Bunga Rendah, Obligasi Jadi Pilihan Pendanaan Para Emiten

Senin, 21 Februari 2022 | 04:50 WIB
Bunga Rendah, Obligasi Jadi Pilihan Pendanaan Para Emiten
[]
Reporter: Nur Qolbi | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Surat utang masih menjadi salah satu sumber pendanaan favorit para emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sejak awal tahun 2022 sampai dengan Jumat (18/2), BEI sudah mencatatkan tujuh emisi surat utang dengan total nilai Rp 5,11 triliun.

Jumlah ini memang lebih kecil dibanding dengan penerbitan surat utang di periode yang sama tahun lalu. Berdasarkan Statistik Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan, di 2021 lalu, per 19 Februari, emisi penerbitan obligasi dan sukuk korporasi mencapai Rp 8,11 triliun.

Dalam waktu dekat, ada beberapa emiten lagi yang akan menerbitkan obligasi dan sukuk dengan nilai emisi tergolong jumbo. Sebut saja PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) yang akan menawarkan obligasi senilai Rp 2,2 triliun. 

Baca Juga: Penerbitan Obligasi di Awal 2022 Ramai, Berikut Faktor Pendorongnya

Lalu ada PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) yang merilis obligasi senilai Rp 1,4 triliun dan PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) yang akan menerbitkan obligasi dan sukuk dengan nilai Rp 830,5 miliar.

Head of Fixed Income Sucorinvest Asset Management Dimas Yusuf menilai, ramainya penerbitan obligasi dan sukuk di awal 2022 ini juga terkait ekspektasi kenaikan suku bunga. Banyak emiten menerbitkan surat utang memanfaatkan suku bunga yang masih rendah. Cuma, nilai penerbitan kecil. 

Sebab, emiten mengantisipasi peningkatan biaya dana alias cost of fund seiring potensi kenaikan suku bunga acuan dalam waktu dekat. "Emiten yakin suku bunga dapat naik, jadi mereka dapat menghemat cost of fund yang sangat berarti bagi bottom line" terang Dimas, Minggu (20/2).

Tetap jadi buruan

Penerbitan surat utang masih ramai juga karena membaiknya prospek bisnis di berbagai sektor. Ini membuat perusahaan mencari dana tambahan untuk mendorong kinerja.

Obligasi juga masih menjadi pilihan favorit karena tingkat likuiditas di pasar sangat tinggi. Alhasil, emiten dapat meminimalkan risiko undersubscribed.

Dimas menilai, pelaku pasar juga masih terlihat antusias menyikapi penerbitan obligasi korporasi, meskipun bunga rendah. "Dengan hasil investasi para investor bank yang terus turun, obligasi korporasi yang berkualitas masih terus diburu," ucap Dimas.

Baca Juga: Beberapa Emiten Ini Bersiap Menerbitkan Obligasi dengan Nilai Jumbo

Secara teoritis, yield obligasi dapat meningkat dan harga obligasi akan turun dari posisi sekarang, karena kenaikan suku bunga acuan. Jadi pelaku pasar harus siap menghadapi potensi koreksi harga obligasi, meski koreksi cenderung terbatas. Namun di sisi lain, real yield Indonesia masih tinggi dibandingkan negara emerging market lainnya, sehingga obligasi masih menarik.      

Bagikan

Berita Terbaru

Free Float Naik ke 15%, Emiten yang Tak Butuh Pendanaan Pasar Modal bisa Go Private?
| Senin, 09 Februari 2026 | 08:00 WIB

Free Float Naik ke 15%, Emiten yang Tak Butuh Pendanaan Pasar Modal bisa Go Private?

Di rancangan peraturan terbaru, besaran free float dibedakan berdasarkan nilai kapitalisasi saham calon emiten sebelum tanggal pencatatan.

Menakar Daya Tarik Obligasi ESG: Menimbang Return dan Feel Good
| Senin, 09 Februari 2026 | 07:31 WIB

Menakar Daya Tarik Obligasi ESG: Menimbang Return dan Feel Good

Obligasi bertema ESG dan keberlanjutan akan meramaikan penerbitan surat utang di 2026. Bagaimana menakar daya tariknya?

Dharma Polimetal (DRMA) Produksi Baterai Motor Listrik
| Senin, 09 Februari 2026 | 07:29 WIB

Dharma Polimetal (DRMA) Produksi Baterai Motor Listrik

Strategi tersebut ditempuh melalui penguatan kapabilitas manufaktur, diversifikasi produk bernilai tambah, serta integrasi ekosistem bisnis.

Pebisnis Minta Kepastian Izin Impor Daging Sapi
| Senin, 09 Februari 2026 | 07:23 WIB

Pebisnis Minta Kepastian Izin Impor Daging Sapi

Para pelaku usaha tengah menantikan kepastian izin impor yang belum terbit. Padahal, saat ini sudah melewati waktu proses.

Kebijakan Pemerintah Jadi Sorotan, Dampak Buruknya ke Pasar SBN
| Senin, 09 Februari 2026 | 06:50 WIB

Kebijakan Pemerintah Jadi Sorotan, Dampak Buruknya ke Pasar SBN

Investor asing mencatat jual neto Rp 2,77 triliun di SBN. Tekanan jual ini diprediksi berlanjut hingga Kuartal I 2026. Pahami risikonya.

Prospek Kredit Perbankan Akan Lebih Bergairah
| Senin, 09 Februari 2026 | 06:30 WIB

Prospek Kredit Perbankan Akan Lebih Bergairah

​Didorong penurunan suku bunga dan program pemerintah, OJK dan BI memproyeksikan kredit perbankan tumbuh hingga dua digit tahun ini,

Nasib Rupiah Awal Pekan: Tertekan Isu Domestik & Global
| Senin, 09 Februari 2026 | 06:15 WIB

Nasib Rupiah Awal Pekan: Tertekan Isu Domestik & Global

Rupiah melemah hingga 16.887 per dolar AS. Cari tahu alasan di balik tekanan Moodys dan data ketenagakerjaan AS yang memicu gejolak

Korupsi Pajak
| Senin, 09 Februari 2026 | 06:10 WIB

Korupsi Pajak

Membersihkan institusi perpajakan bukan sekadar agenda antikorupsi, melainkan prasyarat menjaga kepercayaan pasar.

Peringatan Beruntun dari Lembaga Asing Jadi Tekanan IHSG Pekan Ini
| Senin, 09 Februari 2026 | 06:05 WIB

Peringatan Beruntun dari Lembaga Asing Jadi Tekanan IHSG Pekan Ini

Penurunan peringkat IHSG memperkuat persepsi bahwa daya tarik pasar domestik di mata investor global sedang menurun

Saham Poultry: Momentum Ramadan Dongkrak Laba, Tapi Ada Ancaman!
| Senin, 09 Februari 2026 | 06:00 WIB

Saham Poultry: Momentum Ramadan Dongkrak Laba, Tapi Ada Ancaman!

Permintaan tinggi saat Ramadan diprediksi untungkan emiten unggas. Namun, kenaikan harga bungkil kedelai dan kebijakan impor baru jadi tantangan

INDEKS BERITA

Terpopuler