ini, kami memprediksi laba bersih BUMI tumbuh 17%, tulis Robertus dalam risetnya.

Bagikan

Berita Terbaru

Tanpa Insentif, Bisnis Kredit Motor Listrik Terancam Melambat
| Sabtu, 14 Februari 2026 | 05:15 WIB

Tanpa Insentif, Bisnis Kredit Motor Listrik Terancam Melambat

Pemerintah tak memperpanjang subsidi sebesar Rp 7,5 juta untuk pembelian sepeda motor listrik mulai tahun ini. 

Perbankan Makin Ekspansif Menggenjot Kredit Hijau
| Sabtu, 14 Februari 2026 | 04:45 WIB

Perbankan Makin Ekspansif Menggenjot Kredit Hijau

Kredit hijau tumbuh puluhan persen di bank besar Indonesia yang merupakan strategi jangka panjang perbankan.

Harga Bitcoin Rontok 29%, Deleveraging Pemicu Utama Koreksi
| Jumat, 13 Februari 2026 | 21:51 WIB

Harga Bitcoin Rontok 29%, Deleveraging Pemicu Utama Koreksi

Bitcoin terkoreksi hampir 30% dalam sebulan, bukan fundamental. Aksi deleveraging picu penurunan harga.

Anomali INDF: Asing Jual Tapi Analis Serukan Beli, Ada Apa?
| Jumat, 13 Februari 2026 | 18:49 WIB

Anomali INDF: Asing Jual Tapi Analis Serukan Beli, Ada Apa?

Penurunan harga saham INDF akibat MSCI disebut momen diskon. Analis sebut ini peluang akumulasi jangka panjang, bukan karena fundamental.

KIJA Catat Rekor Penjualan Tertinggi: Investor Asing Dominasi!
| Jumat, 13 Februari 2026 | 18:35 WIB

KIJA Catat Rekor Penjualan Tertinggi: Investor Asing Dominasi!

Marketing sales KIJA tembus Rp 3,6 T di 2025, rekor tertinggi sepanjang sejarah. Investor asing dominasi penjualan lahan. Simak rinciannya!

Kawasan Industri Tumbuh Pesat, Permintaan hunian semakin Terpusat
| Jumat, 13 Februari 2026 | 15:31 WIB

Kawasan Industri Tumbuh Pesat, Permintaan hunian semakin Terpusat

Sepanjang periode Juli hingga Desember 2025, rata-rata perubahan penambahan inventori rumah baru bulanan mengalami penurunan sebesar 14%.

Direktur Utama INA Ridha Wirakusumah Purnatugas, Eddy Porwanto Jabat Plt
| Jumat, 13 Februari 2026 | 11:41 WIB

Direktur Utama INA Ridha Wirakusumah Purnatugas, Eddy Porwanto Jabat Plt

Sebagai pengganti Ridha, Eddy Porwanto yang kini menjabat Chief Financial Officer (CFO) INA ditugaskan menjadi Pelaksana Tugas (Plt) INA.

Saham ARCI Tersulut Kenaikan Harga Emas dan Perbaikan Operasi
| Jumat, 13 Februari 2026 | 10:00 WIB

Saham ARCI Tersulut Kenaikan Harga Emas dan Perbaikan Operasi

PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) diproyeksikan akan mencatatkan peningkatan produksi emas pada tahun ini, ditopang katalis Pit Kopra serta Pit Askar.

EDGE Bakal Go Private, Saham Kurang Likuid Tapi Kinerja Keuangan Terus Membaik
| Jumat, 13 Februari 2026 | 09:09 WIB

EDGE Bakal Go Private, Saham Kurang Likuid Tapi Kinerja Keuangan Terus Membaik

Emiten data center PT Indointernet Tbk (EDGE) memutuskan untuk delisting sukarela meski baru lima tahun tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Stok Kedelai Diproyeksikan Aman Hingga Akhir Maret Tahun Ini
| Jumat, 13 Februari 2026 | 07:56 WIB

Stok Kedelai Diproyeksikan Aman Hingga Akhir Maret Tahun Ini

Berdasarkan neraca pangan hingga akhir Maret 2026, ketersediaan kedelai nasional tercatat sekitar 629.000 ton,

INDEKS BERITA

Terpopuler