Buntut Geger MSCI

Selasa, 20 Oktober 2026 | 06:10 WIB
Buntut Geger MSCI
[ILUSTRASI. TAJUK - R Cipta Wahyana (KONTAN/Indra Surya)]
Cipta Wahyana | Senior Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pekerjaan Menteri Keuangan menjaga anggaran negara kian berat menjelang akhir 2026. Tekanan terbaru datang dari kurs rupiah terhadap dollar AS yang kembali loyo. Geger ancaman perubahan status bursa saham Indonesia dari MSCI telah memicu aksi jual investor asing. Ujungnya, kurs rupiah bertengger di kisaran Rp 18.000 per dollar sejak akhir pekan lalu. 

Peristiwa ini terjadi di saat harga minyak mentah dunia juga kembali terbang tinggi, bahkan minyak brent mendekati US$ 110 per barel. Kombinasi harga yang mahal dan kurs rupiah yang lemah itu bisa dipastikan akan membuat ongkos impor minyak mentah melonjak. 

Bisa ditebak, ujungnya, biaya subsidi BBM bakal ikut membengkak. Sebab, pagi-pagi, pemerintah sudah berjanji tak akan mengerek harga BBM bersubsidi hingga akhir 2026. 

Sebagai catatan, hingga September saja, rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) mencapai US$ 91,86 per barel; jauh di atas asumsi APBN US$ 70 dan melampaui outlook US$ 83. Analisis sensitivitas bujet pemerintah mengungkap: setiap kenaikan harga minyak US$ 1 per barel menambah defisit sekitar Rp 6,8 triliun. Sementara itu, pelemahan rupiah Rp 100 per dollar AS menambah defisit Rp 800 miliar.

Potensi tekanan lain juga berasal dari pasar surat utang. Tren kenaikan bunga global telah membuat tingkat imbal hasil (yield) surat berharga negara terus meningkat. Kondisi ini akan membuat beban bunga penerbitan utang baru makin tinggi. 

Menyimak perkembangan baru harga minyak mentah, pelemahan kurs rupiah, dan juga kenaikan yield SBN, pemerintah perlu kembali menguji kemampuan anggaran dalam menanggung rencana belanjanya. Idealnya, belanja non produktif dan tak prioritas harus ditunda. Selain itu, subsidi juga harus makin tepat sasaran. Hanya dengan cara itu, anggaran tidak jebol (melampaui batas defisit 3% dari PDB) hingga akhir tahun nanti. 

Satu hal lain, pemerintah juga perlu mencermati risiko krisis fiskal di level daerah. Temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang menyebut 198 pemda memiliki SiLPA di bawah kewajiban jangka pendek menuntut pembenahan kas. Tentu, ruang fiskal pusat yang menyempit akan membatasi kemampuannya untuk membantu daerah.

Sejalan dengan semua upaya itu, yang paling mendasar, pemerintah juga perlu menjaga kredibilitas kebijakannya. Tidak ada tempat lagi bagi lontaran ide-ide kebijakan baru berskala besar yang sulit dipahami logika ekonominya.

Bagikan

Berita Terbaru

Dua Inisiatif Lagi Demi Merayu MSCI
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 07:49 WIB

Dua Inisiatif Lagi Demi Merayu MSCI

Inisiatif tersebut ialah menambah informasi status afiliasi pemegang saham dengan kepemilikan 1% dan mengeluarkan saham HSC dari perhitungan IHSG.

Terhadang Kebijakan Tarif di AS, WOOD Membidik Pelanggan Furnitur dari Eropa
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 07:41 WIB

Terhadang Kebijakan Tarif di AS, WOOD Membidik Pelanggan Furnitur dari Eropa

Untuk menjangkau pelanggan yang lebih luas, PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD) melakukan diversifikasi.

Waspada Kemampuan Bayar Utang Pemda
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 07:39 WIB

Waspada Kemampuan Bayar Utang Pemda

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan 198 pemda atau 36,26% di 2025, berpotensi menghadapi kesulitan pembayaran utang jangka pendek

Siantar Top (STTP) Membidik Pertumbuhan Dua Digit di 2026
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 07:38 WIB

Siantar Top (STTP) Membidik Pertumbuhan Dua Digit di 2026

PT Siantar Top Tbk (STTP) memperluas pasar ekspor dan mengincar pertumbuhan lebih kencang pada tahun ini

43 Saham Indonesia Masih Bertahan di Indeks MSCI, AVIA dan MAPI Rawan Dievaluasi
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 07:37 WIB

43 Saham Indonesia Masih Bertahan di Indeks MSCI, AVIA dan MAPI Rawan Dievaluasi

Saham dengan volatilitas tinggi berpotensi menghadapi tekanan lebih besar ketika investor asing mengurangi eksposur terhadap pasar Indonesia.

Investasi Sulit Melaju Lebih Kencang
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 07:28 WIB

Investasi Sulit Melaju Lebih Kencang

 Realisasi investasi pada kuartal III-2026 masih tumbuh di kisaran 7% secara tahunan                

Pasokan Gas Industri Masih Jadi Polemik
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 06:36 WIB

Pasokan Gas Industri Masih Jadi Polemik

Pembatasan pasokan gas industri mulai berdampak pada sektor industri. Industri keramik, misalnya, memangkas produksi hingga 50%.

Rupiah pada Selasa (20/10) Masih Akan Tertekan
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 06:30 WIB

Rupiah pada Selasa (20/10) Masih Akan Tertekan

Rupiah di pasar spot ditutup melemah -0,11% secara harian ke level Rp 18.046 per dolar Amerika Serikat (AS) pada  Senin (19/10)

Harga Minyak Memanas, Prospek MEDC Makin Ngegas
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 06:27 WIB

Harga Minyak Memanas, Prospek MEDC Makin Ngegas

Tren kenaikan harga minyak mentah dunia masih terus berlanjut seiring memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah

EMAS Percepat Pembangunan Fasilitas Pengolahan Emas
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 06:25 WIB

EMAS Percepat Pembangunan Fasilitas Pengolahan Emas

PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) berupaya mengakselerasi proyek Tambang Emas Pani dengan menambah fasilitas Carbon-in-Leach (CIL) menjadi dua

INDEKS BERITA

Terpopuler