Cabai Rawit Mini dari Flores, Si Pedas yang Belum Banyak Dikenal di Indonesia

Minggu, 06 Juni 2021 | 08:15 WIB
 Cabai Rawit Mini dari Flores, Si Pedas yang Belum Banyak Dikenal di Indonesia
[]
Reporter: Sumber: Tabloid Kontan | Editor: Hendrika

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meski mini, cabai flores termasuk sangat pedas. Tapi tingkat kepedasannya masih berkisar antara 50.000100.000 Skala Kepedasan Scoville (SHU); sama dengan cabai rawit lain. Cabai flores termasuk jenis cabai rawit, salah satu kultivar Camsicum annuum.

Di pasar kota Pulau Flores, yang tampak dominan hanya cabai flores. Di pasar kota kecamatan, malah hanya ada cabai flores. Kecuali di Labuan Bajo, cabai keriting, cabai besar dan cabai rawit biasa bisa dijumpai. Yang disebut cabai flores, sebenarnya cabai rawit biasa, ukurannya separo dari cabai rawit hijau. Cabai flores selalu dipetik setelah merah; seperti halnya cabai rawit merah di Pulau Jawa. Pemanfaatan cabai flores untuk dimasak, bukan untuk lalap seperti cabai rawit hijau.

Cabai flores bukan jenis cabai asli dari Pulau Flores. Semua jenis cabai (genus Capsicum) berasal dari Amerika Tropis. Termasuk cabai habanero, Capsicum chinense. Nama Capsicum chinense diberikan oleh ahli botani Belanda Nikolaus Jacquin, tahun 1776.

Jacquin mengambil spesimen cabai habanero dari Kepulauan Karibia. Karena pernah menyantap masakan Tionghoa yang pedas, Jacquin mengira cabai habanero berasal dari China, hingga ia memberi nama Capsicum chinense. Meski para ahli botani tahu bahwa Jacquin salah, nama Capsicum chinense tetap digunakan sampai sekarang. Sama dengan nama cabai flores, yang juga tetap digunakan meskipun cabai ini bukan berasal dari sana.

Cabai rawit mini, sebenarnya juga ada di Filipina, Mozambik dan Angola. Dua negara Afrika ini bekas jajahan Portugis. Mutasi cabai rawit jadi berukuran mini, konon terjadi di Angola, lalu menyebar ke Mozambik, Filipina dan Flores.

Ukuran cabai dari Angola, sedikit lebih kecil dibanding cabai flores. Beda ukuran ini mungkin dipengaruhi oleh faktor agroklimat, terutama suhu dan kelembapan udara, ketersediaan air serta intensitas sinar matahari. Selain berpengaruh terhadap ukuran cabai, faktor agroklimat juga jadi penentu tingkat kepedasan. Cabai flores yang ditanam di Jawa Barat, jadi sedikit lebih besar sekaligus juga kurang pedas.

Rasa pedas cabai, disebabkan oleh Capsaicin (8-methyl-N-vanillyl-6-nonenamide, C18H27NO3). Capsaicin bukan hanya bermanfaat menambah kelezatan makanan, melainkan menekan pertumbuhan bakteri patogen (penyebab penyakit) dalam organ pencernaan. Fungsi ini secara bersama dijalankan semua bumbu, mulai bawang merah/putih, lada, pala, cengkih, kayu manis, kapulaga, daun salam, daun jeruk, sereh, lengkuas, kunyit, kencur, jahe. Mereka yang tak suka menyantap masakan dengan bumbu lengkap, biasanya mudah terserang gangguan organ pencernaan.

Jenis cabai

Tahun 1753 Carl Linnaeus (1707-1778), mengira cabai rawit beda dengan cabai besar. Karenanya ia memberi nama Capsicum frutescens untuk cabai rawit, dan Capsicum annuum untuk cabai besar. Hasil penelitian genetik dekade 1990, menunjukkan jumlah dan susunan kromosom cabai rawit sama dengan cabai besar. Maka sejak 2012, nama botani cabai rawit berubah menjadi Capsicum annuum. Nama Capsicum frutescens dianggap sebagai salah satu sinonim dari Capsicum annuum. Hingga penampilan, warna dan rasa cabai Capsicum annuum sangat beragam yakni dari paprika, cabai besar, cabai keriting, cabai rawit; semua masih spesies Capsicum annuum.

Beda dengan kultivar cabai lain, paprika berbentuk seperti lonceng, hingga dalam Bahasa Inggris disebut bell pepper. Paprika berasa manis, bukan pedas, hingga dikonsumsi sebagai sayuran. Harga paprika paling mahal dibanding jenis cabai lain, dan hanya kalah dari cabai rawit merah.

Cabai merah besar, di Indonesia dikenal dengan nama cabai TW (Taiwan), karena benihnya dari Taiwan. Jenis cabai ini tidak sepedas cabai keriting. Masih ada manisnya, tetapi tidak semanis paprika. Harga cabai merah besar sedikit di bawah harga paprika. Saat ini di Indonesia cabai keriting paling banyak dibudidayakan. Disebut cabai keriting karena bentuknya memanjang dan terpilin.

Cabai keriting lebih pedas dari cabai merah besar, tetapi kalah pedas dari cabai rawit. Harga cabai keriting juga paling murah dibanding jenis cabai lain.

Sentra cabai keriting terbesar di Indonesia di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Sentra cabai keriting ini sekaligus juga merupakan sentra bawang merah. Sebab umur panen bawang merah di Brebes, hanya 55 sampai dengan 60 hari. Maka di sela-sela tanaman bawang merah, diselipkan benih cabai keriting. Panen bawang merah, sekaligus juga menyiangi dan membumbun cabai keriting, yang baru akan mulai panen pada umur 90 hari. Panen akan berlanjut sampai 150 hari. Petani Brebes hanya menanam cabai dan bawang merah pada musim kemarau.

Pada musim penghujan, konsumen mengandalkan cabai keriting produksi lahan darat di kawasan pegunungan. Biasanya, para petani menanam cabai keriting dan merah besar selama musim penghujan, dengan sungkup plastik, agar terhindar dari penyakit.

Harga cabai keriting selama musim penghujan pasti naik, karena pasokan berkurang, dan kualitas cabai keriting lahan darat lebih tinggi dibanding cabai keriting sawah dari Brebes. Cabai keriting kerinci dan aceh yang terkenal pedas, dibudidayakan di lahan darat selama musim penghujan dengan benih F1, lokal maupun impor. Sedangkan para petani cabai Brebes, umumnya menggunakan benih F2 atau F3 produksi sendiri.

Di Indonesia dikenal dua jenis cabai rawit. Pertama cabai rawit hijau, setelah masak, cabai rawit hijau akan berwarna merah. Kedua cabai rawit merah. Di Jawa Tengah jenis cabai ini disebut lombok gajih (cabai lemak). Jenis cabai ini menduduki peringkat harga tertinggi dibanding jenis cabai lain.

Cabai flores, masih belum dikenal secara nasional, karena kalah dibanding cabai rawit hijau dan merah.

Bagikan

Berita Terbaru

Daftar Emiten Buyback Saham Usai Efek MSCI, Sekadar Obat Kuat Hadapi Tekanan Asing
| Minggu, 01 Februari 2026 | 10:35 WIB

Daftar Emiten Buyback Saham Usai Efek MSCI, Sekadar Obat Kuat Hadapi Tekanan Asing

Dalam banyak kasus, amunisi buyback emiten sering kali tak cukup besar untuk menyerap tekanan jual saat volume transaksi sedang tinggi-tingginya.

Pola di Saham NCKL Mirip Saham BUMI, Perlukah Investor Ritel Merasa Khawatir?
| Minggu, 01 Februari 2026 | 08:35 WIB

Pola di Saham NCKL Mirip Saham BUMI, Perlukah Investor Ritel Merasa Khawatir?

Periode distribusi yang dilakoni Glencore berlangsung bersamaan dengan rebound harga saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL).

Transparansi Pemilik di Bawah 5%, Kunci Kotak Pandora Dugaan Manipulasi Harga Saham
| Minggu, 01 Februari 2026 | 08:26 WIB

Transparansi Pemilik di Bawah 5%, Kunci Kotak Pandora Dugaan Manipulasi Harga Saham

Transparansi pemegang saham di bawah 5%, titik krusial permasalahan di pasar modal. Kunci kotak pandora yang menjadi perhatian MSCI. 

Strategi Investasi Fajrin Hermansyah, Direktur Sucorinvest Asset Management
| Minggu, 01 Februari 2026 | 07:13 WIB

Strategi Investasi Fajrin Hermansyah, Direktur Sucorinvest Asset Management

Investasi bukan soal siapa tercepat, karena harus ada momentumnya. Jika waktunya dirasa kurang tepat, investor harusnya tak masuk di instrumen itu

Spin-off Unit Syariah Bukan Sekadar Kepatuhan, Struktur Modal BNGA Bakal Lebih Solid
| Minggu, 01 Februari 2026 | 06:58 WIB

Spin-off Unit Syariah Bukan Sekadar Kepatuhan, Struktur Modal BNGA Bakal Lebih Solid

Pemulihan ROE BNGA ke kisaran 12,8% - 13,4% pada 2026–2027 bersifat struktural, bukan semata siklikal.

Diskon Transportasi Belum Cukup Buat Sokong Ekonomi
| Minggu, 01 Februari 2026 | 06:49 WIB

Diskon Transportasi Belum Cukup Buat Sokong Ekonomi

Pemerintah mengusulkan diskon tiket pesawat lebih tinggi dari periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) tahun lalu yang berada di kisaran 13%-16%.

Incar Pertumbuhan, Medco Energi (MEDC) Genjot Produksi Migas dan Listrik
| Minggu, 01 Februari 2026 | 06:39 WIB

Incar Pertumbuhan, Medco Energi (MEDC) Genjot Produksi Migas dan Listrik

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) memasang target kinerja operasional ambisius pada 2026, baik di segmen migas maupun listrik.​

Surplus Neraca Dagang Bakal Menyusut
| Minggu, 01 Februari 2026 | 06:36 WIB

Surplus Neraca Dagang Bakal Menyusut

Kinerja impor bakal tumbuh lebih cepat seiring kebijakan pemerintah yang pro-pertumbuhan dan meningkatkan kebutuhan barang modal serta bahan baku.

Masih Ada Peluang Cuan di Saham Lapis Kedua
| Minggu, 01 Februari 2026 | 06:32 WIB

Masih Ada Peluang Cuan di Saham Lapis Kedua

Menakar prospek saham-saham lapis kedua penghuni indeks SMC Composite di tengah gonjang-ganjing di pasar saham Indonesia.​

BPJS Ketenagakerjaan berencana kerek investasi saham
| Minggu, 01 Februari 2026 | 06:20 WIB

BPJS Ketenagakerjaan berencana kerek investasi saham

Menurut Direktur BPJS Ketenagakerjaan Edwin Ridwan, pihaknya memang sudah punya rencana untuk meningkatkan alokasi investasi di instrumen saham.

INDEKS BERITA

Terpopuler